Kategori: Nasional

CATATAN 2017 : Eksportir Solo Optimistis Menatap 2018


Solopos.com/Asiska Riviyastuti/JIBI/Solopos

Eksportir Solo menatap optimistis tahun 2018.

Solopos.com, SOLO — Kinerja ekspor Solo belum mengalami perbaikan signifikan di tahun ini karena kenaikan masih lambat. Namun eksportir optimistis menatap tahun depan yang dinilai memiliki banyak peluang.

Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Soloraya, Adi Dharma S., menyampaikan tahun ini mulai ada perbaikan meski belum signifikan.

Hingga November tercatat nilai ekspor mebel kayu di Solo sebanyak US$968.469,35. Meski belum tutup tahun tapi capaian tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan realisasi ekpsor sejak 2014 yang berada di bawah US$700.000.

Ekspor mampu tumbuh lebih baik meski ada beberapa permasalahan yang menghambat di tahun ini, di antaranya adalah kenaikan biaya produksi yang dipicu dari kenaikan harga kayu Kalimantan sebanyak 30%. Kayu Kalimantan selama ini menjadi alternatif dari kayu Jawa yang harganya lebih mahal.

Regulasi juga masih menjadi kendala, seperti batasan impor bahan baku. Penetrasi pasar di tahun ini juga belum maksimal, bahkan perluasan pasar baru tidak sebanyak tahun lalu. Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) juga masih menjadi kendala karena menambah biaya produksi.

“Ketersediaan bahan baku yang kompetitif yang tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat kualitas. Wacana ekspor kayu log juag menjadi ancaman penurunan daya saing,” ujar Adi kepada Solopos.com, Kamis (28/12/2017).

Pengembangan Ekspor

Dia menilai tahun depan ada potensi pengembangan ekspor mebel. Hal ini didukung dengan kegiatan pameran di sirkuit ASEAN (Filipina, Thailand, Malaysia, Vietnam, Singapura, dan Indonesia) pada April-Maret mendatang.

Pihaknya pun berharap Badan Promosi Nasional bisa segera direalisasikan untuk memperluas pasar, terutama di pasar nontradisional, seperti Amerika Latin dan Afrika. Badan Promosi Nasional ini juga diharapkan dapat mendukung promosi pameran dengan mendatangkan buyer berkualitas.

“Pelaku usaha juga dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif yang berkaitan dengan desain dan pemilihan bahan baku untuk menghadapi persaingan yang ada,” kata dia.

Dia mengatakan tak hanya potensi ekspor, pengembangan potensi dalam negeri pun masih terbuka karena jumlah penduduknya yang besar. Pembangunan infrastruktur juga mendukung pembangunan properti, seperti rumah, apartemen, dan perkantoran sehingga menggenjot kebutuhan mebel.

“Pelaku usaha juga harus mengantisipasi mebel sebagai lifestyle,” ujarnya.

Adi menjelaskan lifestyle mebel secara perlahan mulai terbentuk yang didukung adanya selebgram untuk hunian rumah yang biasanya menampilkan dan mix match berbagai furniture yang dimiliki. Penetrasi pasar dalam negeri pun dilakukan dengan mengandalkan Koperasi Industri Mebel dan Kerajinan Soloraya (Kimkas) melaui dua showroom yang dimiliki, yakni di The Park Mall dan Graha Soloraya.

Tekstil

Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jateng, Liliek Setiawan,menyampaikan secara nasional kinerja ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) mengalami kenaikan. Hingga triwulan III, realisasi ekspor mencapai US$11,8 miliar. Hal tersebut telah melebihi capaian ekspor TPT tahun lalu yang hanya US$11,5 miliar.

Prospek ke depan lebih bagus karena pemerintah melarang impor borongan sehingga mengurangi persaingan tidak sehat karena masuknnya impor illegal.

Liliek menyampaikan kenaikan harga minyak dunia memberi dampak positif terhadap kinerja ekspor karena pasar internasional menggeliat. API pun mendukung pemerintah untuk meningkatkan ekspor langsung melalui kerja sama bilateral.

“Dukungan pemerintah terhadap industri padat karya sangat bagus yang tercantum Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional [RIPIN]. TPT termasuk industri unggulan sampai 2030 yang diharapkan dapat memberi dampak positif. Apalagi di tahun depan ada 20 free trade agreement untuk produk tekstil, kopi, dan alas kaki,” kata dia.

Share
Dipublikasikan oleh
Rini Yustiningsih