Cegah Kerumunan, Hajatan di Wonogiri Masih Dilarang

Pemkab Wonogiri menegaskan hajatan masih dilarang di wilayahnya.

SOLOPOS.COM - Ilustrasi hajatan, (Antara)

Solopos.com, WONOGIRI -- Pemerintah Kabupaten Wonogiri menegaskan hajatan masih dilarang di wilayahnya karena pandemi Covid-19. Masyarakat pun diminta untuk tetap mematuhi aturan tersebut.

Hajatan di Wonogiri masih dilarang lantaran adanya penambahan kasus Covid-19 yang didominasi oleh klaster perjalanan. Salah satu budaya di Wonogiri ketika ada orang menggelar hajatan yakni keluarga di perantauan atau kota-kota besar pulang kampung.

Di sisi lain, ditetapkannya Wonogiri sebagai zona oranye dalam persebaran kasus Covid-19 belum lama ini juga menjadi alasan Pemkab Wonogiri melarang warga menggelar hajatan yang menimbulkan keramaian.

Flyover di Mranggen Dinamai Ganefo, Nilainya Rp109 M, Dikerjakan Tahun Ini

Plt Bupati Wonogiri, Edy Santosa, mengatakan model acara pernikahan yang boleh digelar yakni dihadiri maksimal 50 orang. Misalnya cuma melaksanakan acara ijab kabul.

"Mau melaksanakan ijab kabul mangga, silahkan. Tapi maksimal 50 orang, keluarga dekat dan tetangga dekat saja yang diundang. Jangan sampai acara menjadi perkumpulan massa," kata dia kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (30/9/2020).

Ia menegaskan, warga yang mempunyai acara pernikahan agar tidak menyebar undangan dahulu, terlebih menggelar acara hiburan dalam hajatan. Karena hal itu sangat berpotensi menimbulkan kerumunan.

"Kami meminta kesadaran masyarakat untuk mentaati imbauan pemkab. Hal itu dalam rangka mencegah persebaran Covid-19. Jika warga disiplin dan bisa mencegah kerumunan, maka ada keyakinan persebaran Covid-19 bisa diantisipasi," ungkap dia.

Saat berencana menggelar acara pernikahan, menurut dia, harus mendapatkan izin dari Polsek setempat. Jika tidak melakukan izin, pihak terkait mempunyai wewenang untuk membubarkan acara itu.

"Izin terhadap aparat kepolisian wajib. Kami meyakini jika hajatan atau acara pernikahan berpotensi menimbulkan kerumunan, pihak kepolisian akan melarang atau tidak diizinkan digelar. Karena selaras dengan kebijakan Pemkab," ungkap dia.

Jogo Tonggo

Ia mengimbau agar masyarakat menerapkan program jogo tonggo untuk mengantisipasi warga menggelar hajatan. Jika ada tetangganya atau warga yang masih dalam satu desa berencana menggelar hajatan, supaya dicegah.

"Diperingati, dielengke tonggone. Bahwa persebaran Covid-19 masih berlangsung. Jika terjadi kerumunan, semua berpotensi terpapar Covid-19. Itu sebagai bentuk menjaga diri sendiri, keluarga, tetangga dan antar sesama," kata dia.

Bakal Usir Eceng Gondok Rawa Jombor, Aquatic Harvester Diuji Coba

Edy menjelaskan, jika hajatan tetap digelar dengan skala besar dan menimbulkan kerumunan, maka yang akan mengalami kerugian semua pihak. Dulu saat Wonogiri masuk zona hijau, pemkab sudah menyiapkan skema kegiatan atau aktivitas dalam tatanan baru.

Hal itu menunjukkan bahwa kebijakan Pemkab itu benar-benar mendasari perkembangan kasus Covid-19 di Wonogiri. Jika sudah tidak ada kasus, maka kegiatan diperbolehkan dengan ketentuan yang telah disiapkan Pemkab.

"Meski dalam hajatan sudah ada antisipasi pencegahan, jika kasus Covid-19 di Wonogiri masih bermunculan maka masih berpotensi. Maka kami tegaskan jangan nekat menggelar hajatan," kata Edy.

Berita Terbaru

50 Warga Sukoharjo Terjaring Razia Masker, Mayoritas Anak Zaman Now

Solopos.com, SUKOHARJO -- Sebanyak 50 warga terjaring razia masker oleh tim gabungan Pemkab Sukoharjo bersama TNI/Polri pada Selasa (20/10/2020)....

Pemdes Dibal Boyolali Tegaskan Penerapan Protokol Kesehatan Lewat Surat Edaran

Solopos.com, BOYOLALI - Pemerintah Desa Dibal, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, mengeluarkan surat edaran kepada ketua RT dan RW terkait...

Ramai, Begini Cara TSTJ Solo Pastikan Pengunjung Anak-Anak Berusia Lebih dari 5 Tahun

Solopos.com, SOLO — Taman Satwa Taru Jurug atau TSTJ Solo mulai ramai didatangi pengunjung anak-anak setelah Pemerintah Kota (Pemkot)...

Nyetir Mobil Sendirian Tetap Wajib Pakai Masker, Nanti Kena Razia Loh!

Solopos.com, SOLO – Penerapan protokol kesehatan 3M, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak wajib diterapkan dalam upaya memutus...

BUM Desa Kemudo Makmur Klaten Tetap Eksis di Tengah Pandemi

Solopos.com, KLATEN -- Di saat sejumlah usaha kolaps akibat pandemi Covid-19, namun tidak dengan Badan Usaha Milik (BUM) Desa...

Satgas Covid-19 Karanganyar Gencarkan Razia di Daerah Pinggiran dan Pasar Tradisional

Solopos.com, KARANGANYAR -- Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Karanganyar gencar melaksanakan sosialisasi dan operasi protokol kesehatan di pasar tradisional dan...

Pemdes Sawahan Boyolali Manfaatkan Grup WA Untuk Kampanye Protokol Kesehatan

Solopos.com, BOYOLALI - Menerapkan protokol kesehatan menjadi hal penting yang dilakukan saat pandemi Covid-19. Kampanye terkait protokol kesehatan ini...

Strategi Pengelola Objek Wisata di Wonogiri Bertahan dari Pandemi, Beralih ke Usaha Kuliner

Solopos.com, WONOGIRI — Pengelola sejumlah objek wisata di Wonogiri mengubah konsep menjadi usaha kuliner. Itu semua demi bisa bertahan...

Razia Masker Rambah Mal dan Swalayan Sukoharjo, Puluhan Orang Terjaring

Solopos.com, SUKOHARJO -- Tim gabungan Pemkab Sukoharjo, TNI, dan Polri menggelar razia masker dengan sasaran toko swalayan dan mal...

Bikin Haru, Begini Solidaritas Warga Gandekan Solo untuk Tetangga yang Menjalani Karatina

Solopos.com, SOLO--Belasan perempuan berpakaian putih hitam memasak tumis tempe, tumis tahu, telur goreng, dan Soto di Pos Kampling RW...