Tutup Iklan
Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, melayang dengan paralayang di lapangan objek wisata WGM Wonogiri, Minggu (24/6/2018). (Istimewa/Iwan)

Solopos.com, WONOGIRI -- Ribuan orang memadati pelataran panggung kompleks Objek Wisata http://soloraya.solopos.com/read/20180528/495/918367/parkir-liar-wgm-wonogiri-ditertibkan">Waduk Gajah Mungkur  (WGM) Wonogiri, Minggu (24/6/2018) pagi. Mereka berkerumun tak sabar menantikan 600 ketupat yang akan dibagikan dalam acara Andum Ketupat Lebaran di panggung tersebut.

Sesaat pandangan mereka teralih ke arah langit. Sesosok pria melayang menggunakan paralayang terjun dengan cepat menuju lapangan depan panggung. Begitu mendarat, pria yang ternyata Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, itu langsung dikerumuni orang-orang yang membuat melepas kelengkapan paralayangnya.

Mengenakan kaus panjang berwarna hitam dan mengenakan kaca mata terbang, Bupati yang akrab disapa Jekek itu melayang dari Puncak Joglo, Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri. Setelah kakinya mendarat di tanah, Jekek langsung bergegas menuju panggung.

Didampingi Kepala Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga (Disparpora) Kabupaten Wonogiri Sentot Sujarwoko, Kepala Unit Pengelola Teknis Obyek Wisata http://soloraya.solopos.com/read/20180513/495/915600/wgm-wonogiri-miliki-satwa-baru">WGM Pardianto, dan Duta Wisata Wonogiri, Jekek membagikan ratusan ketupat kepada pengunjung.

Untuk mencegah para pengunjung berdesakan, pembagian kupat berisi kupon undian berhadiah tersebut dibagi menjadi dua kloter. Kloter pertama dibagikan untuk anak-anak dan kloter kedua untuk orang dewasa. Suara riuh para pengunjung tiba-tiba meninggi ketika satu demi satu ketupat dibagikan.

Ada yang berteriak karena bersenggolan ada yang mengiba karena belum kebagian ketupat. Ribuan pengunjung itu lantas bubar ketika ketupat yang dibagikan di panggung telah habis. Namun bukannya pergi dari tempat itu, mereka menyerbu tenda yang menyediakan olahan ketupat secara gratis dengan lauk opor dan sambal goreng.

Sementara di panggung kelompok Orkes Melayu Maespati memainkan lagu. Di pojok bawah panggung, dua pengunjung, Sutarno dan Tika, sibuk membuka dua ketupat yang mereka buka.

Warga Jatipurno itu membuka ketupat perlahan dan hati-hati. Seketika raut wajah mereka berubah ketika mendapati kupon hadiah menaiki berbagai wahana di http://soloraya.solopos.com/read/20180612/495/922081/antisipasi-antrean-pengunjung-begini-strategi-pengelola-ow-wgm-wonogiri">WGM. Ia mengaku beruntung mendapatkan ketupat karena banyak dari pengunjung yang menelan kecewa karena ketupat yang diperolehnya hanya berisi potongan-potongan kertas.

Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, saat ditemui Solopos.com di lokasi acara mengatakan Andum Ketupat merupakan perayaan puncak syawalan yang diperingati setiap tahun untuk menghibur masyarakat. Kepala Unit Pelaksana Teknis Obyek Wisata Waduk Gajah Mungkur, Pardianto menambahkan Andum Ketupat tahun ini sekaligus mengakhiri Gebyar Gajah Mungkur yang dimulai sejak 15 Juni 2018.

“Sedikitnya 600 ketupat yang berisikan kupon hadiah seperti menaiki wahana wisata, kupon makan, lemari es, dan lainnya. Kali ini ketupat yang dibagikan imitasi karena apabila diisi ketupat sungguhan akan disayangkan apabila dibuang. Namun, kami sediakan kuliner ketupat secara gratis sebanyak 2.000 porsi untuk masyarakat,” ujarnya.

Ia berencana menggelar kegiatan serupa tahun depan dengan dikemas lebih menarik lagi dan menghibur masyarakat Wonogiri.

 

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten