CERPEN: Pelukis Bak Truk

Seno memacu skutiknya demikian kencang membelah jalur pantura, sekencang darah yang mengalir di tubuhnya. Malam ini Seno akan menjemput paksa istrinya, walau apa pun yang akan terjadi.
Sejak kecil Seno pandai melukis. Ia sering mendapat order melukis untuk karnaval Agustusan atau melukis dinding sekolah-sekolah yang akan menghadapi akreditasi. Dinding sekolah yang semula kusam, dalam beberapa hari telah semarak oleh lukisan karya Seno.
Lulus SMA, Seno memantapkan diri menjadi pelukis. Ia menjajakan lukisan-lukisannya di teras rumahnya di tepi jalur pantura Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Beberapa lukisannya laku dengan harga tak seberapa, tetapi lebih banyak yang tak laku.
Seno sering duduk termenung menunggu pembeli datang. Ibunya iba melihatnya, lalu menyarankan Seno untuk melukis bak truk. Konon, lumayan menghasilkan uang.
Tak jauh dari rumah Seno ada rumah makan ayam goreng yang tempat parkirnya sangat luas. Banyak truk di sana. Seno ke sana, menawarkan jasa melukis bak truk pada para sopir. Beberapa sopir berminat dan kemudian puas dengan lukisan Seno.
“Mantap kali lukisan kau. Mirip aslinya. Akan kukabarkan pada kawan-kawanku. Siapa nama kau?” komentar seorang sopir truk.
“Murseno, Bang. Panggil saja Seno.”
Begitulah, Seno menjadi pelukis bak truk yang mangkal di pojokan tempat parkir sebuah rumah makan ayam goreng. Di sana pulalah, Seno bertemu dengan Suwariyah, gadis 18 tahun berkulit sawo matang dan rambut panjang berombak.
Tiap pagi, Suwariyah datang mengirim daun singkong ke rumah makan itu. Mereka berkenalan, pacaran, menikah. Dua tahun mereka menunggu anak yang tak kunjung datang. Pertengkaran mulai muncul.
Selain tak kunjung punya anak, pertengkaran juga dipicu karena order melukis yang diterima Seno makin menyusut. Dalam sebulan, hanya satu dua orderan. Para sopir sudah melukiskan bak truk mereka di daerah lain.
Kadang, Seno merasa telah salah menilai Suwariyah. Dulu, ia menyangka Suwariyah wanita sederhana. Sekarang, semua telah terbuka. Suwariyah ingin punya kalung, gelang emas, ponsel mahal, dan barang-barang lain yang tak mungkin terbeli oleh Seno.
“Sabarlah. Nanti kalau order lukisan sudah membaik, akan kubelikan apa maumu,” bujuk Seno berulang-ulang, tiap kali Suwariyah mengulang-ulang keinginannya punya ini itu.
“Sampai kapan, Mas? Apa kamu tidak ingin aku, istrimu ini, memakai pakaian bagus seperti teman-temanku di media sosial?”
“Itu media sosial, Dik. Belum tentu mereka pakai baju milik sendiri. Siapa tahu mereka cuma menyewa?” sahut Seno.
“Kalau begitu kamu sewakan untukku baju-baju mahal, hape-hape bagus, atau kalau perlu sewakan mobil mewah untukku!”
Tentu saja Seno tidak sanggup. Daripada menyewa barang-barang mewah untuk dipamerkan di media sosial, lebih baik ia gunakan uangnya untuk membayar utang di toko cat atau di warung tetangga.
“Kalau kamu nggak sanggup memenuhi keinginanku, biar aku cari sendiri!” tegas Suwariyah menutup pertengkaran, malam itu.
Esok paginya, Seno mencari-mencari tetapi tidak menemukan Suwariyah. Hanya ada sepucuk surat di tempat tidur: Aku pergi, aku bosan miskin!
***
Dua tahun pencarian yang sia-sia. Seno kehilangan jejak Suwariyah. Seno pernah berniat melapor ke polisi, tetapi ibunya mencegah. Seno mengusulkan untuk mencari bantuan melalui media sosial.
“Kamu aturlah, yang penting jangan berurusan dengan polisi,” kata ibu.
Seno mengunggah foto Suwariyah di Facebook. Memohon pada teman-temannya di dunia maya untuk membantu menemukan istrinya. Lalu muncullah komentar itu.
“Istrimu manis dan montok. Kau carilah di GBL atau Sunan Kuning, mungkin dia ada di sana. Hahaha....”
Tiap hari ibu memeriksa ponsel Seno, memantau perkembangan pencarian Suwariyah. Ibu membaca komentar kurang ajar itu. Ibu syok. Berhari-hari terbaring tak berdaya di tempat tidur.
Setiap malam Seno menemani ibu, mencoba menghiburnya, agar wanita tua itu lekas tidur.
“Kalau ayahmu masih hidup, orang itu pasti sudah bonyok dihajar ayahmu,” kata ibu, suatu malam.
“Jangan pikirkan terus komentar itu, Ibu. Itu komentar iseng. Orang itu ada di luar Jawa, kami tak mungkin bertemu, makanya dia berani berkomentar asal-asalan,” sahut Seno.
“Kalau itu benar,” ibu memegang tangan Seno. “Kalau Wari benar ada di tempat itu, apa yang akan kamu lakukan, Seno?”
Seno tercenung sesaat, lalu menjawab tegas, “Seno akan menjemput Wari dari tempat itu, menjemput paksa sekalipun. Bagaimanapun Wari masih istri Seno, Ibu.”
Ibu tersenyum.
“Kamu suami yang baik, Seno. Semoga Allah memberikan hidayah pada istrimu.”
“Amin. Terima kasih, Ibu.”
***
Di kursi pojokan tempat parkir rumah makan, Seno duduk termenung. Lelaki 32 tahun itu baru saja seusai Salat Isya. Wajahnya masih basah oleh sisa air wudu. Matanya menatap nanar pada beberapa mobil di pelataran parkir. Di tempat itulah, dulu, ia sering melihat Suwariyah berjalan gemulai menanting keranjang berisi daun singkong. Oh, di manakah istrinya itu sekarang?
Sebuah colt diesel bercat putih memasuki pelataran parkir. Seorang lelaki bertubuh gempal berkaus tanpa lengan turun dari truk yang tampak masih baru itu. Sebuah tato jangkar tampak di lengan kanannya. Lelaki bertato itu melambai ke arah Seno.
“Kau Seno?” tanya lelaki bertato.
“Benar, Bang.”
“Sudah lama aku dengar nama kau. Baru sekarang kita bisa bertemu.”
“Abang mau saya melukis bak truk abang?” tanya Seno.
Lelaki bertato berjalan ke arah belakang truk, lalu menunjuk pantat bak truk bercat putih polos.
“Kau lukislah pantat bak ini. Butuh berapa lama kau melukis?”
“Tergantung, Bang. Rata-rata dua jam, Bang, biar hasilnya bagus.”
“Dua jam? Okelah. Berapa nomor WA kau. Akan kukirim foto,” kata lelaki bertato.
Seno memberikan nomor ponselnya. Beberapa detik kemudian sebuah foto masuk ke ponselnya. Seno tercengang, matanya seperti mau copot. Di layar ponselnya tampil foto seorang wanita muda berkulit sawo matang dan rambut panjang berombak. Wanita itu hanya mengenakan handuk kuning yang dililitkan sebatas dada. Bagian tubuh yang tak tertutup handuk, tampak mulus dan montok.
“Kau lukislah wanita itu,” kata lelaki bertato.
“Melukis seluruh tubuhnya, Bang?”
“Jangan, aku bisa kena tegur polisi nanti, karena dianggap mengganggu konsentrasi pengendara lain. Kau lukislah sebatas bahu saja. Dan ingat, kau lukislah secantik mungkin.”
Seno berdiri terpaku. Sekujur tubuhnya diserang getar yang mendadak. Foto dalam ponselnya masih ia tatap lekat-lekat.
“Bisa tidak?” tanya lelaki bertato.
“Maaf, Bang,” Seno bertanya hat-hati, mengatur intonasi setenang mungkin, meski dadanya bergejolak. “Kalau boleh tahu, siapa wanita ini, Bang? Cantik sekali.”
Lelaki bertato tertawa mendengar pujian itu. “Dia memang cantik dan montok. Dia laris manis di GBL,” katanya.
“GBL, Bang?”
“Ya. GBL, Gambilangu. Kau harus booking dulu kalau mau pakai dia. Dan aku sudah booking dia besok jam sepuluh. Aku mau bikin kejutan. Aku mau wajah cantiknya ada di bak trukku, sebagai tanda cintaku padanya, hahahaa....” lelaki bertato tertawa, perut buncitnya berguncang.
Getar di tubuh Seno bertambah hebat. Kepalanya seperti mendidih. Ia tatap lekat-lekat lelaki bertato.
“Tidak, Bang!” Seno mematikan ponselnya. “Abang carilah pelukis lain,” Seno berbalik arah meninggalkan lelaki bertato.
“Hei, bagaimana ini?” lelaki bertato berseru, tetapi Seno terus melangkah gegas ke pojokan tempat parkir.
Seno mengenakan jaket merah, helm merah, dan menstarter skutik merahnya, memutar setang gas sepenuh tenaga. Roda depan skutik itu terangkat sesaat.
Seno memacu skutiknya demikian kencang membelah jalur pantura, sekencang darah yang mengalir di tubuhnya. Dengan kecepatan di atas 100 km/jam, dalam 90 menit ke depan Seno akan sampai ke Gambilangu alias GBL, sebuah lokalisasi di Semarang.
Batang, 5 Agustus 2020

*Sulistiyo Suparno, penulis cerpen kelahiran Batang, 9 Mei 1974. Cerpen-cerpennya tersiar di berbagai media cetak dan daring. Pernah pula menerbitkan novel remaja bertajuk Hah! Pacarku? (Elexmedia, 2006) dan beberapa antologi bersama. Bermukim di Limpung, Batang, Jawa Tengah.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom