Kategori: Karanganyar

Buka Usaha Tambal Ban Tarif Seikhlasnya, Pelajar SMK Karanganyar Sampai Bongkar Celengan


Solopos.com/Candra Mantovani

Solopos.com, KARANGANYAR - Pelajar SMK 1 Karanganyar, Wahyu Nugroho, menjadi perbincangan lantara membuka usaha tambal ban tanpa mematok tarif. Ternyata saat membuka usaha itu, Wahyu harus membongkar celengannya.

Saat ditemui Solopos.com di rumahnya di Wonorejo, Gondangrejo, Karanganyar, Minggu (7/3/2021), Wahyu bercerita awal mula membuka usaha tambal ban tersebut. Menurutnya, hal itu semua didasari oleh pesan dari sang ibu.

Baca Juga: Pria Asal Jebres Solo Meninggal Saat Gowes ke Karangpandan, Diduga Kena Serangan Jantung

“Awalnya itu bulan Mei 2020 saya kan sekolah online. Ibu bilang kok saya kayak pengangguran cuma di rumah saja. Diminta cari kegiatan. Lalu ada bengkel tambal ban yang butuh tenaga, lalu saya coba," katanya saat berbincang dengan Solopos.com di rumahnya, Minggu (7/3/2021).

"Setelah beberapa bulan, saya mencoba buka sendiri. Nah pas buka sendiri itu, ibu bilang ke saya kalau saya itu enggak boleh mematok harga jasa karena niatnya harus membantu, bukan karena cari untung dari kesusahan orang,” lanjut Wahyu.

Tabungan Setahun

Untuk membuka sendiri usahanya, Wahyu membongkar celengan yang dia tabung selama sekitar setahun. Bermodalkan uang itu, dia kemudan membeli perkakas tambal ban dan beberapa ban dalam dan luar.

“Saat itu terkumpul uang Rp400.000. Saya beli perkakas, dua ban luar, dan beberapa ban dalam. Mulailah saya menjalankan usaha itu dan mengiklankan di sosial media,” lanjut dia.

Wahyu menyadari usaha yang dijalankannya ini berpotensi merugi karena tak mematok tarif. Namun, pelajar SMK ini tetap tak mau berhenti menjalankan usaha tambal ban tersebut. Bahkan dia mengaku tetap berupaya untuk berprinsip tidak mematok tarif jasa tambal ban jika punya bengkel nanti.

Baca Juga: Mau Pasang Panel Surya di Rumah? Aplikasi ini Bisa Hitung Biaya sampai Penghematan Tagihan Listrik

"Sampai saat ini kadang malam-malam ada yang datang ke rumah minta tolong ditambal bannya dan bilang tidak punya uang ya saya layani. Saya tidak pernah menghitung pendapatan saya setiap harinya. Intinya saya mau melaksanakan pesan ibu itu untuk membantu orang. Toh saya juga masih sekolah. Bahkan kalau saya nanti sudah punya bengkel sendiri, saya tetap mau menerapkan untuk tidak mematok tarif jasa,” ucap dia.

Share
Dipublikasikan oleh
Ahmad Baihaqi