Tutup Iklan
ilustrasi pemilu. (Solopos-Whisnu Paksa)

Solopos.com, BOYOLALI—Mendekati Pemilu Legislatif (Pileg) 2019, para -boyolali-laporkan-ada-bagi-bagi-sembako-berisi-stiker-caleg" title="Warga Boyolali Laporkan Ada Bagi-Bagi Sembako Berisi Stiker Caleg">calon anggota legislatif (caleg) di Boyolali mulai gencar melakukan sosialisasi dan simulasi pencoblosan kepada konstituen masing-masing.

Salah satu caleg DPRD Boyolali asal Partai Golkar Eko Feriyanto mengatakan sosialisasi dan simulasi sangat penting untuk memastikan masyarakat benar-benar tahu cara mencoblos. “Sekarang saya masih terus simulasi pencoblosan karena ternyata banyak yang masih salah, terutama orang tua,” ujar Eko, saat berbincang dengan Solopos.com, di Gedung DPRD Boyolali, beberapa waktu lalu.

Menurut Eko, masih banyak orang tua yang belum paham cara mencoblos. Dalam sebuah simulasi kepada sepuluh orang tua untuk mencoblos nomor urutnya dalam spesimen surat suara, hanya tiga orang yang benar.

Caleg asal daerah pemilihan (dapil) V Boyolali yang meliputi wilayah Ngemplak, Sambi, Banyudono, dan Sawit ini  merasa perlu melakukan pembenahan di tingkat konstituen dibandingkan dengan kegiatan yang bersifat promotif ke luar.

Hak Suara

Hal senada disampaikan caleg DPRD Boyolali asal -bergambar-jokowi-dirusak-pdip-klaten-somasi-bawaslu" title="APK Bergambar Jokowi Dirusak, PDIP Klaten Somasi Bawaslu">PDI Perjuangan (PDIP), Lambang Sarosa. Caleg asal dapil I mengakui sosialisasi dan simulasi pencoblosan masih menjadi PR (pekerjaan rumah) besar untuknya dan caleg lain pada umumnya.

Menurutnya, calon pemilih harus terus diberi pemahaman mengenai cara mencoblos yang benar agar mereka bisa menyalurkan hak suara mereka dengan benar.

“Yang kami lakukan saat ini adalah memastikan pemilih memberikan hak suaranya dengan benar. Karena kenyataannya masih banyak yang keliru dalam cara mencoblos dan berpotensi menyebabkan suara menjadi tidak sah,” ujarnya, Senin (25/2/2019).

Kesalahan yang paling banyak dilakukan calon pemilih adalah mencoblos dalam posisi kertas suara masih terlipat sehingga ketika pilihan mereka dicoblos, surat suara akan tembus dan rusak.

“Lembar surat suara untuk caleg ini kan cukup besar. Ada yang tidak sempurna dalam membuka lipatannya hingga terbuka semuanya. Ketika ini dicoblos maka tentu akan tembus dan melubangi kolom caleg lainnya di partai lainnya juga. Ini kan membuat surat suara tidak sah,” imbuhnya.

Program Partai

Lambang menegaskan dalam waktu sekitar sebulan menjelang Pileg 2019 ia akan terus memfokuskan kepada sosialisasi dan simulasi pencoblosan.

Caleg DPRD Boyolali asal PKS Ali Hufroni mengatakan selain masalah pencoblosan yang masih menjadi kendala, pihaknya terus menyosialisasikan program-program partai secara nasional, antara lain pemberlakuan surat izin mengemudi (SIM) C seumur hidup dan penghapusan pajak kendaraan bermotor roda dua.

“Pencoblosan memang masih menjadi kendala di tingkat konstituen. Masih banyak salah pilih karena lembar yang cukup besar dan memuat banyak nama caleg sehingga membutuhkan kejelian. Tapi selain itu kami juga mensosialisasikan program kami jika PKS menang, yakni bebas pajak STNK sepeda motor, -kali-gagal-pria-ini-diapresiasi-polisi-setelah-lulus-ujian-sim-c" title="7 Kali Gagal, Pria Ini Diapresiasi Polisi Setelah Lulus Ujian SIM C">SIM C seumur hidup, perlindungan ulama dan bebas pajak untuk masyarakat berpenghasilan Rp8 juta/bulan.”

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten