Banjir dan kerusakan rel kereta api di Jepang akibat Topan Hagibis. (Reuters)

Solopos.com, TOKYOTopan Hagibis menerjang wilayah Jepang, Sabtu (12/10/2019). Bencana alam yang sangat dahsyat tersebut merenggut nyawa tiga orang. Selain itu, 17 orang hilang dan 90 lainnya luka-luka. Data tersebut dilansir NHK, Minggu (13/10/2019).

Topan bukanlah bencana alam baru bagi warga Jepang. Namun, Topan Hagibis merupakan badai terbesar yang melanda Negeri Sakura itu. Selain merenggut nyawa, bencana alam ini menyebabkan satu jutaan penduduk Jepang mengungsi demi keamanan.

Dikutip dari BBC, Badan Meteorologi Jepang (JMA), mengatakan Topan Hagibis berpotensi menyebabkan tanah longsor dan banjir. Oleh sebab itu, penduduk Jepang diminta selalu waspada dan mengungsi ke tempat lain.

Salah satu warga negara Indonesia (WNI) bernama Yahranita Sharif, mengatakan, badai tersebut sangat mengerikan. "Kencang banget anginnya dan kami harus jauh dari jendela yang kaca. Sudah gelap juga di sini," kata Yahranita Sharif seperti dikabarkan Detik.

Yahranita Sharif mengatakan, tempat tinggalnya di Kanagawa berjarak sekitar 45 menit dari Tokyo, Jepang, masuk ke zona merah. Dalam penuturannya, hujan lebat dan angin kencang sudah menerjang kawasan Kanagawa sejak Jumat (11/10/2019). Pintu apartemennya seperti ditabrak akibat angin yang bertiup kencang.

"Hujan lebat dari kemarin malam. Topannya belum datang. Tapi anginnya kencang banget, sampai jendela kami kaya ditabrak gitu bunyinya," ujarnya.

Pemerintah Jepang telah memberikan peringatan datangnya Topan Hagibis sejak tiga hari lalu. Warga yang berada di zona rawan diminta mengungsi ke tempat yang lebih aman untuk meminimalisasi dampak buruk dari bencana alam tersebut.

Sumber: Detik.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten