Cegah Lonjakan Kasus Covid-19, Perketat Mobilitas Warga
Liburan akhir tahun (ilustrasi/Freepik)

Solopos.com, SOLO--Pemerintah memperketat mobilitas warga selama libur panjang akhir tahun 2020. Tujuannya demi mencegah lonjakan kasus baru akibat penularan Covid-19 di Indonesia.

Pengetatan mobilitas ini berlaku mulai 19 Desember 2020 hingga 8 Januari 2021. Warga harus mematuhi beberapa aturan baru wajib melaksanakan protokol kesehatan 3M yakni memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan serta mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer.

Pelaku perjalanan juga wajib memakai masker dengan benar yaitu menutup hidung dan mulut menggunakan masker kain minimal tiga lapis atau masker medis.

“Tidak diperkenankan makan dan minum sepanjang perjalanan penerbangan kurang dari dua jam kecuali bagi orang yang wajib mengonsumsi obat untuk keselamatan dan kesehatannya,” kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, kepada Solopos.com, Minggu (20/12/2020).

Hal serupa juga dilakukan di Karawang. Bupati Karawang, Cellica Nurrachadiana, mengatakan sejak 20 Desember 2020, Pemkab membatasi waktu operasional kafe, restoran, rumah makan, dan sejenisnya hingga pukul 20.00 WIB. Semua layanan pemesanan harus dibawa pulang atau take away.

Klopp Akui Liverpool Ceroboh Seusai Gagal Menang Lawan West Brom

Pemkab juga akan menutup jalur-jalur keluar dan masuk Karawang. Sebab, selain menjadi perlintasan, Karawang juga memiliki potensi wisata yang menjadi jujukan orang berlibur. Bupati Karawang juga meniadakan perayaan tahun baru. Pemkab bersama Forkompimda akan menggelar sweeping pada malam tahun baru dimulai sejak H-2.

Selain itu, ada pembatasan jam operasional objek wisata dan hanya berlaku untuk masyarakat setempat dan tidak boleh ada pengunjung dari luar daerah.

“Itupun dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Orang Karawang diimbau enggak boleh keluar. Tidak ada acara yang berpotensi menimbulkan kerumunan,” kata Cellica, dalam Talkshow virtual yang digelar Satgas Penanganan Covid-19, Senin (21/12/2020).

Anggota Tim Pakar Covid-19 Bidang Perubahan Perilaku, Turro Wongkaren, mengatakan dampak libur panjang cenderung terjadi peningkatan kasus baru. Meski masyarakat dihadapkan pada kebosanan, masyarakat harus menyadari pilihan terbaik saat ini adalah tetap berada di rumah dan menerapkan protokol kesehatan.

“Kalau kita abai protokol kesehatan, risiko terkena Covid akan sangat tinggi. Apalagi kerumunan di beberapa tempat seperti lokasi wisata sangat mungkin menyebarkan Covid-19,” kata dia.

Kelelahan

Saat ini, masyarakat terdapat indikasi mengarah ke situasi pandemic fatigue atau kelelahan pandemi. Pada Maret-April, masyarakat melaksanakan protokol kesehatan secara ketat. Namun, lama kelamaan timbul kesan terserah. Masyarakat berpikir terkena Covid adalah takdir. Pandangan ini justru berbahaya.

“Salah satunya akibat budaya instan. Ini termasuk juga di dalam kalau [menganggap] dapat penyakit tapi sembuhnya cepat. Kalau ternyata enggak sembuh cepat atau pandemi lama, orang frustrasi. Akibatnya orang tidak lagi mengindahkan pentingnya protokol kesehatan. Ini justru membuat pandemi makin lama,” kata Turro.

Catat Ya, Naik Mobil Pribadi Tak Wajib Jalani Rapid Tes Antigen

Turro yang juga menjabat Kepala Lembaga Demografi FEB Universitas Indonesia itu menyebutkan tantangan lain adalah masih adanya stigma terhadap orang terinfeksi Covid-19. Stigma ini berasal dari dalam diri individu dan cara pandang masyarakat dalam menilai seseorang. Stigma dari dalam individu misalnya anggapan bahwa jika ada orang tua tertular, yang menularkan itu adalah anak yang bekerja di luar. Kedua sumber stigma ini sama-sama berbahaya.

“Ada juga ketakutan-ketakutan dalam diri sendiri. Sedikit berbeda dibanding April, saat itu banyak yang tidak diketahui masyarakat. Sekarang masyarakat tahu lebih baik tapi masih ada hal-hal yang bikin takut ketika dinyatakan positif misalnya faktor ekonomi,” tutur Turro.



Berita Terkini Lainnya








Kolom