Kategori: Klaten

Butuh Bantuan! Bayi Asal Klaten Derita Penyakit Langka, Biaya Operasi Rp1,6 Miliar


Solopos.com/Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos

Seorang bayi 6 bulan asal Ceper, Klaten, menderita penyakit langka yang membutuhkan operasi dengan biaya Rp1,6 miliar.

Solopos.com, KLATEN -- Suara tangisan bayi terdengar di rumah yang berada di tengah perkampungan Dukuh Klampengan, RT 003/RW 005, Desa Meger, Kecamatan Ceper, Kamis (27/4/2017) sekitar pukul 10.00 WIB. Di dalam rumah sederhana bercat hijau muda serta berlantai plester itu, Ika Triyasari, 32, menenangkan putrinya Zyuwana Alea Kizzy Krisnadani.

Agar Kizzy cepat tenang, Ika menggendong serta menyusui putri keduanya yang baru berumur lima bulan. Sekitar 15 menit, sang buah hati sudah tertidur. “Karena semalam rewel makanya ini tidur. Biasanya tidak tidur saat siang,” kata Ika sembari mengayun-ayunkan putrinya.

Sekilas, Kizzy terlihat normal seperti bayi pada umumnya. Namun, sejak umur dua bulan, putri kedua pasangan Aldi Krisnadani, 30, dan Ika Triyasari, 32, itu salah satunya divonis menderita Atresia Bilier atau kondisi yang menyebabkan penyumbatan saluran empedu.

Penyakit yang diderita Kizzy itu diketahui saat bayi itu berumur sekitar dua bulan. Ika menceritakan saat itu ia curiga dengan kondisi mata serta air kencing berwarna kuning. “Di bagian matanya itu ada semburat warna kuning. Saya juga curiga kok pipisnya berwarna kuning,” kata Ika.

Melihat hal tersebut, Ika lantas menanyakan ke bidan desa setempat. Ia sempat disarankan untuk menjemur Kizzy saat pagi. Namun, tak ada perubahan pada tubuh Kizzy meski beberapa kali dijemur hingga Kizzy dirujuk untuk dibawa ke rumah sakit.

Ika dan suaminya lantas membawa Kizzy ke sejumlah rumah sakit di Klaten hingga bayi yang lahir pada 2 November 2016 itu dirujuk ke RSUP dr. Sardjito, Yogyakarta. Ika menjelaskan dari hasil pemeriksaan, Kizzy divonis menderita Atresia Bilier. Setelah kembali menjalani pemeriksaan oleh tim dokter, lingkar kepala Kizzy tak sempurna karena saat umur dua bulan hanya sekitar 36 cm dari seharusnya 37 cm.

Selain itu, Kizzy mengalami spina bifida atau cacat lahir yang ditandai dengan terbentuknya celah pada tulang belakang. Dari hasil pemeriksaan, jantung Kizzy juga diketahui mengalami kebocoran. “Kata dokter, bocornya jantung masih bisa tersumbat dengan sendirinya. Namun, jika sampai usia empat tahun kebocoran jantung itu belum tertutup nanti tetap harus dioperasi,” katanya.

Ika menjelaskan saat usia dua bulan Kizzy sudah menjalani operasi kasai atau pembuatan saluran pengganti empedu. Operasi itu belum cukup untuk mengobati penyakit Kizzy. Ia harus menjalani cangkok hati agar Atresia Bilier yang dialami anaknya segera sembuh. “Agar hatinya tidak cepat rusak, kemarin dilakukan operasi kasai. Hatinya adik sudah menghitam. Kemarin dokternya sudah bilang, paling tidak untuk operasi pencangkokan hati dilakukan saat umur setahun,” kata dia.

Ika menuturkan berdasarkan keterangan dokter, biaya operasi pencangkokan hati sekitar Rp1,6 miliar. Biaya itu tak bisa sepenuhnya terkaver oleh jaminan kesehatan yang dimiliki Kizzy.

“Kizzy sudah memiliki jaminan kesehatan dikelola BPJS yang dikaver pemerintah. Jaminan itu hanya bisa mengkaver biaya maksimal Rp200-250 juta. Sementara, total biaya mulai dari screening hingga operasi cangkok hati sekitar Rp1,6 miliar,” urai dia.

Ika pun dibikin bingung guna mendapatkan uang hingga miliaran rupiah agar penyakit yang diderita putrinya segera sembuh. Berbagai upaya serta bantuan berdatangan untuk membantu pembiayaan operasi pencangkokan hati Kizzy. Hal itu seperti yang dilakukan warga di sekitar rumahnya termasuk upaya menggalang dana melalui media sosial.

Ika menjelaskan hampir setiap pekan ia membawa putrinya ke RSUP dr. Sardjito untuk pemeriksaan. Biaya yang dikeluarkan untuk kontrol sedikitnya Rp100.000 diantaranya untuk transportasi, makan, hingga sejumlah obat yang belum bisa terkaver jaminan kesehatan.

Sejak melahirkan hingga mengetahui putrinya mengalami penyakit itu, Ika memutuskan berhenti bekerja sebagai karyawan pabrik plastik di wilayah Colomadu, Karanganyar guna fokus merawat sang buah hati. Kebutuhan hidup sehari-hari hanya mengandalkan gaji suaminya bekerja sebagai buruh dengan gaji sekitar Rp1,5 juta/bulan. “Selama tiga bulan terakhir suami saya bekerja di Kartasura. Terkadang juga serabutan di rumah untuk menambah penghasilan,” tutur dia.

Meski merasa biaya yang dibutuhkan guna pencangkokan tak memungkinkan dikumpulkan, Ika tak berhenti berharap. “Satu-satunya cara agar Kizzy bisa sembuh melalui operasi pencangkokan hati,” katanya.

Share
Dipublikasikan oleh
Adib Muttaqin Asfar