CERPEN: Buronan Malaikat Maut

Setelah hujan pagi ini reda, orang-orang di Tang-Batang dikejutkan dengan kematian Hamid. Laki-laki itu tidak menderita sakit apa pun sebelum akhirnya malaikat maut menjemputnya. Ia baru menikah pagi tadi. Tak ada tanda-tanda ia akan meninggal secepat itu. Kematiannya terbilang sangat mendadak untuk ukuran lelaki muda yang sehat bugar seperti Hamid.
Tidak ada pesan apapun sebagai kalimat terakhir yang diucapkan Hamid pada istrinya sebelum keduanya terlelap di ranjang pengantin bertabur bunga-bunga. Aroma wangi menyemerbak di kamar yang tak cukup luas itu. Hamid langsung terlelap begitu ia merebahkan tubuhnya. Barangkali kelelahan setelah seharian menerima tamu-tamu di resepsi pernikahannya.
Istrinya, Zaitunah tidak langsung tidur. Ia mengerjakan Salat Isya sebelum merebahkan kepalanya di bantal dekat suaminya. Hamid yang sebenarnya juga belum Salat Isya hanya mengatakan kepada istrinya jika ia akan bangun tengah malam nanti untuk Salat Isya sekaligus akan salat sunnah malam. Zaitunah hanya mengangguk dan tersenyum.
Selesai mengerjakan salat, Zaitunah berbaring di dekat suaminya sambil merangkul laki-laki yang sangat dicintainya itu. Ia tersenyum bahagia. Merasa beruntung dinikahi laki-laki saleh seperti Hamid. Tak dapat diragukan lagi ibadah Hamid yang sangat tekun. Ia tidak pernah sekalipun meninggalkan salat, selalu dikerjakan tepat waktu.
Namun serajin-rajinnya Hamid ibadah, ia meninggal dengan utang salat wajib yang belum ia kerjakan. Selelah apa pun Hamid biasanya selalu mengedepankan ibadah wajibnya, tapi malam ini Hamid mengentengkan hal itu. Ia pikir bisa bangun tengah malam. Hamid sengaja menunda ibadah wajibnya dengan alasan kelelahan.
Tengah malam Hamid bangun. Lalu ia berdiri bersiap ke kamar mandi. Hamid terkejut melihat tubuhnya masih terbaring di samping istrinya di atas ranjang. Tidak mungkin ia menjadi dua. Hamid berpikir, pastilah ini mimpi. Tak lama kemudian, Hamid melihat sosok bayangan hitam di hadapannya.
“Siapa kau?” Hamid bertanya dalam ketakutan.
“Saya malaikat maut.”
Hamid tidak percaya. Ia berusaha menertawakan malaikat itu. Hamid memanggil istrinya supaya bangun. Tak ada respons apa pun. Tangan Hamid berusaha mengguncang tubuh istrinya. Akan tetapi tubuh Zaitunah tak dapat disentuh oleh Hamid. Malaikat maut yang berdiri di dekat Hamid terus mengawasi, melihat tingkah pola Hamid yang tak terima atas kematiannya.
“Apa kau benar-benar malaikat maut?” Hamid bertanya lagi untuk meyakinkan hatinya. Malaikat maut itu mengangguk.
Tapi Hamid belum juga percaya. Ia tetap pada keyakinan semula bahwa dirinya sedang berada dalam mimpi. Menurut Hamid terlalu cepat malaikat maut itu datang menjemputnya. Usia Hamid masih terbilang muda. Apalagi ia baru saja selesai melangsungkan pernikahan dengan Zaitunah. Pikiran Hamid kacau. Ia menangis. Tidak bisa lagi Hamid masuk ke dalam raganya yang sedang terbaring di samping istrinya karena malaikat maut itu dengan sigap menarik arwah Hamid.
“Daun itu tidak perlu kering untuk jatuh ke bumi.” Malaikat kematian itu menyampaikan penjelasan kepada Hamid.
“Jangan ibaratkan daun dengan usia manusia.” Hamid menekan suaranya.
“Allah memang mencipatkan banyak perumpamaan di muka bumi ini agar manusia mudah memahami.”
Hampir tiga jam Hamid berdiri memandang tubuhnya di atas ranjang. Ia mulai benar-benar merasakan takut yang sangat dalam. Keyakinan dirinya yang merasa berada dalam mimpi mulai goyah. Tidak mungkin ia bermimpi berjam-jam. Ia menangis lagi. Hamid memohon agar kematiannya ditangguhkan. Malaikat maut itu tak menjawab.
“Jika memang benar saya sudah mati. Saya hanya mohon satu hal. Boleh?”
Permohonan Hamid yang terlihat mengiba akhirnya membuat malaikat maut balik bertanya, “Apa itu?”
“Biarkan saya masuk ke dalam jasad saya lagi. Lima menit saja. Setelah itu, kau boleh mencabut nyawa saya lagi.”
“Untuk apa?”
“Saya belum Salat Isya. Tadi kelelahan. Niatnya mau salat tengah malam ini. Tapi kau keburu mengambil nyawa saya. Tolong saya.” Hamid menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Sebab takdir kematianmu memang harus begitu.”
“Tolonglah. Saya mohon.”
“Kau sudah saya incar sejak seminggu yang lalu. Dan sekarang saya berterimakasih padamu.”
“Untuk apa?”
“Karena kau sudah menuntaskan tugas saya. Seandainya kau tidak menunda salatmu karena lelah, mungkin kau belum mati.”
“Kenapa begitu?” Hamid dibuat kebingungan.
“Seminggu ini saya terus mengawasimu, memikirkan cara bagaimana menjemput ajalmu. Ingin segera saya cabut nyawamu sewaktu kau salat. Tapi itu tidak bisa. Kau hanya akan mati karena satu kelalaian salat yang kau lakukan. Menurut saya itu tidak mungkin, sebab saya tahu kau rajin ibadah. Namun rupanya malam ini kau melakukan kelalaian itu, dan saya pun berhasil menuntaskan tugas ini mengambil nyawamu.”
“Saya rajin ibadah. Kenapa kau tak ambil nyawa saya sewaktu ibadah.”
“Saya hanya pesuruh. Allah yang menentukan. Allah yang punya alasan.”
Hamid meneteskan air matanya. Penyesalan masuk ke dalam dadanya. Sia-sia ia mengakui penyesalannya pada malaikat maut. Waktu tak bisa diputar lagi. Hamid berjanji, seandainya ia diberi kesempatan hidup lagi, tak akan pernah ia menunda apalagi sampai lalai pada ibadah wajibnya. Istrinya terihat pulas sekali tidurnya. Tangannya terus merangkul tubuh Hamid.
Zaitunah belum menyadari jika suaminya sudah dijemput malaikat maut sejak beberapa jam yang lalu. Perempuan berparas cantik itu memeluk tubuh Hamid. Dengkur Zaitunah menunjukkan kelelahan. Hamid melihat istrinya dengan perasaan sedih. Kesedihan Hamid bermuara pada perkara kehidupan istrinya nanti tanpa ada lelaki yang mendampinginya. Hamid was-was istrinya akan gila setelah tahu kalau Hamid lebih dulu dijemput malaikat maut.
Terbangun karena suara azan, dengan segera Zaitunah mengambil wudu. Ia melihat suaminya masih terbaring. Tidak bangun. Tak ada reaksi apa-apa saat Zaitunah memanggil suaminya. Diguncanglah tubuh Hamid itu, Zaitunah merasakan ada sesuatu yang aneh terjadi dengan suaminya. Ia pegang urat nadi pergelangan tangan suaminya, kemudian ia juga dekatkan jari telunjuknya di ujung hidung Hamid. Tak ada detak nadi dan tak ada napas yang berembus.
Zaitunah menjerit setelah mengetahui suaminya sudah tidak bernyawa lagi. Ia memanggil-manggil nama suaminya dalam derai air mata. Hamid yang sudah berupa arwah menyaksikan adegan itu dengan perasaan terpukul. Ia melihat bagaimana Zaitunah memeluk jasad dirinya. Hamid hanya bisa menyaksikan kejadian menyedihkan itu tanpa bisa berbuat apa-apa. Ia sudah terpisah dari raganya.
Kabar kematian Hamid menyebar sangat cepat dan mengejutkan siapa pun yang mendengarnya, seperti petir yang menyambar pepohonan dan menghanguskannya seketika. Mungkin saja kabar kematian tidak akan terasa mengejutkan jika yang meninggal bukan Hamid. Tidak seorang pun mengira Hamid akan meninggal secepat itu tanpa ada tanda dan sebab musababnya terlebih dulu.
Mati secara mendadak di usia muda, terlebih baru selesai melangsungkan pernikahan membuat orang-orang mengerutkan kening tidak percaya. Semula kabar kematian Hamid dianggap lelucon, dibuat bahan candaan secara semena-mena. Tetapi kemudian lelucon yang semula membuat mereka tertawa terbahak-bahak berubah menjadi kesedihan setelah mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri jasad Hamid yang sudah dibungkus kain kafan.
Zaitunah menangis di samping jenazah suaminya. Pemakaman akan dilakukan pagi ini juga. Mendung tebal menjadi pertimbangan. Orang-orang menangisi kematian Hamid. Tidak hanya dari kalangan keluarga Hamid sendiri, semua pelayat yang datang ke rumah Zaitunah pasti meneteskan air mata melihat Hamid mati mendadak.
Tujuh hari kematian Hamid berlalu. Tak ada lagi kesedihan di wajah Zaitunah. Waktu terus berputar hingga tiga tahun kemudian, Zaitunah sudah mulai dekat dengan seorang lelaki. Arwah Hamid yang selalu datang setiap malam Jumat tahu rencana Zaitunah yang ingin menikah lagi. Kedatangan Hamid ke rumah itu lantaran sepuluh bulan terakhir Zaitunah tak pernah mengirimkan doa kepadanya.
Kesedihan Hamid berlipat-lipat melihat perempuan yang dicintainya sudah tak lagi cinta pada dirinya. Cinta Zaitunah kepada Hamid terkubur bersama kematian laki-laki paruh baya itu. Sebagai orang yang sudah mati, Hamid berusaha menerima semua itu sebagai suratan. Mungkin memang begitulah juga yang terjadi pada semua orang. Hamid menabahkan dirinya.
Malam Jumat itu Hamid terkejut melihat malaikat maut mengawasi Zaitunah. Hamid menghampiri malaikat maut itu. Hamid berdiri di dekatnya ikut menyaksikan Zaitunah yang sedang mengobrol dengan seorang lelaki melalui telepon selulernya. Hamid tahu, itu yang sedang ngobrol dengan Zaitunah adalah calon suami barunya.
“Kenapa kau mengawasi dia?” Malaikat maut melihat Hamid yang melontarkan pertanyaan.
“Dia target saya sejak lima bulan lalu. Dia akan saya ambil nyawanya.” Hamid terkejut.
“Kapan?”
“Ketika dia menikah dengan lelaki di ujung telepon itu.”
Malaikat maut itu melihat raut muka Hamid yang tiba-tiba berubah sumringah. Hamid hanya berharap bisa segera mengobrol dengan Zaitunah. Ada banyak hal yang perlu dibicarakan. Hamid berdoa supaya lelaki itu segera menikahi Zaitunah.
Pulau Garam, Januari 2019

*)Zainul Muttaqin lahir di Sumenep, 18 November 1991 dan kini tinggal di Pamekasan Madura. Cerpen-cerpennya dimuat di pelbagai media lokal dan nasional. Buku kumpulan cerpennya; Celurit Hujan Panas (Gramedia Pustaka Utama, Januari 2019).



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom