Cara Lezat dan Aman Turunkan Tekanan Darah Tinggi
Ilustrasi cek hipertensi (Freepik)

Solopos.com, JAKARTA- Pakar kesehatan selalu menganjurkan Anda menerapkan pola makan tinggi serat dan rendah lemak serta gula dapat membantu menurunkan risiko berbagai penyakit termasuk tekanan darah tinggi atau hipertensi.

Jika Anda menambahkan juga flavanol yang biasanya ditemukan dalam buah beri, apel, kacang-kacangan, teh, cokelat, dan makanan lainnya, Anda mungkin bisa membantu tekanan darah Anda turun, menurut sebuah penelitian dalam jurnal Scientific Reports, seperti dilansir dari Medical Daily, Jumat (23/10/2020).

Untuk sampai pada temuan ini, para peneliti di University of Reading mempelajari diet lebih dari 25.000 orang di Norfolk, Inggris. Mereka membandingkan makanan yang dikonsumsi para partisipan dengan pengaruhnya terhadap tekanan darah mereka.

Para peneliti menemukan, ada perbedaan tekanan darah 2-4 mmHg, pada mereka yang asupan flavanolnya terendah dan tertinggi. Kondisi serupa juga ditemukan pada orang yang menjalani diet Mediterania.

Cegah Covid-19, Rapid Test Digelar Sebelum dan Sesudah PTM di Solo

Mengubah Pola Makan

Satu makalah dalam Sports Medicine mengungkapkan, flavanol kakao membantu mengatur tekanan darah pada partisipan yang mengalami obesitas selama berolahraga. Para peneliti sepakat flavanol kakao dapat membantu tekanan darah dan stres akibat olahraga.

Ingatlah untuk berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum mengubah pola makan Anda secara drastis, karena menambah atau mengurangi jenis makanan tertentu dapat memengaruhi kesehatan Anda secara keseluruhan.

Buah-buahan termasuk salah satu sumber utama flavanol sehingga menjadi rekomendasi para pakar kesehatan. Mereka dengan diabetes tipe 2 mungkin makan buah untuk membantu mengatur tekanan darah.

Di sisi lain, asupan buah yang tinggi tidak mungkin menyebabkan efek samping. Tapi mencampurnya dengan makanan lain bisa menimbulkan masalah. Rekomendasinya, sekitar 20 porsi buah-buahan per hari atau 200 gram fruktosa sehari tidak menimbulkan efek samping apa pun.

Melonjak, Sukoharjo Catat 6 Kasus Kematian Pasien Positif Covid-19 Dalam Sepekan

Rajin Pantau Tekanan Darah saat Pandemi

Perhimpunan Hipertensi Indonesia (Indonesian Society of Hypertension) menekankan hipertensi adalah salah satu penyakit bawaan (komorbid) yang berbahaya pada pasien Covid-19 dan merekomendasikan orang-orang untuk memonitor tekanan darah mereka lebih sering selama pandemi.

“Panduan dari American Heart Association (AHA) menekankan bahwa penderita hipertensi akan menghadapi risiko komplikasi yang lebih parah jika mereka terinfeksi virus Covid-19,” ucap dokter spesialis penyakit dalam Tunggul Situmorang, Ketua Umum Indonesian Society of Hypertension (InaSH), dalam OMRON & InaSH Virtual Media Briefing, seperti dilansir Antara belum lama ini.

Tunggul menganjurkan agar orang-orang lebih memperhatikan risiko hipertensi dengan melakukan pengecekan tekanan darah di rumah secara lebih teratur.

Kementerian Kesehatan mengungkapkan 13,3 persen pasien Covid-19 dengan penyakit bawaan atau komorbid hipertensi atau tekanan darah tinggi meninggal dunia.

Penyakit hipertensi menjadi faktor risiko paling tinggi menyebabkan pasien Covid-19 meninggal dunia diikuti oleh penyakit komorbid lainnya seperti diabetes, jantung koroner, dan gagal ginjal.

Dari 1.641 orang pasien Covid-19, sebagian besar berpenyakit bawaan hipertensi dengan persentase 50,8 persen. Tunggul mengatakan, banyak pengidap hipertensi yang tidak mengalami gejala apa pun sehingga merasa dirinya dalam kondisi sehat. "Oleh karena itu, harus sering mengukur tekanan darah," kata dia.

Dokter spesialis Neurologi Yuda Turana menambahkan, rutin mengukur tekanan darah di rumah bermanfaat untuk menghindari stroke dan serangan jantung.

"Pengukuran tekanan darah di rumah memprediksi kerusakan organ lebih baik daripada pengukuran tekanan darah klinik," kata Yuda, Anggota Dewan Pembina dan Badan Pengawas Perhimpunan Hipertensi Indonesia.

Bincang Santai dengan Prodia: Kuatkan Imunitas Lewat Asupan Vitamin D

Kepatuhan

Dia mengatakan, pasien yang memantau tekanan darah di rumah punya kecenderungan untuk melakukan pengobatan secara teratur. Kepatuhan ini penting, sebab tanpa ada kepatuhan, obat terbaik pun takkan ada hasilnya.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan sebelum mengukur tekanan darah, di antaranya adalah tidak merokok, berolahraga dan mengonsumsi kafein minimal 30 menit sebelumnya. Sebaiknya jangan makan sebelum mengecek tekanan darah serta kosongkan dulu kantong kemih.

Ketika mengukur tekanan darah di rumah, Yuda menyarankan agar mengukur lebih dari satu kali, kemudian mencatat semua hasilnya.

"Setidaknya dua atau tiga kali, jarak antarpengukuran kurang lebih satu menit," ujar dia.

Pencatatan harus dilakukan rutin pada pagi hari sebelum pengobatan, lalu malam hari sebelum tidur.

Yuda menjelaskan, walau pengukuran tekanan darah di klinik tetap menjadi landasan manajemen hipertensi, mengukur sendiri di rumah juga tambahan informasi penting.

"Selain meningkatkan kontrol hipertensi, cek tekanan darah di rumah lebih unggul daripada cek tekanan darah di klinik dalam memprediksi kejadian penyakit kardiovaskuler di masa depan," papar Yuda.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom