Infografis Demam Babi Afrika (Solopos/Whisnupaksa)

Solopos.com, KARANGANYAR -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar mewaspadai penyebaran virus hog cholera melalui perantara manusia dan budaya memberi pakan babi dari sampah.

Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Karanganyar mengantisipasi penyebaran virus penyebab demam babi klasik itu melalui sejumlah cara. Dimulai dari sosialisasi kepada 180-an peternak babi di Kabupaten Karanganyar hingga mengecek kesehatan hewan dan mengambil contoh dari kandang babi.

Dokter Hewan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Karanganyar, Sutiyarmo, menjelaskan pengecekan kandang dan hewan dilakukan sejak dua bulan lalu saat virus African Swine Fever (ASF) menyebar di Sumatra Utara.

"Kami mengecek kandang dan sampaikan informasi soal penyebaran virus itu. Kami ambil sampel ke 60 peternakan berskala kecil. Sisanya peternak besar dengan kapasitas 150 ekor hingga lebih dari 500 ekor per kandang. Bekerja sama dengan Balai Besar Veteriner Wates karena mereka mau membuat kajian epidemologi. Angka kematian virus ini mencapai seratus persen," kata Yarmo saat berbincang dengan wartawan di ruang kerjanya, Kamis (23/1/2020).

Balai Besar Veteriner Wates mengecek kemungkinan virus masuk ke Karanganyar melalui wilayah mana dan cara apa. Mereka mewawancarai pengirim, tukang jagal, makelar babi, dan peternak.

Wawancara dengan peternak membahas budaya peternak memberi makan babi menggunakan sampah sisa makanan. Peternakan babi di Kabupaten Karanganyar berada di Kecamatan Jaten, Gondangrejo, Kebakkramat, Jumantono, dan Mojogedang. Babi maupun daging babi dari Karanganyar dikirim ke Jakarta dan Tangerang.

"Faktor utama penyebaran virus di Karanganyar bisa jadi lewat makanan sampah, sisa makanan dari restoran, tempat pembuangan sampah. Rata-rata peternak kecil yang memberi makan sampah pada babi. Kami ingatkan mereka kalau mau kasih makan sampah, direbus dulu," jelas dia.

Pemkab Karanganyar juga berupaya membangkitkan kesadaran peternak menerapkan bio security. Salah satu pertimbangan adalah peternakan babi menjadi investasi bagi sebagian orang.

Pemkab mengingatkan peternak agar lebih peduli kebersihan dan sterilisasi kandang, vaksi, pakan, dan lain-lain. Yarmo menjelaskan virus tersebut tidak menular kepada manusia tetapi manusia bisa menjadi sarana penyebaran virus.

"Sampai sekarang belum ada ASF di Karanganyar. Tetapi kami mengantisipasi. Virus itu bisa bertahan lama di daging babi beku dan segar. Tidak ada efek kepada manusia. Tetapi penyakit ini baru di Indonesia dan angka kematian tinggi. Penularan virus lewat pakan, peralatan, kendaraan, manusia. Maka dari itu mari saling menyadarkan. Lebih perketat bio security," tutur dia.

2 Warga di Colomadu Karanganyar Terjangkit Leptospirosis, 1 Orang Lainnya Meninggal

Yarmo menyampaikan penyebaran virus cepat dan bisa menular melalui interaksi antarbabi, antarkandang, maupun ternak dengan manusia, peralatan, kendaraan, pakan yang telah terkontaminasi, dan lain-lain. Dia menyebut penyebaran di satu wilayah cepat karena interaksi peternak babi terbatas dengan sesama peternak babi.

"Kalau sudah masuk Karanganyar maka cepat menyebar. Gejalanya mirip hog cholera. Babi demam, di kulit telinga dan badan ada semacam pendarahan atau warna merah lama kelamaan cokelat. Virus menyerang segala umur ternak. Virus itu dari China ke Thailand, Vietnam, Philipina, Timor Leste, ke Medan. Kandang yang tidak menerapkan bio security akan gampang terserang," urai dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten