Bupati Seno Samodro Ungkap Sosok Penggantinya di Pilkada Boyolali 2020
Wakil Bupati Boyolali, M.Said Hidayat (kanan), bersama Bupati Boyolali Seno Samodro. (Foto Dokumentasi)

Solopos.com, BOYOLALI—Komisi Pemilihan Umum (KPU) Boyolali belum menetapkan perolehan suara hasil Pemilu Legislatif 2019. Pleno rekapitulasi akan dimulai hari ini, Kamis (2/5/2019).

Namun berdasarkan penghitungan internal masing-masing partai politik (parpol) peserta pemilu, PDI Perjuangan (PDIP) diyakini masih akan menguasai kursi DPRD Boyolali.

PDIP dipekirakan menguasai 35 kursi atau sekitar 78% dari 45 kursi DPRD Boyolali. Sedangkan 10 kursi sisanya diduduki 4 partai politik (parpol) lain dengan prediksi masing-masing Partai Golkar, PKS, PKB, dan Gerindra. Masing-masing parpol memiliki proyeksi sendiri-sendiri namun kepastiannya menunggu ketetapan KPU Boyolali.

Bisa dipastikan, hasil Pemilu Legislatif tahun ini bakal menjadi patokan bagi partai politik menyambut pemilihan kepala daerah (pilkada) yang bakal digelar 2020.

Pilkada digelar lantaran pemerintahan Bupati-Wakil Bupati, Seno Samodro-M.Said Hidayat akan memasuki akhir masa jabatannya pada 2021.

Jika dikaitkan dengan perolehan kursi DPRD hasil Pemilu 2019, PDIP yang berpeluang memiliki 35 kursi dipastikan bisa mengusung pasangan calon sendiri. Sedangkan parpol lainnya harus berkoalisi untuk bisa mengusung pasangan calon.

Berkaca pada Pilkada 2015, Gerindra dengan empat kursi di DPRD, PKB dengan tiga kursi, dan PKS dengan empat kursi, mereka berkoalisi mengusung pasangan Agus Purmanto-Sugiyarto.

Pasangan ini pun kandas dengan perolehan suara yang jauh dibawa Seno-Said. Saat itu, pasangan Seno-Said unggul 69,68% sedangkan Agus-Sugiyarto 30,33%.

Koalisi

Jika koalisi tiga partai itu kembali dibangun untuk mengusung satu calon pasangan, mereka baru memiliki modal enam hingga tujuh kursi di DPRD (berdasarkan prediksi hasil pemilu legislatif), atau masih kurang sekitar tiga kursi untuk memenuhi syarat minimal mengusung calon, yakni 20% kursi DPRD atau sembilan kursi.

Mereka harus menggandeng Partai Golkar yang diprediksi memiliki 4 kursi.

Namun terkait hal ini mereka belum mengambil sikap. Saat ini mereka masih berkonsentrasi kepada hasil Pemilu 2019 serta evaluasi internal.

“Kami belum ke arah sana [berpikir Pilkada] karena proses Pemilu ini juga belum tuntas,” ujar salah satu politisi Partai Golkar yang enggan disebut namanya, kepada Solopos.com, beberapa waktu lalu.

Ungkapan senada dikatakan Ketua PKB Boyolali, Supadi. “Meskipun kami mendapat kejutan dengan meraih dua kursi, di mana parpol lain malah ambruk bahkan hilang, tapi kami belum tahu ya nanti lobi-lobi politiknya seperti apa untuk [Pilkada] 2020. Yang jelas sekarang kami masih fokus ke hasil Pemilu,” ujarnya, Selasa (30/4/2019).

PDIP juga masih bersikap sama, menunggu hasil resmi Pemilu 2019 dari KPU sebelum bicara Pilkada. “Sekarang kami tunggu dulu hasil Pemilu dari KPU,” ujar Sekretaris DPC PDIP Boyolali, Sarno.

Dua Periode

Seno Samodro yang diusung PDIP tidak bisa nyalon lagi sebagai bupati karena sudah menjabat dua periode sejak 2011. Pada periode sebelumnya, dia juga sudah menjabat wakil bupati.

Lalu siapakah kandidat kuat yang berpeluang menggantikannya sebagai calon bupati nanti? Seno pernah berujar bahwa M. Said Hidayat yang akan meneruskan estafet kepemimpinan Boyolali.

“Ya wakilnya dong [Wakil Bupati Boyolali M.Said Hidayat yang jadi calon bupati],” ujar Seno saat berbincang dengan wartawan di Gedung Panti Marhaen Boyolali beberapa waktu lalu.

Said atau yang akrab disapa Dayat masih punya peluang cukup lebar untuk bisa diusung PDIP sebagai calon kepala daerah.

Seno juga menilai Said punya karakter kepemimpinan yang kuat dan sudah dikenal masyarakat luas.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom