Cerdas! 2 Dukuh di Jetak Sragen Ini Ubah Sampah Jadi Barang Ekonomis
TPS 3R di Desa Jetak, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen. (Solopos.com/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN — Warga di Dukuh Mungkung dan Dukuh Ngepos, Desa Jetak, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah terlihat lebih bersih dari sampah akhir-akhir ini. Ini tidak lepas dari mulai beroperasinya tempat pengolahan sampah (TPS) reduce, reuse, dan recycle (3R) di wilayah setempat dalam dua bulan terakhir.

TPS 3R yang dibangun dengan anggaran sekitar Rp370 juta itu berdiri di bantaran Sungai Mungkung. Pada musim penghujan di tahun-tahun sebelumnya, sampah menjadi persoalan krusial bagi warga Dukuh Mungkung dan Ngepos.

Warga biasa membuang sampah di tepi sungai lalu terbawa air hingga menyumbat aliran sungai. Tidak heran bila dua dukuh itu jadi langganan banjir akibat luapan air dari Sungai Mungkung saat musim penghujan tiba.

"Dengan adanya TPS 3R, sekarang masalah sampah bisa diatasi. Warga tidak perlu bingung mau membuang ke mana sampah itu. Sampah rumah tangga cukup diletakkan di tong sampah di depan rumah masing-masing. Nanti, akan ada petugas lapangan yang bertugas mengambil sampah itu untuk dipilah dan diolah di TPS 3R," papar Kepala Desa Jetak, Siswanto, saat ditemui Solopos.com di lokasi, Jumat (20/11/2020).

Hari Ini Dalam Sejarah: 20 November 1979, Masjidil Haram Diserang

Pemdes Jetak Sragen telah mengalokasikan anggaran Rp70 juta untuk pembelian tong sampah di wilayahnya. Karena Pemdes Jetak tidak memiliki cukup anggaran, pengelolaan TPS 3R diserahkan kepada masyarakat.

Pengelolaan

Ada empat warga yang ditunjuk untuk mengelola TPS 3R. Tiga di antaranya merupakan pekerja lapangan yang bertugas mengambil sampah dari depan rumah warga dengan kendaraan roda tiga, memilah sampah dan mengolah sampah.

Di TPS 3R terdapat dua mesin yakni pencacah sampah plastik dan mesin pengolah sampah organik.

Diperkosa Teman saat Ditugaskan di Luar Negeri, Wanita Tentara Ini Nekat Bunuh Diri

"Masyarakat sudah berkumpul untuk membahas operasional TPS 3R. Mereka bersepakat membayar iuran Rp10.000/bulan/rumah. Dari dua dukuh itu ada 14 RT. Dalam sebulan terkumpul dana sekitar Rp6 juta. Rp4 juta di antaranya dipakai untuk gaji pengelola sampah. Sementara sisanya dipakai untuk operasional misal untuk membeli BBM, biaya listrik atau perawatan mesin," terang Siswanto.

Dalam sehari, TPS 3R mampu mengelola 3-4 kuintal sampah baik organik maupun anorganik. Dalam sepekan, TPS 3R bisa mengelola 2-3 ton sampah. Sampah organik diolah menjadi pupuk, sementara sampah unorganik, khususnya plastik diolah menjadi bijih plastik.

"Hasil penjualan dari pupuk organik dan bijih plastik itu 50% untuk kesejahteraan warga, sementara 50% masuk kas. Untuk mendukung operasional TPS 3R, kami berencana menambah kendaraan roda tiga dengan dana desa pada 2021," papar Siswanto.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom