Bupati Sragen: Butuh Warga Satu Desa Untuk Lindungi Satu Anak

Upaya melindungi anak-anak tidak cukup hanya dilakukan oleh keluarga, namun membutuhkan kepedulian warga satu desa.

 Tiga anggota Forum Anak Sukowati (Forasi) berfoto bersama Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati seraya membawa piala KLA tingkat nindya di Aula Sukowati Setda Sragen, Selasa (26/7/2022). (Solopos.com/Tri Rahayu)

SOLOPOS.COM - Tiga anggota Forum Anak Sukowati (Forasi) berfoto bersama Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati seraya membawa piala KLA tingkat nindya di Aula Sukowati Setda Sragen, Selasa (26/7/2022). (Solopos.com/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menyampaikan butuh warga satu desa untuk mendidik dan melindungi satu anak. Pasalnya, pendidikan dan perlindungan anak tidak cukup hanya dilakukan di lingkungan keluarga.

Kepedulian lingkungan menjadi kunci dalam pemenuhan hak anak, khsusunya hak perlindungan. Penjelasan itu diungkapkan Bupati saat evaluasi Kabupaten Layak Anak (KLA) yang baru didapat Sragen, di Aula Sukowati Sekretariat Daerah (Setda) setempat, Selasa (26/7/2022).

PromosiBorong Penghargaan, Tokopedia Jadi Marketplace Favorit UMKM

Pernyataan Yuni, sapaan Bupati, itu terinspirasi dari film pendek yang diputar Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) saat menerima piala Kabupaten Layak Anak (KLA) tingkat Nindya di Jakarta, Jumat (22/7/2022) lalu.

“Ada film yang menarik. Ada satu anak bermain sendiri di taman. Kemudian ada laki-laki jahat mengamati dan kemudian mendatangi seraya bertanya kepada anak itu. Saat laki-laki itu bertanya di mana orang tuamu? Ada tukang sapu mengaku kalau anak itu anaknya. Ada mahasiswa lewat mengaku kalau anak itu adiknya. Ada sepasang suami istri paruh baya yang mengaku kalau anak itu cucunya. Padahal mereka tidak ada hubungan keluarga dengan anak itu,” jelas Yuni.

Baca Juga: Maraknya Kasus Kekerasan pada Anak Ancam Peringkat KLA Sragen

Bupati menyampaikan film pendek itu membawa pesan kepedulian kepada anak untuk tujuan perlindungan sehingga laki-laki itu mengurungkan niat jahatnya. Dia menyampaikan “anakmu ya anakku, anakku ya anakmu, dan anak kita”. Kepedulian terhadap anak tidak cukup dilakukan oleh satu keluarga, tetapi membutuhkan warga satu desa untuk memenuhi hak-hak anak. Seperti hak hidup, hak tumbuh kembang, hak partisipasi, hak perlindungan, dan hak-hak lainnya.

Yuni menjelaskan keberhasilan Sragen mendapatkan KLA tingkat Nindya tidaklah mudah. Bahkan masuk peringkat Nindya dengan skor mepet. Dalam penilaian mandiri, skor Sragen mencapai 870. Tetapi setelah di assesmen, evaluasi, tinjauan, wawancara, akhirnya hanya mendapat 737,7.

“Dengan skor itu akhirnya bisa dapat nindya. Kuncinya ada semangat dari kepala daerah dan timnya,” ungkap Yuni.

Baca Juga: Waspada, Tren Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Sragen Naik!

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Sragen, Udayanti Proborini, optimistis pada tahun depan bisa mempertahankan KLA Nindya dengan skor lebih tinggi. Harapannya di tahun berikutnya, peringkat KLA Sragen bisa jadi Utama.

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini". Klik link https://t.me/soloposdotcom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Solopos.com Berita Terkini

Berita Terkait

Berita Lainnya

      Espos Plus

      Dilema Hak Asasi Manusia, Destinasi Wisata Prioritas, dan Investasi

      + PLUS Dilema Hak Asasi Manusia, Destinasi Wisata Prioritas, dan Investasi

      Konflik antara pelaku wisata di Taman Nasional Komodo dengan aparat kepolisian pada Senin (1/8/2022) adalah akibat kebijakan pemerintah yang mementingkan urusan investasi dibanding mendengar aspirasi masyarakat yang langsung terdampak kebijakan.

      Berita Terkini

      Bandit Sosial Marak Terjadi di Klaten Tahun 1870-1900, Apa Itu?

      Istilah bandit mungkin sudah tidak asing di telinga masyarakat.

      Sambut HUT RI, Warga Binaan LP Kelas II B Klaten Lomba Makan Kerupuk

      Warga binaan pemasyarakatan (WBP) LP Kelas II B Klaten mengikuti aneka lomba di LP setempat, Jumat (5/8/2022).

      Pengumuman! Besok Pagi Hindari Simpang Joglo Solo, Ada Penutupan 1 Jam

      Bakal ada penutupan jalan kawasan Simpang Tujuh Joglo, Banjarsari, Solo, selama satu jam pada Rabu (10/8/2022) pagi.

      Bakar Daun Siang-Siang, Warga Perumahan di Jaten Karanganyar Waswas

      aksi bakar-bakar daun kering oleh warga di Desa Papahan, Tasikmadu, bikin warga lain di Perumahan, Desa Jati, Jaten, Karanganyar waswas. Mereka lantas meminta bantuan pemadam kebakaran untuk memadamkan api.

      Ada Raden Bagus Munyul di Situs Pringgoloyo Zaman Megalitikum Klaten

      Desa Sukorejo, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten diyakini menyimpan kawasan diduga situs peninggalan zaman megalitikum atau masa prasejarah.

      Pasar Hewan di Karanganyar Belum Juga Dibuka, Ada Apa?

      Disdagnakerkop UKM Karanganyar belum ada rencana membuka kembali pasar hewan yang sudah ditutup sejak Juni lalu.

      Upacara Detik-Detik Proklamasi di Karanganyar Digelar di Alun-Alun

      Pemkab Karanganyar memastikan menggelar upacara detik-detik proklamasi di Alun-Alun Karanganyar.

      Karanganyar Imbau Peternak Jaga Kebersihan Kandang Babi, Ini Tujuannya

      Pemkab Karanganyar mengimbau peternak babi memperhatikan kebersihan kandang mencegah penularan wabah PMK

      Kenapa Orang Solo Doyan Makan Sate Kambing & Tengkleng?

      Tahukah Anda kenapa orang Solo doyan makan aneka olahan kuliner kambing?

      Wow, Ada 9 Pasangan Suami-Istri di Sragen Maju di Pilkades 2022

      Ada 18 orang yang merupakan pasangan suami-istri yang maju dalam Pilkades serentak di Sragen.

      Kabar Duka, Kades Gladagsari Boyolali Meninggal Dunia

      Setelah menjalani perawatan di rumah sakit selama sepekan, Kades Gladagsari Edy Suryanto meninggal dunia di rumahnya.

      Ada Senjata Api di Daftar Aset Pemkot Solo, Ini Kenyataannya

      Laman resmi Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Kota Solo menyebutkan ada dua senjata api yang menjadi aset Pemkot Solo.

      Karyawan Pabrik Pergoki Api Menyala dari Rumah Warga Jetak Sragen

      Sumber api diduga berasal dari obat nyamuk yang menyalat kain di sekitar lokasi.

      Ditinggal Pergi, Dapur Rumah Warga Mandong Klaten Terbakar

      Kapolsek Trucuk AKP Sarwoko menjelaskan saat kejadian pemilik rumah tidak berada di tempat

      Sego Trondol Mbok Kam Boyolali Rp5.000, Beri Penasaran Pengunjung

      Sego Trondol Mbok Kam itu mirip nasi kucing dengan menu bandeng, mi, sambal, dan cap jay.