Bupati Sragen Evaluasi Pembelajaran Tatap Muka Setelah 1 Pekan
Deretan kursi di depan kosong saat pembelajaran tatap muka (PTM) hari pertama di SMPN 1 Ngrampal, Sragen, Senin (31/8/2020). (Solopos-Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati akan mengevaluasi pembelajaran tatap muka (PTM) di 63 sekolah di 20 kecamatan setelah berjalan sepekan ke depan.

Hasil evaluasi tersebut menjadi dasar bagi Pemkab Sragen untuk terus menjalankan pembelajaran tatap muka atau menundanya sampai awal 2021 mendatang.

“Kami melakukan sampel dulu sambil melihat perkembangan sepekan untuk evaluasi protokol kesehatan. Sampelnya per kecamatan tiga sekolah, yakni TK, SD, dan SMP, kecuali di Kecamatan Sragen Kota ada enam sekolah, yakni dua TK, dua SD, dan dua SMP,” ujar Bupati Yuni saat ditemui wartawan di Pendapa Rumdin Bupati Sragen, Senin (31/8/2020).

"Nah, dalam sepekan nanti, apakah kami lanjutkan atau kami off untuk dilanjutkan pada awal 2021 atau Desember 2020," kata dia.

100 Dokter Gugur Tertular Covid-19, Regenerasi Butuh Bertahun-Tahun

Yuni menerangkan kalau semua siswa bisa mematuhi protokol kesehatan maka semua bisa jalan seperti saat simulasi pada Kamis (27/8/2020) lalu.

Dia menerangkan banyak siswa mengaku senang sekolah tetapi dengan kondisi perkembangan Covid-19 sekarang masih ada waswas.

“Saya perlu paparan lebih komprehensif sebelum mengambil kebijakan selanjutnya,” terang Bupati Sragen.

Masuk Tiga Kali dalam Sepekan

Yuni memerintahkan para camat ikut memantau perkembangan PTM di masing-masing kecamatan. Dia mengatakan dalam sehari ada empat jam pelajaran dan hanya masuk tiga kali dalam sepekan.

Selama di rumah, jelas dia, siswa mengikuti pelajaran daring.

Tambah 6, Total 289 Pasien Covid-19 di Grobogan Sembuh

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen Suwardi mengatakan memantau pelaksanaan pembelajaran tatap muka di empat kecamatan. Yakni Ngrampal, Sambungmacan, Gondang, dan Sambirejo.

Dalam pemantauan itu, Suwardi menemukan adanya siswa yang seharusnya masuk agak siang ikut-ikutan masuk pagi. Namun, temuan tersebut bisa dikondisikan sekolah.

“Kami memang memantau sejak anak datang karena keruwetan itu biasanya terjadi saat siswa datang. Alhamdulillah semua berjalan baik semua. Saya memantau di SMP. Jaga jarak bisa terkondisi dengan memberi tanda silang saat antre cuci tangan. Saat istirahat, saya minta semua di dalam kelas dan tidak boleh keluar,” ujar Suwardi.

10 Berita Terpopuler : Nasib Rumah Suranto Korban Pembunuhan di Baki

Namun, seperti di SMPN 1 Ngrampal, banyak anak yang berada di luar kelas saat jam istirahat. Bahkan ada guru yang harus mengingatkan lewat pengeras suara supaya para siswa kembali masuk kelas saat istirahat.

“Ya, hari pertama memang masih dimaklumi. Namun, untuk hari kedua besok dan seterusnya harus bisa diantisipasi,” ujarnya.

Guru Harus Datang Sebelum Siswa Tiba

Suwardi mengakui para guru memang bertambah bebannya karena harus bisa membagi waktu untuk belajar tatap muka dan daring. Risikonya, ujar dia, guru harus datang sebelum siswa tiba.

“Kalau guru datang setelah siswa tiba ini bisa berpotensi terjadi kerumunan bagi anak. Kemudian pada sepekan terakhir, kami minta pelajaran masih pendalaman tentang protokol kesehatan supaya siswa jadi agen sosialisasi di lingkungannya,” jelasnya.

Suwardi menerangkan siswa TK dan SD relatif lebih tertib dari SMP karena mereka lebih mudah dikondisikan dan jumlahnya lebih sedikit dari SMP, yakni tidak boleh lebih dari 14 siswa.

Hari Ini Dalam Sejarah: 1 September 1939, Perang Dunia II Meletus



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom