Kategori: Nasional

Busyro Kritik Pidato Fachrul Razi: Menag Kok Urus Radikalisme


Solopos.com/Iskandar

Solopos.com, SUKOHARJO -- Mantan Wakil Ketua KPK, Busyro Muqqodas, mempertanyakan komposisi kabinet Jokowi-Maruf Amin. Menurutnya, penempatan sejumlah orang tidak tepat pada posisinya.

“Penempatan itu sesuai tidak dengan prinsip meritokrasi the right man on the right job? Mestinya dengan track record yang jelas bahwa orang tersebut mempunyai konsen di bidang tersebut atau tidak?” ujar dia ketika ditemui wartawan seusai menghadiri acara Milad ke-61 Universistas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Auditorium Muh. Djazman kompleks UMS Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Kamis (24/10/2019) siang.

Menurut dia komposisi kabinet saat ini dinilai tidak pas, misalnya Menteri Agama. “Mengapa isunya radikalisme? Pertanyaannya apakah radikalisme itu sudah tepat? Bukankah itu sulit dipertanggungjawabkan secara akademis?” kata dia.

Misalnya, ujar dia, penyebab radikalisme itu selama ini hanya ditujukan kepada simbol-simbol tertentu yang terkait Islam. "Bukankah tirani ekonomi yang mengakibatkan minoritas tirani di bidang penguasaan sumber-sumber perekonomian, kesenjangan ekonomi, ketidakadilan sosial itu justru yang menimbulkan radikalisme?" tanyanya.

Berdasar pengamatannya, akar radikalisme justru didominasi kesenjangan ekonomi dan ketidakadilan sosial. Karena itu dia menyentil Menteri Agama Fachrul Razi yang dalam sambutannya saat pelantikan menyebutkan agendanya memberantas radikalisme. Dari sudut pandanga itu, kata Busyro, visi presiden tentang konsep radikalisme terlihat kosong.

Jika Prabowo Subianto Direshuffle, Arief Poyuono Gerindra Salahkan Jokowi

Busyro juga mempertanyakan revisi RUU KPK. “Bukankah itu sikap radikalisme dan brutalisme dari Istana dan Senayan? Menurut hemat saya iya! Dan ini menimbulkan reaksi-reaksi sedemikian rupa, walau reaksi mahasiswa terukur,” ujar dia.

Dia juga mempertanyakan apakah penggabungan Mendikbud dan Kemenristekdikti dijadikan satu melalui evaluasi oleh kalangan yang kompeten atau tidak. Atau, kata dia, hanya ditentukan berdasar selera. Hal ini harus dijawab Istana sebab kedua sektor itu akan menentukan perkembangan SDM ke depan.

Busyro mengatakan salah penempatan menteri menyebabkan masalah yang sangat kompleks. Mestinya, setiap keputusan itu berdasarkan pada evaluasi.

Nadiem Makarim Diprediksi Cuma Setahun Jadi Mendikbud

Serba abu-abu, kata Busyro, membuat dirinya malas mengomentari negara. “Tapi karena saya menghargai wartawan sebagai unsur demokrasi tidak mungkin saya tidak komentar ketika ditanya. Sesungguhnya lelah sekali,” kata dia.

Share
Dipublikasikan oleh
Adib Muttaqin Asfar