Pekerja sedang merenovasi gedung eks Taman Siswa di Surabaya untuk dijadikan museum pendidikan. (detik.com)

Solopos.com, SURABAYA -- Pemkot Surabaya akan memiliki museum pendidikan. Museum tersebut akan diresmikan pada November mendatang.

Museum di Jl. Genteng, Surabaya ini menemapti bangunan cagar budaya yakni eks Taman Siswa. Nantinya museum Pendidikan akan diisi kurang lebih 800 barang bersejarah dari berbagai masa, mulai dari masa pendidikan pra sejarah hingga masa kini.

Seperti dilansir detik.com, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya, Antiek Sugiharti membenarkan gedung eks Taman Siswa disiapkan oleh Pemkot Surabaya untuk museum pendidikan. Kini proses perbaikan dan penataan terus dikebut.

"Saya dan kawan-kawan Dinas Cipta Karya memantau setiap hari, target saya tanggal 22-24 Oktober ini, saya sudah bisa memasukkan semua koleksi untuk dipindahkan ke sana," kata Antiek saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (17/10/2019).

Sebelum diresmikan oleh Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, Antiek mengatakan persiapan terus dilakukan, salah satunya terkait penyusunan narasi barang-barang bersejarah berdasarkan histori masing-masing.

"Rencananya diisi sekitar 800 koleksi, penataannya kami bikin storyline dan ditata sesuai kategori, ada tekniknya, teman-teman tim museum yang ahli itu. Kita bikinkan mulai pendidikan pra-sejarah, zaman kerajaan, hingga pendidikan masa kini. Rencananya, bulan depan [November] diresmikan," ujar Antiek.

Barang-barang yang akan dipajang dalam museum pendidikan nanti diisi koleksi masa pra-aksara, kolonial zaman Belanda dan Jepang. Saat ini sudah banyak terkumpul beberapa koleksi di antaranya pendidikan pada masa kerajaan, mulai dari pengenalan sejarah pendidikan masa klasik, mengenalkan aksara Jawa "ha na ca ra ka". Kemudian sebuah padepokan pendidikan berbasis agama dan pendidikan di masa kolonial.

Selain itu, koleksi masa perjuangan pahlawan sekaligus Bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara juga sudah siap dipamerkan. Bahkan, di museum itu, ada juga infografis yang menceritakan perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam memperjuangkan pendidikan di Indonesia.

"Lalu benda bersejarah lainnya seperti meja kelas yang ada lubang tintanya, papan tulis kaki, dan bangku. Kami juga mencoba merekonstruksikan tentang pendidikan propaganda Jepang," terang Antiek.

Uniknya lagi, di museum itu akan ada peragaan suasana kelas tempo dulu. Bahkan, nanti juga akan menampilkan alat pendukungnya, seperti buku kurikulum SD-SMA, lampu teplok, lampu petromaks, ublik, lilin, dan sarana papan tulis.

"Termasuk properti gurunya, kita juga cari topi guru sampai sepeda guru zaman dahulu, kita juga carikan," lanjut Antiek.

Antiek menambahkan di museum Pendidikan itu akan ada kurikulum tahun 1970-an. Dalam kurikulum itu, juga dibangunkan sebuah monumen yang merupakan gambaran dari salah satu kurikulum yang digunakan untuk melatih membaca anak-anak.

"Mengeja kata demi kata seperti ini Budi, Budi bermain bola. Dari ini Budi itu tadi maka kami buatkan juga monumen yang bisa dipakai untuk pembelajaran," ungkap Antiek.

Antiek mengaku semua benda-benda itu dikumpulkan dari berbagai pihak. Dari komunitas, lembaga lain dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan.

"Setelah kami dapatkan barang itu lalu sudah dikurasi juga oleh kami. Saat ini posisinya disimpan untuk penyiapan penataan di museum. Jadi itu nanti kita bikin statis dan juga dinamis. Mereka bakal belajar menulis di zaman dulu dengan media yang berbeda," tandas Antiek.

Sumber: Detik.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten