Petugas mengambil sampel air di sumur-sumur warga dekat Sungai Bengawan Solo di Nambangan, Selogiri, Wonogiri, Kamis (28/11/2019). (Istimewa/Adhi Dharma)

Solopos.com, WONOGIRI -- Hasil uji laboratorium air sumur dan air Sungai Bengawan Solo di wilayah Teposan, Selogiri, Wonogiri, sudah keluar. Hasilnya, kualitas air sungai masih cukup bagus, hanya kadar nitritnya cukup tinggi.

Laboratorium yang dimiliki Dinas Kesehatan belum mampu mengukur kadar H2S dan lainnya. Hasil ini mematahkan dugaan bahwa air sumur warga Teposan berbau busuk akibat terkontaminasi air Bengawan Solo yang tercemar limbah PT Rayon Utama Makmur (RUM) di Nguter, Sukoharjo.

Air sumur di wilayah itu berbau diduga akibat struktur tanah. Bau itu tidak berasal dari Sungai Bengawan Solo karena kualitas air sungai itu relatif baik.

“Secara umum, waktu kami ambil sampel, air sungai relatif baik, tidak ada pencemaran seperti di Solo,” kata Kasi Kesehatan Lingkungan Kesehatan Kerja dan Olahraga Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri, Purwadi, mewakili Kepala Dinkes Wonogiri, Adhi Dharma, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Jumat (13/12/2019).

Sesuai Wasiat, Ibu di Wonogiri yang Ajak Anaknya Bunuh Diri Dikubur 1 Lubang

Pengujian juga dilakukan terhadap air dari dua sumur milik warga Teposan, Agus dan Maulana. Sumur milik Maulana berjarak sekitar 30 meter dari Sungai Bengawan Solo.

Kualitas air sumur ini terbilang baik dilihat dari indikator fisika dan kimia. Tingkat kesadahan air ini bernilai 243,2 atau di bawah ambang batas maksimal yang diperbolehkan yakni 500.

Kesadahan ini wajar di Selogiri mengingat tanah di Wonogiri pada umumnya kapur. Namun, kadar kuman air sumur Maulana cukup tinggi. “Jadi kalau dikonsumsi untuk minum harus direbus dulu,” imbuh dia.

Sedangkan dari hasil uji air sumur milik Agus, secara fisik air memang sudah bau. Sumur Agus berjarak sekitar 100 meter dari sungai.

Gelagat Aneh Ibu Yang Bunuh Diri Pakai Racun Serangga Bareng 2 Anaknya di Wonogiri

Bau ini dipengaruhi oleh kadar Besi (Fe) dan Mangan (Mn) yang tinggi. Selain itu, air pun berwarna kekuningan dan jumlah kumannya tinggi.

“Kami menduga bau ini akibat struktur tanah di sana. Enggak tahu dulu [tempat itu] bekas apa di sana. Kami belum bisa menyimpulkan kalau bau ini berasal dari sungai karena air sungai relatif bagus,” terang Purwadi.

Untuk meningkatkan kualitas air sumur milik Agus, Dinkes merekomendasikan agar menjauhkan sumur dari pencemaran minimal 10 meter dari sumber air.

Jika minimalisasi pencemaran ini sudah dilakukan dan angka kuman masih tinggi, warga bisa melakukan klorinasi pada penampungan air sebelum dikonsumsi. Solusi lain adalah dengan memperdalam sumur.

“Sumur warga rata-rata sekitar 10-15 meter. Air sumur biasanya lebih bagus jika kedalaman mencapai 90 meter jadi sumur dalam,” urai dia.

Masalah Rumah Tangga Diduga Picu Ibu di Wonogiri Ajak 2 Anaknya Minum Racun

Sedangkan untuk menetralkan bau, air bisa dilakukan dengan metode aerasi dengan membuat air mengalir secara bertingkat. Selain itu, air bisa disaring menggunakan bahan berisi pasir silika, zeolit, dan karbon aktif.

Jika upaya ini dinilai kurang efektif, warga disarankan pindah sumur ke lokasi yang lebih aman.

Sebagaimana diinformasikan, warga Teposan, Desa Nambangan, Selogiri, tak mau lagi mengonsumsi air sumur mereka beberapa waktu terakhir karena berbau busuk. Warga sempat menduga bau itu karena air sumur tercemar air Bengawan Solo yang terkontaminasi limbah industri.

Apalagi diketahui di sungai itu ada pipa saluran limbah milik PT RUM Sukoharjo yang ditanam di dasar sungai. Dinas Kesehatan Wonogiri kemudian menerjunkan tim untuk mengambil sampel air di sungai maupun di sumur warga.

Di sisi lain, PT RUM membantah limbahnya mencemari sumur warga. PT RUM menyebut sumur warga berbau karena airnya surut selama musim kemarau.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten