Tampilan Jeda.id

Solopos.com, SOLO -- Informasi yang lebih kaya dan menawarkan perspektif yang berbeda dibutuhkan oleh para penikmat media online yang ingin mendapatkan pemahaman dan pengetahuan yang lebih baik. Solopos Digital Media pun merilis portal informasi baru bernama jeda.id. Kehadiran laman ini diharapkan mampu memberi informasi dari sudut pandang yang berbeda sehingga bisa menambah perspektif baru.

Manajer konten, Danang Nur Ihsan, mengatakan jeda.id resmi diluncurkan pada Juni lalu. “Kami mengombinasikan data dengan isu-isu teraktual yang hangat dibicarakan publik. Isu yang serius dibahas lebih panjang, tapi dengan pendekatan yang berbeda,” kata dia kepada Solopos.com, Selasa (17/9/2019).

Salah satu isu publik yang dibahas di jeda.id adalah kasus korupsi yang menjerat pejabat tinggi negara. Tak sampai pada putusan pengadilan, laman tersebut merangkum sepak terjang koruptor hingga meninggal dunia di penjara. Bahasan lain yang sarat informasi adalah pendataan suku bangsa di Indonesia. Dengan melampirkan olahan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jeda.id menayangkan informasi yang lebih akurat dan lengkap.

“Kami mengemas dengan gaya tutur ringan dan bahasa lugas, namun mendalam. Kedalaman dan kelengkapan infomasi itu kami padukan dengan data hingga tampilan grafis menarik. Sesuatu yang serius namun bisa dibahas menjadi hal yang ringan. Kami berupaya memberi warna baru di tengah membanjirnya informasi melalui media online,” jelas Danang.

Editor konten jeda.id, Anik Sulistyawati, mengatakan proses pembuatan konten telah melalui tahapan kurasi. Ia mencari celah di tengah membanjirnya topik yang dibahas di sosial media, maupun masyarakat. “Saya cari mana yang paling banyak dibicarakan pada trending topic Twitter baik seluruh dunia atau hanya Indonesia. Lalu, saya pilih yang paling dekat di mata publik. Dari situ, saya tambahkan data primer dari sumber terpercaya, sehingga lebih akurat,” ucapnya.

Salah satu konten yang ditulisnya adalah soal piton sanca batik yang mati akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Ia ingin publik mengetahui, bahwa tak hanya piton yang terancam punah di Indonesia, tapi juga satwa lain.

“IUCN yang merupakan organisasi internasional yang didedikasikan untuk konservasi sumber daya alam mengeluarkan daftar hewan apa saja yang bisa punah akibat beragam faktor seperti bencana alam, perburuan liar, dan kebakaran hutan. Dari informasi itu, saya berharap pembaca jadi lebih tercerahkan tentang bahayanya kebakaran hutan enggak hanya ke manusia tapi juga satwa,” ucap Anik.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten