Tutup Iklan
Cerita di Balik Baju Hazmat
Maria Y. Benyamin (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Betapa susah dan menderitanya mengenakan baju hazardous materials atau hazmat. Itu kesan yang saya tangkap dari cerita salah satu petugas medis rumah sakit swasta di Jakarta Pusat.

Olin, begitu dia biasa disapa, adalah satu dari ribuan petugas medis yang kini berada di garda terdepan dalam memerangi pandemi Covid-19.

Sejak akhir April lalu Olin mulai akrab dengan berbagai alat pelindung diri (APD), termasuk baju APD atau hazmat. Tepatnya setelah rumah sakit swasta tempat dia bekerja menerima pasien Covid-19.

Tidak setiap waktu satu set APD melekat di tubuhnya. Selama rentang waktu dinas 12 jam—sebelum Covid-19, rata-rata petugas medis hanya berdinas tujuh jam hingga 10 jam—APD itu hanya dikenakan beberapa jam ketika berinteraksi langsung dengan pasien.

Dalam sekali berdinas, dia berinteraksi dua kali dengan pasien. Itu berarti, dua kali pula dia harus berpakaian APD lengkap. Jika pasien tak begitu banyak, dia beruntung mengenakannya dua jam saja sekali pakai.

Sebaliknya, jika pasien banyak, APD komplet bisa menempel lima jam di badannya. Itu baru satu cerita di rumah sakit swasta. Tentu ceritanya berbeda dengan petugas medis yang tengah berjuang di beberapa rumah sakit rujukan pemerintah, yang pasiennya jauh lebih banyak.

Mereka mungkin harus berada di balik APD komplet lebih lama. Saya dan mungkin juga Anda bisa membayangkan bagaimana rasanya terperangkap dalam baju hazmat dengan material tertentu yang dapat ditebak sangat tidak nyaman.

”Pengap. Panas. Duh, enggak nyaman deh pokoknya. Kayak sauna...,” begitu kata Olin.

Beruntung bila baju hazmat yang dikenakan bermaterial super bagus sehingga hanya cukup satu lapis. Bagaimana dengan hazmat yang tak memenuhi standar dan terpaksa harus dipakai berlapis-lapis?

Belum lagi kerepotan di balik hazmat itu. Untuk urusan ”ke belakang” pun harus diatur dan terkadang harus ditahan-tahan. Semua itu untuk tujuan melindungi diri sendiri, juga mungkin saja, berhemat APD.

Demi kemanusiaan, penderitaan berjam-jam itu dan segala kerepotan di baliknya rela ditebus untuk keselamatan sesamanya yang terpapar Covid-19. Tak ada keluh kesah, meski peluh bercucuran. Mereka berjuang. Demi Kemanusiaan.

***

Jauh dari hawa pengap, panas, hingga peluh yang bercucuran deras di balik hazmat yang menempel di tubuh para pejuang medis, ada riuh rendah lainnya yang tak kunjung berhenti.

Ini bermula dari ”teriakan” produsen baju APD di dalam negeri. Produksi mereka kini berlimpah. Sayangnya, tidak semua produksi itu diserap untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Mungkin Anda masih ingat rencana ekspor APD ke luar negeri yang pernah terlontar dari beberapa menteri belum lama ini. Satu sisi, ada semacam kebanggaan bahwa Indonesia kini akhirnya dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri dan produk Indonesia berpeluang untuk mengisi pasar ekspor.

Jangan senang dulu. Ada cerita ironis di baliknya yang jika benar tentu membuat kita semua mengelus dada. Kelebihan pasokan itu bisa juga terjadi karena pasar telanjur diisi oleh produk dari negara lain alias impor.

Merunut ke belakang, Indonesia pernah mengalami krisis APD pada awal-awal kenaikan kasus positif Covid-19. Kondisi ini diakui langsung Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana sekaligus Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Doni Monardo ketika bertemu dengan beberapa pemimpin redaksi sejumlah media massa di kantornya sepekan setelah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan.

Saking krisisnya, perjuangan mendapatkan APD kala itu penuh kesan heroisme. Pemerintah sampai ”menggagalkan” ekspor ratusan ribu unit APD ke Korea Selatan.  Seyogianya APD yang diproduksi oleh salah satu produsen lokal itu untuk memenuhi pesanan Korea Selatan.

Atas nama kemanusiaan di dalam negeri, pemerintah berhasil bernegosiasi dengan Korea Selatan sehingga akhirnya hanya setengah dari total pesanan yang dikirimkan. Sisanya untuk kebutuhan domestik.

Di tengah krisis itu, sejumlah pihak akhirnya mengambil langkah seribu. Seorang produsen APD yang enggan disebut namanya baru-baru ini bercerita perihal rapat online yang digelar pada awal April.

Semua stakeholders hadir dalam rapat yang membicarakan secara khusus perihal APD, utamanya baju hazmat. Kegelisahan memang muncul kala itu. Jumlah kasus positif naik terus. APD tidak tersedia dalam jumlah yang cukup. Industri domestik sebetulnya bisa memproduksi barang tersebut. Dalam rapat itu, produsen lokal menyanggupi memenuhi kebutuhan domestik.

”Ada komitmen angka-angkanya. Intinya, ada semangat yang besar untuk menggandeng produsen lokal dalam menyelamatkan tenaga kesehatan. Tujuan lain, supaya ekonomi domestik juga bergerak,” ujar sumber itu.

Tujuan kedua itu tentu saja menjadi angin segar bagi industri dalam negeri. Setelah PSBB, aktivitas industri memang tiarap. Rata-rata dihentikan. Pada saat yang sama, ancaman kekurangan bahan baku dan penurunan daya beli mengadang. Industri perlahan-lahan terhenti.

Bagi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) serta industri alat kesehatan, misalnya, produksi APD menjadi salah satu jalan keluar untuk tetap bertahan di tengah tekanan. Sayangnya, ketika semangat memproduksi hazmat lokal tengah menggebu-gebu, komitmen dalam rapat virtual itu menguap begitu saja.

Mendadak, angka yang bisa diproduksi oleh produsen lokal berubah. Ibaratnya, semula keseluruhan produksi lokal—yang nantinya dibagi-bagi kepada produsen lokal sesuai dengan kapasitas produksi—berjumlah 10; belakangan angkanya menyusut menjadi tiga. Itu berarti kue yang dibagi-bagi di antara produsen lokal menciut alias lebih kecil.

Kabarnya, beberapa produsen yang sebelumnya mengantongi angka komitmen produksi hazmat yang cukup besar, akhirnya gigit jari. Lalu, dari mana kebutuhan domestik yang cukup besar itu dipenuhi? Coba tebak...

Masalah hazmat bukan itu saja. Sebuah cerita lain saya dengar langsung dari produsen TPT. Lagi-lagi, yang ini juga tak mau identitasnya terungkap. Selama ini, sepengetahuan saya, produksi baju hazmat mengandalkan material spunbon yang berbasis poly­propilene.

Jauh sebelum Covid-19 merebak, material ini yang umumnya dipakai karena paling murah. Sebetulnya ada material lain yang juga bisa dipakai untuk memproduksi baju hazmat, antara lain spunlace, polyester, dan nylon taffeta. Material ini ada di Indonesia dan kini banyak digunakan oleh produsen lokal untuk memproduksi baju hazmat.

Sejak awal, gugus tugas telah membolehkan penggunaan berbagai material nonspunbon itu sepanjang produk yang dihasilkan bisa digunakan lebih dari sekali pakai (reusable) dan tentu juga harus lolos tes.

Produksi baju hazmat reusable menjadi fokus karena mempertimbangkan masa pandemi yang kemungkinan masih panjang dan kebutuhan APD yang terus meningkat.  Di sisi lain, baju hazmat impor umumnya terbuat dari spunbon.

Baju hazmat dari bahan ini hanya bisa digunakan sekali saja (disposable). Ada juga produsen lokal yang membuat baju hazmat dari spunbon, tetapi kapasitasnya kecil sekali.

Rata-rata baju hazmat reusable yang diproduksi oleh produsen lokal bisa dipakai hingga lima kali cuci. Harga satu unit hazmat reusable ini hanya lebih tinggi 20%-25% dari hazmat sekali pakai. Dengan demikian, produk hazmat reusable jauh lebih bersaing dari sisi harga.

”Informasi yang kami dapat, katanya sih, dokter tak suka pakai yang berbahan dasar nonspunbon karena kurang nyaman...” begitu cerita produsen.

Tak puas dengan informasi itu, mereka menguji sendiri produk dengan mengirimkan ke rumah sakit tertentu untuk dipakai para dokter. “Mereka bilang nyaman kok. Justru katanya lebih adem,” kata produsen itu

***

Saya tak berniat menunjuk hidung siapa pun di sini. Jejak informasi ini terus kami telusuri. Tujuannya hanya satu. Urusan APD, utamanya hazmat, tak boleh jadi barang mainan. Kemanusiaan yang melekat padanya tak boleh direndahkan.

APD menjadi pelindung mereka yang berada di garda terdepan dalam memerangi Covid-19. APD itu harus melekat dengan gagah di tubuh mereka, tanpa kehilangan sedikit pun makna kemanusiaan.

Jangan sampai perjuangan demi kemanusiaan, termasuk melawan pengap, panas, dan peluh yang jatuh bercucuran ternoda oleh tangan-tangan tidak kelihatan yang kini juga tengah bertarung tanpa rasa kemanusiaan.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Pasang Baliho