Candi Plaosan Lor Klaten. (Solopos-Rohmah Ermawati)

Solopos.com, KLATEN -- Candi Plaosan menjadi salah satu kawasan instagramable di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kawasan candi yang berada di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten, itu seakan tak pernah sepi terutama saat pagi atau sore.

Orang-orang berdatangan mencari spot terbaik untuk mengabadikan momen sunrise (matahari terbit) atau sunset (matahari terbenam). Persawahan serta sesekali orang bersepeda atau gerobak sapi melintas di jalan tak jauh dari kompleks candi menambah pemandangan Candi Plaosan kian eksotis.

Selain lokasinya yang instagramable, kisah dibalik berdirinya candi yang bercirikan Candi Buddha itu menjadi daya tarik lain wisatawan berbondong-bondong mendatangi Candi Plaosan.

Candi Plaosan dibangun sekitar abad ke-9 pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram Kuno. Candi Plaosan dibangun sebagai simbol cinta Rakai Pikatan yang beragama Hindu kepada permaisurinya, Pramordyawardhani atau Sri Kahulunan, yang beragama Buddha.

Sebagai informasi, Candi Plaosan merupakan kawasan percandian. Ada dua kelompok candi di kawasan perbatasan antara Jawa Tengah dan DIY itu. Masing-masing bernama Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul.

Candi Plaosan Lor yang berlokasi di tepi jalan serta areal persawahan selama ini lebih dikenal. Lantaran terdapat dua candi utama berbentuk sama, kompleks candi itu kerap dikenal dengan nama Candi Kembar.

Sementara, Candi Plaosan Kidul berada lebih tersembunyi di dekat permukiman serta sawah. Kedua kompleks candi dipisahkan jalan serta sawah. Hanya, arsitektur Candi Plaosan Kidul tidak seutuh Candi Plaosan Lor serta kompleks Candi Plaosan Kidul lebih sepi. Bangunan yang terlihat jelas baru Candi Perwara.

Menjadi lokasi instagramable, kisah romantisme, serta menjadi wisata edukasi melalui relief yang terukir pada dinding candi menjadi alasan Pemkab Klaten melalui Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) mengusulkan Candi Plaosan masuk sebagai nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2019.

Situs Sejarah Terpopuler

API merupakan ajang apresiasi pariwisata terpopuler di Indonesia. Candi Plaosan kini masuk 10 besar nominasi untuk kategori situs sejarah terpopuler. Candi Plaosan bersaing dengan sembilan situs lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Selama dua tahun terakhir ini kami mengikuti API Award. Tahun kemarin kami mengusulkan Umbul Ponggok untuk menjadi destinasi baru terpopuler hanya memang belum terpilih,” kata Kasi Pengelolaan dan Pengembangan Daya Tarik Sarana Wisata Disparbudpora Klaten, Ahmad Susanto, saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (30/8/2019).

Tak hanya Candi Plaosan yang diusulkan Disparbudpora. Berbagai tempat wisata di Kabupaten Bersinar diusulkan sesuai nominasi yang ada di API Award 2019 yang terdiri dari 18 kategori.

Usulan itu salah satunya Pasar Legen yang memiliki ciri khas buka saban pasaran Legi di Lapangan Bonyokan, Kecamatan Jatinom. “Namun, yang masuk nominasi Candi Plaosan,” urai dia.

Pemkab mengikuti ajang itu untuk memotivasi pariwisata di Kabupaten Bersinar. Selain itu, API Award 2019 menjadi ajang untuk mem-branding tempat wisata. “Ajang ini menjadi salah satu cara untuk promosi wisata. Dalam pariwisata itu, branding menjadi bagian penting,” tutur dia.

Agar Candi Plaosan terpilih sebagai nominasi situs bersejarah terpopuler 2019, Disparbudpora Klaten gencar mengajak warga untuk memberikan vote melalui sejumlah kanal salah satunya aplikasi bernama PrajaTV yang bisa diunduh secara gratis melalui aplikasi playstore pada ponsel berbasis android. Vote yang berlangsung sejak awal Juli 2019 itu bakal berakhir pada 31 Oktober mendatang.

Ahmad menjelaskan vote menjadi salah satu penentu agar Candi Plaosan terpilih sebagai situs sejarah terpopuler versi API Award 2019.

Selain di berbagai pertemuan, Disparbudpora bakal menggandeng sekolah-sekolah agar menggerakkan siswa mereka memberikan vote untuk Candi Plaosan. “Makanya, dalam berbagai kesempatan kami kerap mengajak orang-orang untuk mengunduh aplikasi vote agar mereka bisa memberikan vote sebanyak-banyaknya untuk Candi Plaosan,” urai dia.

Kepala Desa Bugisan, Heru Nugroho, mengatakan selama ini pemerintah desa melakukan berbagai pengembangan di kawasan Candi Plaosan. Salah satunya seperti melalui Festival Candi Kembar yang digelar pada Jumat-Minggu (30/8/2019-1/9/2019).

Festival itu menampilkan berbagai kesenian dari berbagai wilayah. Salah satu penampilan yakni tari kolosal Candi Kembar yang menggambarkan kisah berdirinya Candi Plaosan.

“Selama in banyak yang belum tahu sejarahnya. Setelah kami telusuri di BPCB, ternyata memang benar bahwa candi itu melambangkan Bhinneka Tunggal Ika. Makanya kami angkat tema Bhinneka Tunggal Ika pada festival kali ini,” kata Heru.

Heru mengatakan kawasan yang instagramable menjadikan Candi Plaosan belakangan menjadi tujuan utama selain wisatawan mengunjungi Candi Prambanan.

Tak jarang, banyak wisatawan yang memanfaatkan pesona Candi Plaosan sebagai tempat foto prewedding. “Saat ini justru banyak yang datang karena tujuan utamanya ke Plaosan,” kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten