Lantai pada bangunan Sekolah satu atap (Satap) di Mojosongo, Jebres, belum dipasang keramik, Kamis (17/5/2018). (Istimewa)

Solopos.com, SOLO--Pembangunan sekolah satu atap (Satap) di Kendal Rejo, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo menuai kritik. Hal ini lantaran proyek senilai Rp15,3 miliar yang rampung 2017 lalu masih menyisakan persoalan. Hal yang paling utama adalah lantai bangunan serta sejumlah ruang kelas yang belum sempurna yang terungkap saat inspeksi mendadak (Sidak) Komisi IV DPRD Solo ke Satap Kendal Rejo, Kamis (17/5/2018). Padahal rencananya sekolah ini bakal difungsikan sebagai SMPN 5 Solo untuk tahun ajaran baru 2018/2019.

Ketua Fraksi Demokrat Nurani Rakyat (FNDR), Supriyanto, menyayangkan pelaksana proyek dan Dinas Pendidikan Kota Solo yang bertanggung jawab atas pekerjaan ini membiarkan begitu saja. Padahal semestinya dalam pengerjaan proyek ada skala prioritas. Dalam hal ini lantai seharusnya masuk dalam perencanaan atau detail engineering design (DED).

“Bagaimana bisa membangun sekolah seperti ini. Perencanaannya bagaimana ini? Ini bakal menjadi preseden buruk di kemudian hari. Apalagi ada enam ruang kelas yang belum diselesaikan lantainya sehingga masih berupa tanah,” paparnya kepada wartawan.

Menurutnya, seharusnya Komisi terkait (Komisi IV) dan organisasi perangkat daerah (OPD) yang berwenang tahu ada kekeliruan perencanaan. Padahal alokasi anggaran sudah disediakan dengan besaran yang tak sedikit pada tahun lalu. Di sisi lain, seharusnya pihak-pihak yang terkait dengan pembangunan Satap di Mojosongo memanggil OPD berwenang dan menanyakan hal ini.

Ketua Komisi IV DPRD Solo, Paulus Haryoto, menjelaskan anggaran yang telah digelontorkan pada APBD 2017 ini termasuk untuk pemasangan keramik dan paving block halaman sekolah. Akan tetapi, pada kenyataannya keramik lantai kelas dan koridor tak terpasang. Hal ini lantaran ada pengalihan anggaran untuk pemadatan tanah bangunan dan fondasi

“Pemadatan tanah untuk fondasi tiang bangunan memang perlu dilakukan agar struktur lebih kuat. Meski pembangunan telah selesai, seharusnya pengalihan anggaran yang dituangkan DED harus dibicarakan,” ungkapnya.

Lebih lanjut Paulus menambahkan, pada APBD 2018 kembali dianggarkan untuk tahap finishing Satap. Anggaran sebesar Rp3,25 miliar dialokasikan untuk memasang keramik lantai kelas dan koridor, paving, dan eternit.

“Bangunan utama sudah selesai, hanya memang bagian lantai yang belum rampung. Harapannya ini langsung dikebut dan saat penerimaan peserta didik baru tahun ajaran mendatang, sudah bisa digunakan,” imbuhnya.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Solo, Asih Sunjoto, mengakui ada ruang kelas dan koridor bagian bawah memang belum dikeramik pada lantainya. Meskipun begitu, ia berharap pembangunan lanjutan bisa segera dikebut.

“Nanti pemindahan SMPN 5 Solo bertahap. Pada tahun ajaran depan yang melakukan kegiatan belajar mengajar [KBM] kelas VII lebih dahulu,” jelasnya.

 

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten