Tutup Iklan
Cek Fakta: Drama Corona, Kenapa di Indonesia Tak Ada Pasien Bergelimpangan?
Unggahan @teluuur soal tuduhan drama corona. (Istimewa/Instgram)

Solopos.com, SOLO -- Sebuah unggahan di Instagram menayangkan video yang diduga terkait virus corona di China. Dalam unggahan itu, admin sengaja membuat tulisan bernada provokatif.

Cek Fakta: Klaim Klepon Tidak Islami False Flag & Siapa Abu Ikhwan Aziz?

Konten itu diunggah oleh akun Instagraam @teluuur. Unggahan itu terdiri atas empat slide. Pertama sebuah postingan gambar berisi teks “Drama Korona disutradai oleh WHO, diproduksi Bill Gates, ditayangkan tv dan disebarkan lewat medsos.”

Pada slide berikutnya ada sebuah video beresolusi rendah yang merupakan penggabungan beberapa rekaman peristiwa. Beberapa adegan yang ditunjukkan itu yakni seorang dokter pingsan terjatuh saat menoperasi pasien dan seorang perempuan menangis keras.

Cek Fakta: 71 Pasien Covid-19 Klaster Hajatan Boyolali Dilarikan ke Moewardi Hoaks

Berikutnya adegan tubuh pasien berguncang di ranjang dan lorong rumah sakit yang dipenuhi jenazah diduga pasien Covid-19. Terakhir ada seorang yang berdiri mendadak terjatuh.

Selanjutnya, ada sebuah gambar berisi teks “Kenapa sampai sekarang di Indonesia tak ada mayat bergelimpangan seperti di Wuhan China? Siapapun sutradaranya anda layak dapat piala Oscar.”

Cek Fakta: 71 Pasien Covid-19 Klaster Hajatan Boyolali Dilarikan ke Moewardi Hoaks

Terakhir, dalam slide itu ada sebuah gambar bertuliskan “Kenapa kakek buyut kita umurnya relatif panjang? Karena jaman dulu tidak ada tv dan media sosial.”
Unggahan itu dikirim dengan caption, “Faktanya hanya Drakor (drama korona) yang bisa mengalahkan rating sepak bola dan sinetron ftv [dilanjutkan emot menjulurkan lidah].”

Cek Fakta

Tim Cek Fakta Solopos.com menelusuri kebenaran informasi yang diunggah akun Instagram @teluuur tersebut. Penelusuran dimulai dari konten video. Video itu diunggah akun @teluuur pada 21 Juni 2020. Dalam video itu ada backcound lagu “My Immortal” karya Evanescene.

Dalam video itu terdapat tanda air @truthseekerindonesia. Dalam akun Instagram @truthseekerindonesia itu diunggah pada 26 Januari 2020. Video itu dilengkapi sebuah caption mengenai meninggalnya dokter asal China, Liang Wudong, 62, di Rumah Sakit Hubei, Xinhua. Liang meninggal akibat virus corona.

Dikutip dari Reuters, Liang Wudong dilaporkan meninggal dunia akibat virus corona pada 25 Januari 2020. Namun, cuplikan video seorang dokter terjatuh saat operasi itu bukanlah Liang Wudong.

Sosok itu merupakan Hu Gang, 25, seorang dokter di Rumah Sakit Rakyat Kabupaten Zhenxiong. Ia dikabarkan jatuh pingsan saat melakukan operasi, bukan meninggal dunia. Hal itu lantaran dr. Hu tidak sempat sarapan. Ia juga memiliki kadar gula rendah.

Sebelumnya, dr. Hu pulang bekerja pada Kamis, 16 Januari 2020 pukul 12.00 siang. Lalu ia kembali bekerja pada sore harinya pukul 17.00 hingga keesokan harinya, Jumat, 17 Januari 2020. Lalu, ia pingsan saat bertugas di tengah operasi.

“Selain itu ia memiliki gula darah rendah, yang menyebabkan pingsan setelah berjam-jam kelelahan dan bekerja, tidak ada salahnya setelah penyelamatan,” tulis akun Weibo Peramal Sohu.

Video diunggah oleh aku Weibo Peramal Sohu dengan judul “Cemas! Seorang dokter berusia 25 tahun di Yunnan pingsan selama operasi: kelelahan terus-menerus dari pekerjaan terus-menerus.” Video diperkirakan diunggah tak lama berselang setelah kejadian. Sebab, komentar pertama dalam video itu muncul tanggal 18 januari pukul 13.44 waktu setempat. Video dilihat 25.000 kali.

Seusai adegan dokter pingsan, ada cuplikan video seorang dokter yang menangis. Cuplikan yang diletakkan seusai dokter pingsan, seolah-olah menunjukkan tangis itu ditujukan untuk kematian Liang Wudong.

Karena Kelelahan

Padahal, faktanya tidak demikian. Video itu diunggah kali pertama oleh akun Twitter @vantillian pada 24 Januari 2020. Dia menuliskan, “One of my China mainland contacts (he is national Chinese) sent this to me this morning and then wrote: ‘China is lying’ and then explained the situation in #Wuhan is much worse than the world knows. #coronavirus [Salah satu kontak saya di daratan Tiongkok (dia berkebangsaan Tionghoa) mengirim ini kepada saya pagi ini dan kemudian menulis: "China berbohong" dan kemudian menjelaskan situasi di #Wuhan jauh lebih buruk daripada yang diketahui dunia. #virus corona].”

Dikutip dari Dailymail.co.uk, 27 Januari 2020, perempuan yang menangis itu merupakan dokter. Ia menangis lantaran kelelahan merawat pasien Covid-19 siang dan malam. Ia menangis sembari berteriak-teriak, “Aku tidak sanggup lagi.”

Sedangkan, pada cuplikan video yang menunjukkan sejumlah jenazah pasien Covid-19 di lorong rumah sakit merupakan rekaman di Rumah Sakit Palang Merah Wuhan.

Menurut akun Twitter Erza Cheung @ezracheungtoto disebutkan video itu kali pertama diunggah di Weibo. Namun, kini video itu sudah dihapus. “The lady in the clip says dead bodies were left at hospital aisles untreated whereas doctors are taking care of other patients alongside them. #WuhanPneumonia [Wanita dalam klip itu mengatakan mayat-mayat ditinggalkan di lorong-lorong rumah sakit tanpa perawatan sementara para dokter merawat pasien lain di samping mereka. #WuhanPneumonia],” tulis Ezra, dalam akun Twitter-nya 24 Januari 2020.

Kembali ke unggahan @teluuur, kenapa hingga kini di Indonesia tidak ada mayat bergelimpangan seperti di Wuhan, Tiongkok?

Dalam penanganan Covid-19, Pemerintah Indonesia terus meningkatkan kapasitas test termasuk menambah jumlah rumah sakit rujukan pasien Covid-19. Dikutip dari Covid19.go.id, per April, Pemerintah sedikitnya menyiapkan 10.000 tempat tidur di 1.000 rumah sakit rujukan Covid-19 di seluruh Indonesia.

Jumlah itu terus bertambah menjadi 755 RS rujukan Covid-19 per 26 Juni 2020. Kementerian Kesehatan melaporkan penanganan kasus Covid-19 melibatkan 12.329 dokter umum, 143.810 perawat, dan 27.879 bidan. Tak hanya itu, masih dtiambah 19.706 farmasi, 10.701 laboratorium medik dan 807 dokter spesialis paru.

Tenaga kesehatan lain yang terlibat dalam penanganan Covid-19 yakni 2.076 dokter spesialis anak, 1.615 dokter spesialis bedah, dan 127 dokter spesialis bedah thorax. Masih ditambah 1.457 dokter spesialis anestesi, 2.690 dokter spesialis penyakit dalam, dan 1.059 dokter spesialis radiologi.

Umur Rata-Rata Manusia

Dalam unggahan lainnya, @teluuur, menuliskan kenapa kakek buyut kita umurnya relatif panjang? Karena jaman dulu tidak ada tv dan media sosial. Klaim ini tidak tepat. Sebab, data Bank Dunia menyebutkan umur harapan Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, bukan sebaliknya.

Pada 1960, umur harapan hidup Indonesia hanya 46,66 tahun. Lalu meningkat menjadi 52,55 pada 1970 dan 58 tahun pada 1980. Angka itu terus meningkat menjadi 62,32 tahun (1990), 65,77 tahun (2000), dan 69,20 tahun (2010).

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, angka harapan hidup Indonesia pada 2019 mencapai 73,33 tahun untuk perempuan dan 69,44 untuk laki-laki.

Terkait media sosial dan televisi berdampak pada tingkat umur manusia, penelusuran Solopos.com belum menemukan ada jurnal ilmiah yang membahas hal ini. Keberadaan media sosial dan televisi berdampak terhadap kesehatan mental dan perilaku. Namun, tidak secara langsung berdampak pada umur pendek harapan hidup manusia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Pasang Baliho