Cegah Stunting, Dinkes Boyolali Lauching Pil Ratri
Ilustrasi Stunting (Whisnupaksa)

Solopos.com, BOYOLALI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali meluncurkan tablet penambah darah dan pencegah stunting untuk wanita. Tablet yang diberi nama pil remaja putri (pil ratri)diluncurkan dalam seminar bertajuk Gizi Optimal untuk Generasi Milenial.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Boyolali, Ratri Survivalina, mengatakan pemerintah pusat mengupayakan penurunan permasalahan anemia yang di derita hampir 50% remaja putri.

Terdampak Flyover Purwosari Solo, Bagaimana Nasib Tugu Tabanas?

“Kami perlu meningkatkan kewaspadaan. Nantinya remaja wanita akan melahirkan generasi baru. Nah ini bahaya jika remaja yang anemia melahirkan, maka bayi berpotensi mengalami stunting. Padahal stunting itu merupakan keterlambatan pertumbuhan, baik fisik maupun kognitif. Dan ini sangat berbahaya,” kata Ratri Survivalina saat ditemui Solopos.com seusai kegiatan, Selasa (28/1/2020).

Ibu harus diberi asupan gizi yang cukup dan seimbang sejak awal kehamilan. Ibu hamil tidak boleh mengalami anemia. Nah, pil ratri itu berfungsi sebagai suplemen yang bisa membantu mengatasi anemia.

Menyedihkan! Bayi Laki-Laki Dibuang di Saluran Irigasi Tulung Klaten

“Untuk mencegahya harus melakukan gerakan masyarakat hidup sehat. Selain itu mengkonsumsi pil ratri sekali dalam sepekan. Pil ini adalah suplemen yang bisa menekan jumlah remaja putri yang mengalami anemia,” sambung Ratri Survivalina.

Dia berharap seminar yang dihadiri sekitar 400 siswi itu bermanfaat bagi masa depan mereka. Dia ingin mereka yang hadir bisa menjadi agen perubahan dan mengedukasi orang di sekitar. “Harapannya 400 orang ini bisa menjadi remaja yang bebas anemia, remaja yang tetap sehat, bugar dan produktif,” kata Ratri Survivalina.

Mau Coba Rica-Rica Bulus? Kuliner Ekstrem Ini Ada di Wonogiri Loh...

Ratri Survivalina mengatakan, stunting tidak bisa dianggap sepele karena berdampak besar bagi pertumbuhan anak. Adapun dampak yang dirasakan jangka pendek yakni perkembangan anak-anak terhambat, penurunan fungsi kekebalan tubuh, dan berisiko kematian pada balita.

“Untuk dampak jangka panjang saat dewasa yakni mudah mengalami kegemukan, sehingga rentan serangan penyakit tidak menular seperti jantung, strok, ataupun diabetes,” tandasnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho