Tutup Iklan
Cerita di Balik Ratusan Korban Longsor di Tirtomoyo Wonogiri Tolak Relokasi
Kondisi pengungsian warga terdampak longsor di Balai Desa Dlepih, Tirtomoyo, Wonogiri, Minggu (10/12/2017). (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos)

Solopos.com, WONOGIRI -- Ratusan keluarga yang bertempat tinggal di lereng bukti sangat rawan longsor di Desa Dlepih, Tirtomoyo, Wonogiri menolak relokasi.

Padahal, pemerintah telah menyediakan lokasi dan menganggarkan dana untuk membangun rumah baru yang lebih aman untuk mereka.

Bencana tanah longsor di Dlepih, Tirtomoyo, terjadi 28 November 2017. Longsor menyebabkan dua orang meninggal dunia. Keduanya adalah warga Bengle RT 001/RW 003, yakni Suyati, 60 dan anaknya, Sriwanti, 45. Gegara bencana itu, sebanyak 1.140 jiwa yang terdiri atas anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua mengungusi.

Kabar Duka: Adik Bungsu Gus Dur, Gus Im, Meninggal Dimakamkan di Jombang

Usut punya usut, ternyata sikap ratusan warga Dlepih, Tirtomoyo, menolak relokasi disebabkan beredar isu. Ada pihak tak bertanggung jawab yang menyebarkan isu bahwa apabila mau direlokasi lahan warga yang ditinggalkan akan menjadi milik pemerintah.

Padahal, kabar tersebut tidak benar. Kepala Desa atau Kades Dlepih, Sutarmo, kepada Solopos.com, Selasa (28/7/2020), mengatakan dari ratusan keluarga, hanya lima keluarga yang bersedia direlokasi.

Mereka terdiri atas dua keluarga dari Dusun Warak dan satu keluarga dari Dusun Bengle. Ada keluarga yang terdiri atas tiga jiwa dan ada pula yang empat jiwa.

Harga Emas Naik Lagi, Akankah Cetak Rekor Baru Lagi?

Relokasi di Tanah Kas Desa

Setelah rumah permanen yang dibangun di area relokasi jadi, mereka akan menempatinya. Saat ini mereka menempati hunian sementara yang dibangun di dekat bekas rumah mereka sambil menunggu proyek pembangunan area relokasi rampung. Rumah mereka yang lama hancur akibat terkena longsor.

“Lahan yang dipakai buat area relokasi adalah tanah kas desa. Luasnya 30 m2 x 40 m2 lebih, dibangun lima unit rumah permanen. Masing-masing rumah berukuran lebih kurang 64 m2. Lahan itu nanti akan ditukar guling Pemkab [Pemerintah Kabupaten],” ucap Kades.

Data yang Solopos.com pernah dapatkan, awalnya rumah tempat relokasi warga Dlepih, Tirtomoyo yang diusulkan Pemerintah Desa Dlepih sebanyak 360 unit untuk 360 keluarga.

Batu Misterius Watu Sigong Klaten Mau Dijadikan Destinasi Wisata, Ini Gambarannya

Sebanyak 161 unit bagi warga Dusun Bengle, 103 unit untuk warga Ngelo, 91 unit bagi warga Warak, dan lima unit untuk warga Sumberejo. Lahan yang disiapkan merupakan tanah kas desa seluas lebih kurang 3,5 hektare yang saat itu masih berwujud sawah.

Menurut Kades, warga yang terakhir diusulkan direlokasi sebanyak 141 keluarga. Seiring berjalannya waktu hanya ada lima keluarga yang menyatakan bersedia direlokasi.

Dia menyebut banyak warga Dlepih, Tirtomoyo, yang menolak direlokasi karena terprovokasi isu yang disebarkan pihak tak bertanggung jawab. Isu itu menyebutkan apabila warga bersedia direlokasi, lahan yang ditinggalkan akan menjadi milik pemerintah.

 

Padahal, lahan yang ditinggalkan akan tetap menjadi milik warga. Pemiliknya bisa menjadikannya sebagai lahan pertanian. Bahkan, apabila di masa yang akan datang dinyatakan aman, kawasan tersebut bisa menjadi permukiman lagi.

“Suatu ketika masa jabatan saya habis dan saya maju pilkades [pemilihan kepala desa]. Lalu ada isu yang menyebut saya memanfaatkan program relokasi untuk kepentingan pilkades. Warga yang terprovokasi isu tak mau direlokasi. Padahal, BPBD [Badan Penanggulangan Bencana Daerah] dan saya sudah tak kurang-kurang dalam memberi pemahaman,” imbuh Kades.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom

Pasang Baliho