Asisten pelatih Persis Solo, Choirul Huda atau Cak Irul, di Mes Persis Solo, Selasa (22/10/2019). (Solopos-Chrisna Chanis Cara)

Solopos.com, SOLO - “Alap-Alap Sambernyawa, bawa kami terbang ke angkasa. Bangkitlah kau sang legenda, Persis Surakarta!.” Chant tersebut menggema di depan mes Persis Solo di Karangasem, Laweyan, ketika waktu sudah menunjukkan pukul 01.20 WIB, Selasa (22/10/2019).

Di sekitar sana, sebuah bus berjalan lambat dikerumuni ratusan suporter Persis Solo yang telah mengawal perjalanan bus sejak dari kawasan Prambanan, Klaten. Para pemain Persis akhirnya tiba kembali di Solo setelah terjebak dalam situasi mencekam di Jogja selama hampir lima jam.

Susanto dkk. baru bisa meninggalkan Kota Pelajar, Senin (21/10/201) pukul 23.00 WIB setelah mendapat lampu hijau kepolisian setempat. Begitu penggawa Persis satu per-satu turun dari bus, suporter langsung menyambutnya dengan jabat tangan dan pelukan hangat.

Beberapa kali tepuk tangan menyela kehangatan yang tengah terjalin antara suporter dan penggawa Persis. Laskar Sambernyawa disambut bak juara. Wajar saja, meski gagal lolos ke babak delapan besar Liga 2 2019, mereka mampu menjaga “marwah” Persis dengan menggulingkan PSIM dengan skor 3-2 di Stadion Mandala Krida.

Tak hanya bertarung di lapangan hijau, sejumlah penggawa Persis pun harus menerima aksi kekerasan untuk membawa poin penuh ke Kota Bengawan. Asisten Pelatih Persis, Choirul Huda, bahkan harus mendapat tiga jahitan di pelipis kirinya setelah ditonjok panpel PSIM saat kerusuhan pecah.

Saat itu dia mencoba menasihati panpel tuan rumah yang malah memprovokasi Persis alih-alih menurunkan tensi laga. “Saya bilang ‘Sampeyan itu panpel kok malah ikut bikin ribut’. Setelah itu kejadian semakin liar,” ujar Choirul yang saat itu tengah mengarahkan pemain agar segera ke ruang ganti, kepada Solopos.com di mes Persis, Selasa.

Pria yang akrab disapa Cak Irul ini tak sadar pelipisnya terluka. Dia baru mengetahui kepalanya bocor setelah melihat ceceran darah di celana Pelatih Persis, Salahudin. Cak Irul pun bergegas lari ke mobil barakuda yang sudah disiapkan untuk mengamankan Persis dari amukan suporter tuan rumah.

Sebelum ini, baru sekali Cak Irul merasakan situasi mencekam serupa yakni saat mendampingi Persiwa Wamena melawan Arema Malang di Kediri pada 2007. Selain diserang, barang-barang Persiwa dijarah setelah suporter menyerang wasit karena tidak puas dengan jalannya pertandingan.

“Saya menyayangkan pemahaman kuno tentang kecintaan terhadap sebuah klub. Kalau cinta, mestinya tidak ada ruang untuk kekerasan,” ujarnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten