Catur dan Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 1 April 2021. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

 Lukmono Suryo Nagoro (Istimewa/Dokumen pribadi)

SOLOPOS.COM - Lukmono Suryo Nagoro (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Olahraga catur di Indonesia kembali bergeliat. Diawali dengan kontroversi tentang Dadang Subur alias Dewa Kipas yang mengalahkan International Master Levy Rozman (@GothamChess) dalam pertarungan secara daring di Chess.com.

Pertarungan catur ini kemudian berakhir dalam pertandingan catur cepat antara Dewa Kipas melawan perempuan Grand Master Irene Karisma Sukandar. Pertarungan keduanya berlangsung dengan difasilitasi eks pesulap Deddy Corbuzier dan ditayangkan di kanal Youtube.

Penontonnya mencapai 1,25 juta. Artinya, satu di antara 28 penduduk Indonesia melihat pertandingan catur tersebut. Pertandingan catur itu merupakan bentuk “kenekatan” Dadang Subur membuktikan dirinya bisa bermain catur.

Kemenangan Dewa Kipas atas @GothamChess dicurigai ada kecurangan. Menurut algoritme yang digunakan oleh Chess.com dan analis Percasi, langkah catur Dewa Kipas ditengarai menggunakan robot ketika melawan @GothamChess lantaran presisi langkahnya rata-rata 90% dalam 27 pertandingan.

Pecatur sekelas grand master sekalipun akurasi langkahnya tidak bisa konsisten dalam jangka waktu lama. Selain itu, Dadang Subur bisa dianggap sebagai ikon yang membangkitkan gairah olahraga catur di Indonesia.

Orang yang bermain catur di klub-klub catur akan makin banyak. Catur tiga langkah ala-ala pasar malam akan ramai lagi. Buku-buku analisis langkah catur akan dibaca lagi. Lantai-lantai rumah akan bernuansa putih hitam papan catur.

Semuanya merupakan kemungkinan 1.001 euforia yang akan terjadi. Dwitarung Dewa Kipas versus Grand Master Irene dengan total hadiah Rp300 juta ini membawa saya mengingat sebuah film mengenai Bobby Fischer yang berjudul Pawn Sacrifice.

Film ini bercerita tentang karier Bobby Fisscher dari pecatur yunior sampai menjadi juara dunia. Bobby meraih grand master pada usia 13 tahun. Sejak saat itu, Bobby berambisi menjadi juara dunia catur termuda dengan mengalahkan pecatur Rusia.

Mimpi Bobby menjadi juara catur termuda terganjal karena para pemain catur Rusia bermain secara berkelompok atau saling menolong dan itu berakibat pada nilai yang diraih Bobby yang tidak mungkin mengungguli perolehan nilai pecatur Rusia. Argumen Bobby waktu itu adalah Rusia bermain curang dan itu menghalangi dirinya menjadi juara dunia.

Siapa pun yang menjadi juara dunia tidaklah sah karena tidak ada dirinya. Sejak saat itu Bobby pun bertekun sendirian. Membaca buku catur dan menganalisis langkah-langkah pertandingan yang dilakukan oleh pecatur Rusia selama delapan jam setiap hari.

Sampai akhirnya dia bertemu Paul Marshall, seorang pengacara (dimainkan oleh Michael Stuhlbarg) dan seorang pendeta, sekaligus bertemu mantan pecatur bernama Bill Lombardy (dimainkan oleh Peter Sarsgaard). Keduanya mendampingi Bobby sampai meraih gelar juara dunia.

Kembalinya Bobby Fischer setelah kegagalan menjadi juara dunia adalah pertandingan persabahatan antara Amerika Serikat dan Rusia. Bobby mulai menunjukkan jati dirinya sebagai pecatur yang bengal dan rewel. Sebelum pertandingan, Bobby sempat menghilang di kamar mandi.

Ketika bertemu Bobby, Paul berkata Ivanovich yang adalah pecatur nomor tiga dunia. Bobby dengan rileks menjawab sekarang nomor empat. Itu benar-benar terjadi. Bobby mengalahkan Ivanovich. Setelah pertandingan tersebut, Bobby mulai rewel. Bobby mulai meminta honor.

Panggung

Jika pecatur Rusia naik limosin ke pertandingan, Bobby juga ingin. Jika Rusia menginap di hotel berbintang, Bobby juga ingin. Benar-benar rewel sekali. Bobby berasumsi kemenangannya atas Ivanovich menaikkan rating namanya. Foto profilnya ada di halaman depan koran terkenal.

Jika penonton membayar tiket untuk menonton dirinya seharga US$5 dan ada 1000 penonton, Bobby menuntut honor sepertiganya, yaitu sekitar US$1.500 dollar. Monetisasi yang dilakukan Bobby itu pada masa sekarang diulang oleh Deddy Corbuzier.

Pecatur yang menang mendapatkan Rp200 juta dan yang kalah mendapatkan Rp100 juta. Adapun Deddy Corbuzier bisa mendapatkan dua kali lipat dari nilai hadiah. Bedanya, Bobby ingin kemenangannya dihargai secara pantas karena pecatur Rusia juga mendapatkan fasilitas yang pantas, sedangkan Deddy ingin memperoleh keuntungan dari tantangan Dewa Kipas kepada Grand Master Irene.

Kiprah Bobby terus berlanjut. Kemenangan demi kemenangan dia raih untuk menantang Boris Spassky, sang juara bertahan. Ketika tanggal pertandingan melawan Boris Spassky sudah ditentukan, Bobby yang sudah sampai bandara tidak mau terbang karena persoalan uang. Bobby ingin US$46.875 ada di rekening banknya sebelum bermain.

Ketidakberangkatan Bobby ke Islandia melawan Spassky tidak melulu soal uang. Bobby memiliki banyak persyaratan seperti tidak ada wartawan pada waktu berangkat dan tidak ada spionase terhadap dirinya.

Setelah mendapatkan tambahan US$130.000 dan telepon dari Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, waktu itu, Henry Kissinger, yang membujuk agar mau datang ke Islandia dan bertanding demi negara, akhirnya Bobby mau melawan Boris Spassky.

Sesampai di Islandia dan kekalahan pada partai pertama melawan Spassky, Bobby kembali rewel. Bobby mengajukan syarat bahwa dia ingin bertanding di ruangan yang sepi dan tidak ada suara sama sekali agar konsentrasinya tidak terganggu. Syarat Bobby ini disetujui oleh Spassky.

Mereka berdua bertanding di ruangan yang sepi itu dengan dipancarkan melalui video ke ruangan utama. Penonton melihat mereka bertanding seperti kita menonton pertandingan Dewa Kipas dan Grand Master Irene melalui kanal Youtube.

Bobby maupun Dewa Kipas memiliki sedikit persamaan. Pertama, keduanya sangat menggemari catur. Kedua, ini yang penting, Bobby dan Dewa Kipas membangun panggungnya sendiri. Bobby membangun panggungnya sendiri dalam rangka ingin meruntuhkan dominasi pecatur Rusia. Bobby ingin menunjukkan kepada dunia bahwa pecatur Rusia bisa dikalahkan.

Film itu menggambarkan impian Bobby sebagai anak miskin dari Brooklyn melawan imperium Rusia sebagai mimpi sempurna Amerika Serikat. Dewa Kipas juga membangun panggungnya sendiri. Dia memanfaatkan Chess.com untuk melawan @GothamChess dan kebetulan bisa mengalahkan.

Banyak dukungan sekaligus kritikan yang mengalir kepadanya sampai akhirnya mendapatkan fasilitas bertanding dengan Grand Master Irene. Banyak pecatur amatir mengidam-idamkan bertanding melawan pecatur top, tetapi tidak pernah bisa. Dewa Kipas mendapatkannya dengan mudah sekaligus mendapat hadiah Rp100 juta.

Inilah yang mungkin dinamakan mimpi sempurna pecatur amatir yang setiap hari bertanding di warung kopi dan klub catur yang bertebaran di pinggir jalan. Mimpi tampil di panggung yang dilihat banyak orang dan mendapat uang banyak.

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Berita Terkini

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.

Sepekan Penuh Kejutan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 6 Agustus 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pidana Sumbangan Rp2 Tiliun dan Hoax yang Difasilitasi

Opini ini ditulis Ahmadi H. Dardiri M.H., Sekjen Pusat Studi Peraturan Perundang-undangan (PSPP) IAIN Salatiga dan Dosen Fakulutas Syariah IAIN Salatiga