CERPEN: Karyawan Istimewa

Namanya Gino. Tubuhnya kecil, kurus. Tingginya tidak lebih dari tinggi pohon jagung yang belum berbunga. Giginya tidak rata sedikit maju ke depan tetapi tidak melewati sepasang bibirnya. Gino masih ada hubungan kerabat dengan kepala desa. Sehingga memasukkan Gino ke perusahaan tidak seperti memasukkan benang ke dalam jarum sambil jalan. Memasukkan Gino ke perusahaan seperti menumpahkan air dari teko ke dalam gelas. Tidak perlu banyak tenaga dan pikiran. Gino tak perlu mengisi dompet kepala desa agar dapat satu kursi di perusahaan. Tidak seperti warga desa biasa, berlomba-lomba menyetor upeti agar memperoleh sepucuk surat sakti guna melewati pintu gerbang perusahaan.
Di kala buruh proyek sibuk peras keringat menggali tanah buat fondasi bangunan pabrik, Gino ditugaskan meyakinkan warga desa betapa pentingnya kedudukan pabrik bagi desa di masa depan. Sebagaimana arahan kepala desa dan pemilik pabrik, Gino melarang warga protes ketika jalan desa rusak digilas putaran roda truk yang mengangkut material serta halaman rumah mereka diludahi debu-debu jalanan. Warga desa mesti tutup mulut dan tutup telinga jika terdengar suara dentuman dari tiang-tiang pancang yang dipukul alat berat. Tidak perlu berbusa-busa menyumpal protes warga. Dengan bantuan pemuda karang taruna dan tokoh warga yang lebih dulu ditepuk lembaranrupiah, Gino sukses melaksanakan tugasnya.
Tugas berikutnya, Gino mengawasi proyek pembuatan saluran air di pinggir jalan pabrik yang dikerjakan tokoh warga yang sebelumnya turut serta menutup mulut warga. Tugas mudah. Malah menyenangkan. Tokoh warga yang nyambi jadi kontraktor adalah mantan kepala desa. Di awal-awal mengawasi, Gino disuapi rokok dan kopi. Sepekan kemudian, Gino pulang membawa ikan bakar di gantungan motornya. Ujungnya Gino wajib meninggalkan tanda tangan di surat jalan barang yang harganya lebih mahal dibanding harga pasar. Perlahan-lahan dompet tipis Gino menebal dijejali pembagian selisih harga pasar yang sengaja ditulis tokoh warga. Bisnis tidak baik tapi menguntungkan, batin hati kecilnya. Gino lantas melempar telepon genggam lamanya ditukar keluaran baru.
Melihat pertumbuhan dan aksesori di tubuh Gino, Tuan Foyi sebagai pemilik perusahaan mencium bau bangkai dalam proyeknya. Radar bawah sadarnya bekerja. Tidak mungkin upah Gino dalam waktu singkat sanggup mendaratkan ribuan lemak di tubuhnya. Telepon genggam Gino tiba-tiba raib dan digantikeluaran baru. Jam tangan, sepatu, baju, celana, dan kendaraan roda dua semuanya serba mengilap. Dengan uangnya, Tuan Foyi membeli mata-mata guna mengawasi gerak-gerik karyawan barunya. Terbongkarlah persekongkolan Gino. Dia dan tokoh warga mencuri uang Tuan Foyi lewat selisih harga pasar. Kontrak diputus. Tapi Gino tidak dapat ditendang begitu saja keluar perusahaan. Dia karyawan istimewa yang punya hubungan kekerabatan dengan penguasa desa.
“Mulai Senin depan! Kamu dipindah ke bagian K3! Urus keselamatan pabrik dan karyawan!”
Gino tidak menolak. Dia cukup mengerti dan tahu diri.
Di bagian K3, tubuh Gino tidak bergerak meski banyak pekerjaan. Kaki dan tangannya gelisah tidak terima jika hanya duduk di depan meja memeriksa laporan stafnya. Kepala Gino sangat kusut. Tidak tahu apa yang musti dikerjakan selepas memeriksa laporan. Segala urusan K3 sembilan puluh persen selesai di tangan stafnya. Gino cukup menganggukkan kepala saja.
Kegelisahan Gino ditangkap manajer HRD atasannya. Karena Gino lihai nyopir mobil, kemampuannya dimanfaatkan Tuman, sang manajer HRD. Tuman mengajak Gino ke kantor disnaker, polsek, polres, koramil, balai desa, dan lingkungan hidup. Gino dilibatkan dalam kegiatan pemberian sumbangan dari perusahaan ke masyarakat. Foto-foto Gino di luar pabrik memenuhi status WhatsApp-nya.
“Ini baru kerja Pak? Saya senang bisa berhubungan dengan dunia luar.”
“Iyalah. Bisa makan siang gratis.”
Gino tertawa mendengar jawaban Tuman yang duduk di sampingnya. Matanya lurus menyusuri jalan raya di depannya. Dunia yang sempat gelap di mata Gino kini benderang kembali.
Siang itu telinga Tuman kebakaran. Tuan Foyi menyemburkan api di telepon. Meski wajahnya tidak tertangkap mata, Tuman merasakan aroma kemarahannya. Dia lebih dari sepuluh kali menganggukan kepala.
“ Ya Pak! Ya Pak! Ya Pak…!”
“Pokoknya aku tidak mau tahu. Pekan depan orang asuransi akan datang ke pabrik. Itu hidran harus sudah ada tutupnya. Kemana Si Gino?”
“Ada Pak!”
“Katanya dia sering keluar. Jarang ada di pabrik. Bukankah dia orang K3? Kalau dia tidak sanggup pindahkan ke bagian lain! Kamu cari gantinya!”
“Baik Pak!”
Tuman menjawab pendek-pendek. Wajah dan telinganya merah terbakar.
Tuman tidak marah kepada Gino. Manajer HRD itu menceritakan pembicaraannya dengan Tuan Foyi. Sebaliknya Gino betul-betul terbakar emosinya mendengar cerita Tuman.
“Siapa yang mengadu kepada Tuan Foyi? Aku pergi karena ada pekerjaan. Betul tidak Pak?”
Tuman mengangguk pelan. Hatinya sebenarnya tidak sependapat dengan Gino.Biar bagaimana pun pergi ke luar itu bukan pekerjaan Gino. Dia juga salah karena mengajak Gino supaya ikut dengannya. Sore hari Gino membuat status di WhatsApp-nya dengan mengunggah foto selang air yang disambungkan ke hidran yang baru dipasang. Di bawah foto ditulis sebuah kalimat dengan huruf besar. BUAT KALIAN YANG IRI!!!
Setelah kejadian itu, kepala Tuman berpikir keras. Mau dipindahkan ke bagian apa si Gino? Staf Gino di bagian K3 sudah resmi menggantikannya. Tuan Foyi minta Gino dimutasi, bukan ditendang keluar pabrik. Tuan Foyi dan dirinya sangat menghormati kepala desa yang masih kerabatnya. Butuh waktu tiga hari bagi Tuman membuat keputusan. Dengan insting HRD-nya Tuman membuat bagian humas di departemennya. Sebagai supervisornya ditunjuklah Gino.
Dengan jabatan barunya, Gino mengekor ke mana pun Tuman pergi. Ada kalanya dia meninggalkan kantor sendiri. Gino menjadi hakim yang menentukan proposal sumbangan diterima atau tidak. Nama Gino harum di kantor desa, kecamatan, polsek, polres, koramil, disnaker, lingkungan hidup, wartawan, dan warga sekitar pabrik. Tiap bulan Gino mengantar upeti ke kantor-kantor itu. Setiap ada tamu atau perjalanan dinas Gino bebas makan minum dengan uang perusahaan. Tak jarang dia membungkus buat oleh-oleh di rumah. Foto-foto Gino nyangkut di kegiatan CSR perusahaan. Meski tidak banyak Gino masih sempat menyelipkan selembar dua lembar uang seratus ribu di dompetnya. Bahkan demi kelangsungan proposal berikutnya tidak segan-segan ormas atau LSM menyelipkan selembar uang lima puluh ribu ke saku Gino.
Untuk melawan serikat kerja yang berafiliasi ke luar yang sering mengiris-iris perusahaan, Gino atas desakan Tuman mendeklarasikan serikat kerja baru di perusahaan. Setiap bulan diberi subsidi oleh perusahaan. Dia bahkan berani mengajukan dana buat rapat serikat pekerja yang dipimpinnya. Seiring tumbuhnya perusahaan, tubuh Gino pun turut berkembang. Lelaki yang dulunya kurus kecil ini, berat badannya terus bertambah. Hingga jika disandingkan dengan tiang bendera akan terlihat seperti angka satu dan angka nol.

*Eli Rusli
Penulis alumnus UPI Bandung. Cerpennya pernah dimuat di beberapa surat kabar lokal.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom