Peta Maluku. (Wikipedia)

Solopos.com, AMBONPesan berantai berisi informasi tentang posisi Pulau Ambon dan Pulau Seram, Maluku di tubir jurang laut paling dalam di dunia viral. Informasi tersebut mengatakan Pulau Ambon dan Pulau Seram bakal ambles jika terjadi longsor palung laut.

Tetapi, Pusat Penelitian Laut Dalam (P2LD) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan informasi tersebut tidak benar bahwa. Posisi Maluku tidak berada di tubir jurang yang akan ambles jika ada longsor palung laut.

"Maluku tidak berada di tubir jurang. Memang ada palung laut tapi bukan jurang seperti dibayangkan masyarakat yang bisa longsor begitu saja," kata Kepala P2LD LIPI Nugroho Dwi Hananato, seperti dikabarkan Antara, Sabtu (12/10/2019).

Gambar pada pesan viral itu menampilkan kondisi perairan laut di sekitar Ambon. Pesan itu menyebutkan ancaman terbesar bagi wilayah Ambon bukanlah tsunami, melainkan patahan atau longsoran.

Jika bencana alam itu terjadi, maka Pulau Ambon, Seram, dan sekitarnya akan mengalami longsor dan masuk ke jurang palung longsor di dasar lautan. Peristiwa sejenis pernah terjadi pada 100 tahun lalu di Seram, tepatnya di Tanjung Elpaputih.

Nugroho Dwi Hananto menyatakan informasi tersebut tidak benar, sebab tidak memiliki landasan dan fakta ilmiah. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tidak panik dan khawatir akan terjadi bencana mengerikan sebagaimana disebutkan dalam pesan berantai tersebut.

"Itu bukan foto tiga dimensi tapi gambar data batimetri atau morfologi dasar laut yang dikirimkan dari satelit. Gambarnya diperkecil jadi jaraknya terlihat dekat tapi sebenarnya jaraknya jauh," ucapnya.

Ahli geologi itu menjelaskan palung laut terdalam di dunia bukan di Maluku, melainkan Palung Mariana di Kepulauan Mariana, Filipina, dengan kedalaman sekitar 11.000 meter di bawah permukaan laut. Sedangkan di Maluku, palung terdalam berada di Laut Banda, dengan kedalaman sekitar 7.700 meter di bawah permukaan laut.

Bebatuan penyusun lereng bawah laut di dalam zona subduksi seperti Laut Banda, umumnya tersusun oleh campuran kerak benua dan kerak samudera sehingga tidak mudah patah maupun longsor begitu saja. Dia menyebut belum ada bukti maupun fakta ilmiah yang bisa menjelaskan bahwa longsornya lereng Palung Banda juga bisa ikut menenggelamkan Ambon, Pulau-Pulau Lease, dan Seram.

"Kesimpulan itu terlalu dini. Kita tidak bisa berandai-andai, tidak gampang tiba-tiba longsor dan semuanya ikut tenggelam, tidak demikian. Batuan-batuan di dalam zona subduksi tersusun oleh campuran antara kerak benua, kerak samudera, keras sekali," ujar Nugroho.

Dia mengatakan selain gempa berkekuatan besar sebagai pemicu, ada berbagai faktor lainnya yang bisa memengaruhi longsornya lereng palung laut. Misalnya kestabilan lereng dan jenis bebatuan penyusun lereng bawah laut itu sendiri.

Gempa tektonik magnitudo 6,5 yang terjadi di Pulau Ambon dan sekitarnya pada 26 September 2019, juga gempa-gempa susulan dengan skala yang lebih kecil di bawahnya, seperti halnya gempa magnitudo 5,2 yang terjadi pada 10 Oktober 2019, tidak bisa memicu terjadinya longsor di Palung Banda.

"Gempa besar sekali yang terjadi di bawah laut yang memicu longsor, kalau gempanya hanya berskala 5,2 atau 3,2 atau enam koma berapa tidak akan memicu longsor di daerah ini, kurang kuat," katanya.

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten