Kategori: Fiksi

Cerpen Istri Simpanan


Solopos.com/Newswire

Jam weker itu sudah ada di rumah sejak puluhan tahun silam. Bertengger di meja setinggi pusar, berdampingan dengan televisi di ruang tengah. Warnanya hijau pupus. Bentuknya bundar dengan tiga kaki membentuk segitiga, sehingga weker itu dapat berdiri tegak. Diameternya seukuran piring lepek. Angka-angkanya menggunakan angka Romawi.

Kata ibu, weker itu kado perkawinan dari seorang sahabat. Ibu merasa harus menyelamatkan weker itu seperti perkawinan. Kata ibu, menjaga pemberian sahabat adalah amanat, mendapat pahala dan hidupnya mulia.

Weker itu tahan banting, meski semua penghuni rumah tak ingin benar-benar membantingnya. Mungkin karena ia buatan Shanghai yang terkenal awet. Sebenarnya, weker itu pernah satu kali rusak, lalu almarhum ayah membawanya ke tukang servis dan beres hingga sekarang.

Ibu sangat menyukai weker itu. Tetapi bagi Sari Wulandari, model weker itu ketinggalan zaman. Sari ingin menggantinya dengan yang baru, yang model digital, misalnya.

“Sebelum weker ini benar-benar tak bisa dipakai lagi, jangan ada weker lain di rumah ini,” pesan ibu sungguh-sungguh.

Sari patuh. Setiap hari weker itu berdering pada pukul 01.00 dini hari. Itu pertanda Sari harus bangun, mencuci muka, lalu memanaskan air. Sebentar lagi kakaknya, Lindri Astuti, akan pulang. Sari bertugas membukakan pintu.

Itu tugas yang penting bagi Sari, karena kakaknya tidak membawa kunci cadangan. Dulu, Lindri membawa kunci cadangan, tetapi hilang, lalu ia meminta Sari untuk bangun pada jam tertentu dengan bantuan dering weker. Harus ada yang membukakan pintu, dan itulah tugas Sari.

Sembari menunggu kakaknya pulang, Sari duduk di dapur. Setiap hari gadis berambut sepunggung itu duduk termenung di dekat kompor gas. Pada saat itu berbagai pikiran datang dan pergi.

Kali ini berkelebat kenangan tentang Lukman Tanoyo. Kenangan di suatu malam Minggu.

“Aku melihat kakakmu tadi malam,” kata Lukman waktu itu, sekitar tiga bulan silam.

“Kamu makan malam di restoran tempat kakakku bekerja? Apakah kakakku yang membawakan hidangan untukmu?”

“Bukan! Aku main biliar bareng teman-teman!”

Sari terhenyak, lalu tertunduk.

“Mengapa kamu bohong padaku?” pertanyaan Lukman membuat Sari tercekat, membuatnya terbata-bata.

“Aku....aku....,” memucat wajah Sari. “Aku terpaksa, Lukman. Aku...nggak ingin kehilangan kamu....”

Lukman menatap tajam, lalu meluncurkan kata-kata pedas: “Kita putus. Aku nggak mau punya keluarga wanita malam!”

“Jangan hina kakakku, Lukman!”

“Memang begitu faktanya. Setiap malam pasti kakakmu menemani laki-laki.”

“Jangan hina kakakku! Sekali lagi kamu lakukan, kutampar kamu!” Sari sudah mengangkat tangan.

Sari dan Lukman bertatapan dalam kebencian.

“Selamat malam!” Lukman berjalan gegas menuju tempat parkir motor di seberang jalan. Meninggalkan Sari sendirian di taman kota, di suatu malam Minggu yang kelabu.

***

Suara bising moncong ketel menyadarkan Sari dari lamunan. Sari mengangkat ketel, lalu menuangkan air mendidih ke ember. Sari menambahkan air dingin ke ember itu. Sari mencelupkan jari telunjuk kanan untuk memastikan kehangatan air di ember. Gadis bertubuh semampai itu membawa baskom ke ruang tengah, setelah itu ia menuju ruang tamu, duduk menunggu.

Seperti malam-malam sebelumnya, Sari hanya duduk beberapa menit di ruang tamu. Di luar terdengar deru mobil berhenti. Sari menyibak tirai jendela, mengintip ke luar sejenak, lalu membukakan pintu.

Sari melihat Lindri keluar dari pintu depan Avanza silver, sementara dari pintu lain keluar seorang lelaki setengah baya. Lelaki itu mengangguk dan tersenyum pada Sari yang berdiri di pintu rumah. Sari membalas dengan senyum sekadarnya.

Lelaki itu masuk ke mobil. Terdengar klakson sekali dan Lindri melambai sampai mobil itu keluar dari halaman rumah. Lindri melangkah gontai memasuki rumah.

“Mengapa bukan Bang Martin yang mengantar, Mbak?” tanya Sari, usai menutup dan mengunci pintu.

“Bang Martin tak akan mengantar Mbak lagi.”

“Lelaki itu yang mengganti Bang Martin? Siapa dia, Mbak?”

“Pelanggan,” sahut Lindri, lalu melempar tubuhnya ke kursi busa tua yang sudah bolong di sana-sini, di ruang tengah. Lindri meluruskan kedua kakinya.
Sari berjongkok di depan Lindri, lalu melepaskan sepatu kakaknya itu. Sari mencelupkan kedua telapak kaki Lindri ke ember berisi air hangat, lalu membasuh dan memijitnya. Lindri memejamkan mata.

“Hanya pelanggan, Mbak?”

Lindri membuka mata.

“Sebenarnya....”

“Apa nanti kata tetangga kalau Mbak Lindri pulang diantar lelaki tua?”

“Dia 45, Sar. Belum terlalu tua.”

“Tetap saja Mbak Lindri akan jadi bahan gunjingan tetangga.” Sari mengangkat telapak kaki Lindri, lalu mengeringkannya dengan handuk. Sari membawa baskom ke dapur.

“Lelaki itu pacar Mbak Lindri?” tanya Sari sekembali dari dapur.

“Lebih dari itu, Sar. Dia ingin menikahiku.”

Sari tertegun. “Apa dia perjaka tua, Mbak?”

“Bukan. Aku akan jadi isteri simpanannya. Dia sudah punya istri dan dua anak,” sahut Lindri.

Sari kembali tertegun. “Mengapa istri simpanan, Mbak? Mengapa tidak menikah resmi?”

“Tidak mungkin, Sar. Dia PNS dan istrinya tentu tidak mau dimadu.”

“Menurut Sari, semua wanita nggak mau dimadu, Mbak.”

“Kalau aku menjadi isteri simpanannya, rumah ini akan diperbaiki, kamu akan punya kamar sendiri. Ibu tak perlu jadi buruh cuci pakaian. Kita bisa buka usaha...bahkan dia bisa mengusahakan agar kamu diterima CPNS. Kita akan lepas dari kemiskinan,” kata Lindri membayangkan impiannya.

“Lelaki itu berjanji pada Mbak?” Lindri mengangguk.

“Lelaki yang banyak janji biasanya suka ingkar, Mbak. Menurut Sari, daripada nanti Mbak Lindri menderita, lebih baik lambat jodoh asal selamat.”
“Mana ada lelaki yang mau sama score girl seperti aku?” sergah Lindri.

“Ada, kalau Mbak Lindri bersabar.”

“Sudahlah!” Lindri mengibaskan tangan.”Kamu masih ingusan, mana tahu urusan orang dewasa? Aku capek, mau tidur!” Lindri berdiri, lalu melangkah menuju kamar. Sampai di pintu kamar, Lindri berhenti dan menoleh.

“Jangan lupa, kamu setel weker itu untuk pukul 04.00. Kasihan ibu, pelanggan akan marah kalau terlambat mengambil cucian,” kata Lindri.

“Ya, Mbak.”

“Setelah itu pasang lagi untuk pukul 10.00. Jangan lupa lagi seperti kemarin. Aku bisa kena marah bos kalau datang terlambat.”

“Ya, Mbak.”

“Satu lagi...”

“Apa, Mbak?”

“Kapan kamu wisuda? Mas Seno, lelaki itu, siap menanggung biaya wisudamu.”

***

Pulang dari kampus mengurus pendaftaran wisuda, Sari melihat weker legendaris itu tak ada di singgasananya.

“Rusak. Ibu menyimpannya di lemari pakaian,” kata ibu menceritakan peristiwa yang menimpa weker itu. Seekor kucing tetangga masuk hendak menerkam cicak di dinding, menyenggol jam weker. “Kacanya retak, jarumnya berhenti.”

“Ibu tidak minta ganti rugi pada pemilik kucing?”

“Ndak perlu. Nanti ribut.”

“Lalu, siapa yang akan membangunkan Sari nanti malam?”

“Kamu ambil uang simpanan ibu di lemari pakaian. Belilah weker baru. Modelnya terserah kamu,” kata ibu.

“Sebaiknya perbaiki dulu, Ibu. Siapa tahu bisa normal lagi,” sahut Sari.

Usai Salat Zuhur, Sari membawa weker itu ke tukang reparasi jam di dekat pasar. Menjelang Magrib, Sari pulang dengan wajah berseri-seri.

“Lihat, Ibu. Weker kita sudah normal lagi.”

“Bukankah Ibu menyuruhmu beli weker baru, Sar?”

“Memang, Ibu. Tapi weker baru itu ada di dalam weker antik kita.”

“Maksudmu?”

“Tadi Sari ke tukang servis jam. Katanya, beli saja weker yang baru, nanti mesinnya dicopot, lalu dimasukkan ke weker kita yang rusak.”
Ibu terharu memandang weker berserjarah itu. Matanya berkaca-kaca.

“Semula Ibu sudah merelakan weker ini. Meski Ibu merasa bersalah pada sahabat Ibu, karena lalai menjaga pemberiannya,” kata ibu tersenyum bahagia.

“Sudah, dong, Ibu. Nanti Sari ikut nangis, nih.” Ibu tersipu, menyeka matanya.

***

Suara deru mobil berhenti di halaman. Sari membukakan pintu rumah. Seperti kemarin-kemarin, Sari melihat Lindri diantar pulang lelaki setengah baya. Lelaki itu mengangguk dan tersenyum pada Sari. Seperti kemarin-kemarin, Sari membalas dengan senyum sekadarnya. Seperti malam-malam selama sepuluh tahun ini, Sari membasuh dan memijit kaki Lindri.

Lindri bertanya saat melihat kaca weker retak.

“Jatuh disenggol kucing tetangga. Tapi sudah Sari bawa ke tukang servis,” kata Sari.

Lindri memandang weker itu penuh perhatian.

“Ada apa, Mbak?” tanya Sari.

“Saat aku menikah bulan depan, akankah ada yang memberiku kado jam weker?”

Sari tidak menjawab. Ia membasuh dan memijit kaki kakaknya, seperti malam-malam sebelumnya. Sari melirik Lindri yang memejamkan mata. Segaris senyum menghias di bibir kakaknya, seakan sedang membayangkan indahnya menjadi istri, meski sebagai istri simpanan.

Sulistiyo Suparno, penulis cerpen kelahiran Batang, 9 Mei 1974. Gemar menulis cerpen sejak SMA. Cerpen-cerpennya tersiar di berbagai media cetak dan daring. Pernah pula menerbitkan novel remaja bertajuk Hah! Pacarku? (Elexmedia, 2006). Bermukim di Limpung, Batang, Jawa Tengah)

Share
Dipublikasikan oleh
Damar Sri Prakoso