Warga mengangkat jenazah Sudirdjo, seorang petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Pemilu serentak 2019 yang meninggal dunia usai mendapatkan perawatan di rumah sakit untuk dimakamkan di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (23/4/2019). KPU Kota Bekasi mencatat sebanyak tiga orang petugas KPPS meninggal dunia usai bertugas dalam proses pemungutan suara Pemilu serentak 2019./ANTARA FOTO-Risky Andrianto

Solopos.com, JAKARTA — Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan kajian terhadap penyebab meninggalnya 440 petugas pemilu dan sakitnya 3.788 orang lainnya. Penelitian diambil melalui lintas disiplin ilmu di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Wawancara berlangsung di seluruh kabupaten di Provinsi DIY dengan mengambil 400 dari 11.781 tempat pemungutan suara. Penelitian dilakukan pada 20 Mei—23 Juni. Tim Peneliti Kajian, Riris Andono Ahmad mengatakan bahwa berdasarkan hasil otopsi verbal, seluruh petugas yang meninggal dunia berjenis kelamin laki-laki berusia 46-67 tahun.

“80 persen melaporkan adanya riwayat penyakit kardiovaskular dan 90 persen kasus mempunyai riwayat merokok,” katanya usai melaporkan hasil temuan di Gedung KPU, Jakarta, Rabu (25/6/2019).

Riris menjelaskan bahwa beban kerja petugas berkisar antara 20—22 jam pada saat pemungutan. Sementara itu 7,5—11 jam untuk mempersiapkan TPS dan 8—48 jam untuk mempersiapkan dan mendistribusikan undangan.

“Dari total 212 pemilu di Jogjakarta baik yang sehat maupun sakit, 80 persen petugas menilai tuntutan pekerjaan tergolong tinggi. Di samping itu 83 persen memiliki keterlibatan kerja yang tinggi,” jelasnya.

Dari fakta tersebut, ditemukan fakta 89,2 persen dari 74 petugas yang sakit merasa memiliki tuntutan kerja tinggi. Hanya 74,2 persen dari 138 petugas sehat yang merasa demikian. Kondisi tersebut mengakibatkan petugas sakit memiliki tingkat kelelahan lebih tinggi dibanding yang sehat.

Kesimpulan dari hasil riset ini, Tim Peneliti UGM, Abdul Gaffar Karim menjelaskan bahwa semua petugas meninggal penyebabnya natural.

“Semuanya disebabkan oleh problem kardiovaskular entah jantung, stroke atau gabungan dari jantung dan stroke. kami sama sekali tak menemukan indikasi misalnya diracun, atau sebab-sebab lain yang lebih ekstrem,” jelasnya. 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten

%d blogger menyukai ini: