Kategori: Solo

Cerita Anggota TRC BPBD Solo Kesulitan Makamkan Jenazah PDP Corona


Solopos.com/Mariyana Ricky P.D

Solopos.com, SOLO - Status kejadian luar biasa (KLB) corona Kota Solo telah berumur satu bulan. Selama masa itu pula, 24 jam Posko Siaga Covid-19 melayani keluhan, masukan, dan laporan masyarakat. Termasuk memakamkan jenazah pasien dalam pengawasan (PDP) corona.

Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solo, Hananto Leo, menjadi salah satu petugas yang berjaga di posko tersebut. Sejak ditugaskan, ia dua kali memakamkan jenazah PDP corona.

Dari dua kasus itu, yang terakhir menjadi yang paling berat. Pasalnya, hanya dia dan salah satu rekan TRC yang menangani jenazah itu sejak dari rumah sakit hingga pemakaman.

“Pagi sekali, saya mendapatkan telepon permintaan kantung mayat. Selanjutnya, minta ambulance untuk menjemput, kemudian mengantarkan. Setelah sampai rumah sakit, hanya ada satu keluarga PDP yang mengampiri," kata dia, saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa (14/4/2020).

Doakan Tenaga Medis Kena Corona, Netizen Ini Dibekuk Polisi

"Saya sendiri yang memasukkan jenazah ke plastik, kemudian dilapisi kantung mayat dan plastik lagi, baru dimasukkan ke peti yang masih dilapisi plastik lagi. Setelah itu saya semprot disinfektan. Tentu saja sebelum saya melakukan itu, saya sudah menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap,” imbuhnya.

Hananto dan rekannya kemudian membawa jenazah tersebut bertolak ke tempat pemakaman umum (TPU) menggunakan kendaraan PSC 119. Sesampainya di TPU, sejumlah juru kunci sudah selesai menggali liang. Namun, mereka semua menolak membantu memakamkan. Warga Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres itupun gundah.

Jika hanya dia dan rekannya tentu tidak akan mampu mengusung peti dan menguburkannya. “Kami negosisasi. Dari beberapa orang, hanya dua yang mau membantu. Saya memberikan mereka APD darurat dan memastikan keamanan jenazah. Setelah beberapa waktu, kami berempat mengeluarkan jenazah dari ambulance, lantas memasukkannya ke liang lahat. Tapi, proses penguburan hanya dilakukan berdua,” kisahnya.

Anies Baswedan Minta KRL Jabodetabek Dihentikan, Luhut Menolak

Hananto mengaku kesulitan meyakinkan juru kunci itu. Sejumlah pengertian disampaikan termasuk keamanan, hingga meminta mereka berbelas kasih dengan jenazah PDP itu. “Saya katakan, bagaimana kalau ini adalah keluarga bapak. Bagaimana kalau sampai nanti tidak ada yang membantu. Lama kelamaan mereka mau, meski hanya mengangkat dan menurunkan,” ucapnya.

Penolakan Karena Khawatir

Sementara, dalam dialog yang digelar lewat laman Youtube resmi RSUD dr. Moewardi (RSDM) Solo, Selasa pagi, dokter spesialis forensik dan medikolegal, dr. Novianto Adi Nugroho Sp.FM, mengakui kekhawatiran masyarakat terhadap persebaran virus Covid-19 dari jenazah PDP maupun pasien terkonfirmasi positif. Kekhawatiran tersebut memunculkan penolakan pemakaman jenazah pasien Covid-19 di berbagai daerah.

Namun, ia menjamin jenazah yang telah dipulasara dengan protokol tepat tidak akan menyebarkan virus di suatu wilayah. Hal ini disebabkan virus akan mati di dalam tubuh jenazah. Proses mengurus jenazah juga dilakukan oleh tim dengan APD lengkap. Sebelum dimasukkan ke dalam plastik, tim telah menutup semua lubang tubuh.

Rayakan HUT, Kopassus Kandang Menjangan Bagi-Bagi Sembako

“Jenazah sudah dikafani dan dibungkus plastik, kemudian kantung jenazah (tergantung ketersediaan), plastik lagi baru peti yang juga masih bisa dibungkus plastik. Ini untuk mencegah tembusnya cairan yang berpotensi membawa virus,” kata Novianto.

Ia kemudian menyebut keluarga boleh melihat prosesi pemakaman namun harus memperhatikan jarak sebagai upaya pembatasan fisik. Kemudian, pemakaman dianjurkan berjarak 500 meter dari pemukiman dan 50 meter dari sumber air.

Share
Dipublikasikan oleh
Ahmad Baihaqi