Cerita Yayasan Pendidikan di Boyolali 33 Tahun Mengurusi Difabel hingga Mandiri

Yayasan Pendidikan Anak Luar Biasa (YPALB) di Cepogo, Boyolali, berulang tahun ke-33.

Selasa, 27 September 2022 - 19:55 WIB Penulis: Nimatul Faizah Editor: Ika Yuniati | Solopos.com

SOLOPOS.COM - Kegiatan ulang tahun ke – 33 YPALB di halaman gedungnya, Selasa (27/9/2022). Kegiatan peringatan HUT dengan jalan sehat, pembagian doorprize, bernyanyi, dan pemberian penghargaan. (Istimewa).

Solopos.com, BOYOLALI – Yayasan Pendidikan Anak Luar Biasa (YPALB) di Cepogo, Boyolali kini berusia 33 tahun. Yayasan ini awalnya didirikan pada 1989 atas semangat untuk mengajar anak berkebutuhan khusus yang berada di daerah pinggiran jantung kota Boyolali.

Ketua YPALB Boyolali sekaligus salah satu founder, Tri Mulyo, 55, mengatakan pada awalnya bersama tiga temannya sesama warga Boyolali berinisiatif untuk membuat sekolah selepas lulus Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB) Surakarta.

Kemudian, lanjut Tri, bertambah jadi tujuh orang, tambah tiga dari Sukoharjo, dan satu dari Klaten. Lantas mendirikan YPALB di tahun yang sama.

“Alasan kami mendirikan di Cepogo sederhana, siapa  yang akan mendidik anak-anak [berkebutuhan khusus] di pinggiran ini? Kalau di pusat kota tidak masalah karena rata-rata fasilitas kota baik. Namun, untuk yang jauh di pinggiran, kan tidak semuanya mendapatkan akses,” terangnya saat dijumpai Solopos.com di kantornya, Selasa (27/9/2022).

Baca juga: Gandeng Anak Berkebutuhan Khusus, Re.juve Rayakan Hari Anak Nasional

Sejak 1989 hingga saat ini, Tri mengatakan telah banyak lulusan yang dicetak dari SDLB, SMPLB, dan SMALB YPALB yang berada di Dukuh Wates, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali tersebut.

Saat ini, ia menyebut terdapat 63 siswa di seluruh jenjang YPALB dan 12 guru yang mengajar di yayasan tersebut. Murid-muridnya juga berasal dari Cepogo, Musuk, Ampel, Selo, bahkan Kecamatan Boyolali.

“Murid kami ada yang tuna netra, tuna rungu-wicara [tuli], lambat belajar, autis, cacat tubuh, apapun tidak akan kami tolak kekhususan mereka,” kata dia.

Tri mengatakan yang terpenting bagi pendidikan ABK adalah kemandirian. Ia tidak ingin, saat anak didik YPALB telah lulus hanya dikembalikan ke masyarakat. Ia ingin anak didiknya dapat mandiri dan memiliki keahlian saat lulus sekolah dari YPALB.

Saat ini, lulusan YPALB, jelas Tri, menjadi wirausaha ataupun bekerja di industri menjahit atau pun industri lain seperti pengecoran.

Baca juga: Difabel Sukoharjo Capai 6.512, Baru 710 yang Gabung di Sanggar Inklusi

“Anak-anak yang SMALB kami bekali dengan keahlian. Di sini ada tiga vokasi, menjahit, tata boga, dan membatik. Batik kami ini pernah diproduksi dan digunakan sebagai baju tim HDI [Hari Disabilitas Internasional] di istana pada 2016,” kata dia.

Lebih lanjut, Tri mengatakan pada Selasa ini dirinya bersama guru, wali murid, dan murid berkumpul bersama untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-33 YPALB.

“Tadi kami ada jalan-jalan bersama. Kemudian pembagian doorprize, sambil bernyanyi bersama. Ternyata mereka senang dan bangga menjadi bagian YPALB,” kata dia.

Sementara itu, salah satu guru, Etik Masfufah, 46, mendapatkan penghargaan dari guru lain dan murid sebagai pengajar dengan pengabdian terlama.

Guru pengajar agama tersebut mengaku telah mengajar sejak 1994. Saat itu, cerita Etik, dirinya baru saja lulus dari DII SGPLB Surakarta dengan fokus pembelajaran terkait tuna daksa.

Baca juga: PJJ, Guru SLB di Solo Ini Rela Datangi Siswanya Satu Per Satu

“Saat masuk di sini, saya bertemu dengan semua jenis anak berkebutuhan khusus. Dan saya harus belajar lagi, belajar terus untuk menjadi pengajar yang baik,” kata dia.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif
HEADLINE soloraya Jalan Menuju Goa Resi Wonogiri Retak Sepanjang 20 Meter, Mobil Dilarang Lewat 41 detik yang lalu

HEADLINE soloraya Kaesang-Erina Ziarah ke Makam Raja Mangkunegara, Juru Kunci: Minta Izin Resepsi 7 menit yang lalu

HEADLINE soloraya Dukung Program Kantin Cumi, Pengantin di Karanganom Klaten Tebar Ikan di Sungai 29 menit yang lalu

HEADLINE soloraya Tips Petani Muda Sukses: Niat Dahulu, Nekat Kemudian 38 menit yang lalu

HEADLINE soloraya Sesuaikan Survei KHL, Serikat Pekerja di Boyolali Tetap Usulkan UMK Rp3 Jutaan 44 menit yang lalu

HEADLINE soloraya Kronologi Mobil Nyungsep di Saluran Irigasi Sukoharjo Gegara Google Maps 49 menit yang lalu

HEADLINE soloraya Rahasia Pindang Kambing Mbah Sinem Wonogiri Sering Ludes dalam Waktu 2 Jam 1 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Fenomena Efek Wali Kota Gibran, Warga Luar Solo Ramai-Ramai Sambat 1 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Ibu Negara Iriana Test Food Kuliner Pernikahan Kaesang-Erina 1 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Tambang Ilegal di Klaten Merusak Ekosistem Gunung Merapi 1 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Ada Peran Sunan Pandanaran di Balik Tradisi Pembuatan Gerabah Melikan Klaten 1 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Romantis, Erina Terus Gandeng Tangan Kaesang Saat Ziarah di Astana Mangadeg 2 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Penyerapan APBD Boyolali Baru 80-an Persen, Sekitar 35 OPD Belum Maksimal 2 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Mantap! Penghasilan Petani Milenial Sragen Ini Capai Rp10 Juta/Bulan 2 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Pakai Google Maps, Mobil Ayla Nyungsep di Saluran Irigasi Mojolaban Sukoharjo 2 jam yang lalu