Bulurejo Jadi Desa Pertama di Karanganyar yang Terdampak Kekeringan
Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar mengirimkan air bersih ke Sanggrahan dan Bulurejo, Gondangrejo, Karanganyar Selasa (29/9/2020). (Istimewa/BPBD Karanganyar)

Solopos.com, KARANGANYAR -- Desa Bulurejo, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar menjadi desa pertama di musim kemarau 2020 yang terdampak kekeringan. Sekitar 450 penduduk di desa ini membutuhkan bantuan air bersih untuk kehidupan sehari-hari.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Karanganyar, Sundoro Budi Karyanto, menerima laporan adanya dampak kekeringan di Desa Bulurejo ini sejak sepekan lalu. Pihaknya langsung mengirim armada untuk menyuplai kebutuhan air bersih di sana sebanyak 12.000 liter pada pengiriman pertama. Total hingga Rabu (30/9/2020), sebanyak 24.000 liter air sudah dikirimkan BPBD Karanganyar untuk membantu kebutuhan air warga Bulurejo.

8 Warga Keberatan Nilai Ganti Untung, Apa Kabar Proyek Bendungan Jlantah Karanganyar?

“Ini kasus kekeringan pertama di Karanganyar sepanjang musim kemarau 2020. Sebelumnya dropping air yang kami lakukan di Krendowahono dan Jatikuwung bukan karena kekeringan, tapi karena Pamsimas warga yang rusak. Kalau ini benar-benar murni karena dampak kemarau,” ujar dia ketika dihubungi Solopos.com.

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar mengirimkan air bersih ke Sanggrahan dan Bulurejo, Gondangrejo, Karanganyar Selasa (29/9/2020). (Istimewa/BPBD Karanganyar)

Sundoro mengaku terus memantau perkembangan situasi kebutuhan air di Sanggrahan dan Bulurejo untuk melihat kondisi air bersih di lokasi tersebut.

“Ini juga sudah kami berikan kontak saya langsung. Jadi kalau ada apa-apa seperti stok air sudah menipis atau bagaimana akan langsung kami kirimkan lagi. Sementara kami sudah mengirimkan dua kali dengan menggunakan dua mobil tangki air,” imbuh dia.

Terkait upaya mitigasi, Sundoro menjelaskan ada kemungkinan untuk memprioritaskan bantuan pembuatan sumur dalam di Bulurejo ketimbang di tempat lain. “Kemungkinan salah satunya akan kami alihkan untuk awalnya dibangun di sana [daerah lain] kami bangun di Bulurejo dulu [sumur dalam]. Kalau tidak akan kami ajukan untuk anggaran 2021 mitigasi. Soalnya dari analisa kami memang air bawah tanah di lokasi tersebut menipis. Makanya terjadi krisis air,” ujar dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom