Kategori: Fiksi

Cerpen Sepanjang Bengawan Membawa Sisa Kenangan


Solopos.com/Newswire

Ning Nong Ning Gung ... Ning Nong Ning Gung ...

Dua puluh lima tahun lalu, kalian pernah dipertemukan dalam permainan nikah-nikahan saat anak-anak. Saat Batara Kamajaya dan Batari Kamaratih ternyata juga ikut dalam permainan. Mereka pakaikan ke kepalamu dan kepalanya mahkota daun nangka yang tersusun melingkar rapi tersambung lidi. Aroma langu segar bunga gumitir yang terselip di telinga menusuk kepala. Roncean biji jali jagung melingkari leher. Kalian berjalan perlahan bergandengan dengan dipayungi daun pisang. Gending Semar Mantu seakan-akan terngiang dalam ingatan.

Ning Nong Ning Gung ... Ning Nong Ning Gung ...

***

Bayang manis wajahnya tiba-tiba koyak saat riak membentur bebatuan. Entah sudah berapa lama engkau menunduk, terduduk di tepian sepanjang aliran. Tapi, tak ada yang lebih menyedihkan dari rindu yang perlahan-lahan tenggelam. Dan di sana, dalam air jernih yang paling dalam, kau hanya ingin melupakan takdir yang tak sepatutnya diramalkan.

Ketakutanmu hanya satu, jika Tuhan telah menulis semua tentang hidupmu dalam sebuah buku, akan seperti apa kau dalam paragraf terakhirmu. Juga bayang-bayang tentang derasnya aliran ke timur dan selatan yang telah membawa serta separuh hatimu.

Lalu siapa yang bisa melenyapkan segala ingatan? Pada sepanjang jalan Pracimantoro hingga Giriwoyo menyusur tepian. Bahkan untuk bunga gumitir yang selalu kau sebar sepanjang aliran cabang sungai Bengawan yang dengan ganas telah melahap tubuhnya dengan perlahan-lahan.

“Dia mati menemui takdirnya sendiri. Tak pernah ada yang mengajaknya. Arus di sungai itu memang deras. Apalagi jika bendungan di hulu waduk Gajah Mungkur tiba-tiba dibuka. Tak ada yang tahu tentang takdir. Tapi Tuhan memberikan seribu jalan menuju kematian.”

Beberapa bunga gumitir masih mengambang lalu memutar-mutar di antara sela-sela pusaran air di tepi bebatuan. Mereka tak ingin pergi. Seperti kenangan tentangnya yang tak pernah terbawa arus, tak pernah hangus.

“Waktu itu ia melihatmu terpeleset dari tepian bebatuan. Kau hanyut. Ia hendak menolongmu. Ia tahu, ada balas budi yang harus dibalas.”

Begitukah untuk urusan nyawa? Harus dibayar tunai saat tahu jika ia juga harus mengorbankan nyawanya sendiri. Bagaimana mungkin kau ada di situ? Padahal di hari kepergiannya, kau tak ada di rumah. Ke luar kota bersama ayahmu demi urusan perdagangan.

Rasanya bayang-bayang bisa saja membawamu dalam kematian.

Kau masih begitu ingat, ketika tiba-tiba sepanjang jalan menuju jalan pulang gerimis terus saja turun. Ia rela melepaskan jaketnya lalu menangkupi pundakmu dengan kain itu. Ia melihatmu gigil. Kalian tak jadi pulang lalu meminggirkan motor ke pinggiran warung. Ia tahu kau begitu suka menyantap tiwul dengan sedapnya besengek sayur tempe kara yang dimasak dengan irisan cabai hijau. Kau tak perlu menunggu lama hingga semua telah terhidang di atas meja dengan dua gelas teh hangat.

“Puluhan buldoser pengangkut pasir di tepian sungai milik bapakmu waktu itu berusaha dipindahkannya. Aliran air dari hulu tiba-tiba meluap. Tapi, aku tak tahu batasan yang pasti tentang hidup dan mati.”

Gemercik air tiba-tiba mengingatkanmu akan ucapan terakhirnya.

“Perlu kau ketahui, ada kebaikan yang harus kubalas. Sampai kapan pun jika nyawaku masih ada, aku akan terus bekerja pada bapakmu. Betapa banyak yang telah dikeluarkan bapakmu hingga aku bisa melanjutkan sekolah di teknik lingkungan. Aku tak mau nanti Tuhan menanyakan utang-utangku di dunia, termasuk ini. Jika nanti kita memang tidak ditakdirkan bersatu lalu aku dipertemukan takdir, bukan berarti semuanya berakhir.”

Kau kembali mengecupnya. Bunga kuning yang pernah ia selipkan di telingamu dulu. Langu segar yang terus menguar. Dan di tepian batu-batu, kau masih ingat pertama kali ia menciummu.

“Tak bisa dibiarkan, ia harus dipisah.”

“Apa maksudmu? Anak-anak kita sudah dewasa Pak, biarkan ia menentukan pilihannya sendiri. Setiap orang punya kebebasan dalam hal apa pun.

Termasuk untuk urusan hati dan perasaan.”

“Menentukan pilihan? Tahu apa kamu soal pilihan. Bocah laki-laki itu tak tahu diri. Sudah kutolong keluarganya dan sekarang minta anak perempuanku satu-satunya? Sialan!”

“Bapak tak tahu seperti apa kekuatan cinta.”

“Omong kosong. Jika daerah ini telah resmi otonomi, calon gubernur muda itu telah meminta izin kepadaku untuk memilikinya. Bagaimana mungkin aku tak memberikannya.”

“Bapak terlalu terbawa emosi. Duduklah. Ada hal lain yang patut kita nilai selain kecukupan harta.”

“Dan untuk ini aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang.”

Sejatinya, sekarang kau hanya ingin ikut tenggelam bersamanya. Demi melenyapkan segala ingatan tentangnya. Kebebasan? Aku rasa Bapak tak paham soal ini. Bapak hanya tahu jika aku akan lebih bahagia dengan pilihannya.

Sejak kapan cinta bisa dipaksakan?

Kau kecup sekali lagi bunga gumitir di tangan. Langit tiba-tiba redup. Bayang wajahmu yang terpantul dalam pusaran air di celah-celah bebatuan tiba-tiba koyak. Sesuatu terjatuh. Bunga gumitir terakhir dalam genggaman itu masuk ke dalamnya. Kau yakin jika hari ini ia akan datang seperti yang telah dijanjikan. Kau berusaha mengambilnya lagi.

Tanganmu tak sampai menjangkau. Bunga itu malah terus berputar-putar di pusaran air. Terbentur lalu mengikuti aliran arus air. Dengan susah payah, kau berjalan dan berpegangan pada batu-batu licin demi mengambil bunga itu kembali. Tanganmu gemetar, lemas, dan tiba-tiba langit benar-benar redup. Menghitam. Lalu menutup seluruh penglihatan.

Antara sadar dan tidak, kau masih melihat kuning bunga gumitir itu berputar-putar di depan bibirmu. Tubuhmu menggigil. Tanganmu berusaha menjangkau tepi-tepi bebatuan. Arus yang deras terus membawa tubuhmu, membentur bebatuan. Ada rasa asin dan anyir di bibir ketika kau merasakan ada yang mengalir dari ujung kepala. Keningmu berdarah. Tapi, di lubuk hati yang paling dalam, kau hanya ingin benar-benar tenggelam. Demi melenyapkan segala ingatan.

Bagaimana mungkin bapak menyimpan sebuah rahasia demi melenyapkannya. Membawanya dalam petaka yang membuatnya tenggelam, hanyut, lalu perlahan menggantung dalam ingatan.

Kali ini, tubuhmu benar-benar kaku. Dulu, tubuh kekasihmu menghilang ditelan derasnya arus Bengawan saat senja. Saat langit benar-benar redup. Dan hari ini, kau ingin mengulang cerita yang sama. Kau ingin menyusulnya.

Di tepian bebatuan, sebuah tangan tiba-tiba menarik tubuhmu. Kau tersenyum. Kali ini kau benar-benar telah bertemu dengannya. Menggendongmu ke tepian. Bahagia membuncah saat kau benar-benar telah berhasil memeluknya kembali. Melihatnya membalas senyumanmu. Ia meletakkan kepalamu di dadanya lalu menempelkan bibirnya di telingamu. Mengusap-usap keningmu yang kuyup. Dalam gemetar yang sangat, kau mendengar suara lirih itu.

“Sudah kukatakan bukan, jika nyawaku telah dipertemukan takdir bukan berarti semuanya berakhir. Kau harus jadi perempuan yang kuat demi suami dan anak-anakmu kelak. Jika bukan di sini, ada kehidupan abadi yang lebih indah dari ini.”

Aliran air sungai yang kecokelatan mendadak kemerahan. Dalam remang-remang, kau mendengar teriakan orang-orang dari ujung jalan yang kau tak tahu arahnya. Diringi suara serak isak tangis perempuan yang terus berulang dalam sesal yang tertahan.

“Nduk ... Nduk ... Genduk...!”

Dari kejauhan suara itu terus saja berulang. Tapi kau tak pernah ingin menjawabnya, sebab kau tahu, di mata bapak kebebasan hanyalah omong kosong. Bagaimana mungkin kau bisa melihat bekas bakaran kemenyan dengan foto kekasihmu yang terbakar separuh dalam wadah leyeh dengan campuran bunga kantil dan mawar di dalam kamar bapak. Kau sungguh paham, kenapa bapak begitu sayang dengan calon gubernur muda itu. Usaha bapak pernah bentrok dengan pihak AMDAL dan pengurus konservasi alam kabupaten. Tapi bapak tahu bagaimana cara mengatasinya demi terus memuluskan usahanya. Lalu seseorang datang menghalangi segalanya.

Sekarang kau hanya ingin benar-benar ikut pergi bersama kekasihmu. Entah ke mana saja. Kau ingin agar bapak paham, kerakusan akan harta hanya akan melenyapkan segalanya.

 

Dody Widianto

Lahir di Surabaya. Bekerja dan menetap di Depok, Jawa Barat. Karya cerpennya banyak tersebar di berbagai antologi penerbit dan media massa nasional.

Share
Dipublikasikan oleh
Damar Sri Prakoso