Buka Tengah Malam, Warung Sambal Tumpang Legend di Sragen Ini Laku Hingga 250 Porsi/Malam
Pengunjung mengantre membeli nasi sambal tumpang Bu Wardi Pecing, Sragen Tengah, Sragen, Kamis (8/4/2021) dini hari. (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Warung Sambal Tumpang Bu Wardi Pecing merupakan satu dari tujuh warung sambal tumpang legendaris di Sragen. Uniknya, warung sambal tumpang ini hanya dibuka pukul 00.00 WIB hingga 03.00 WIB.

Meski hanya dibuka selama tiga jam di tengah malam, sekitar 250 porsi sambal tumpang habis terjual setiap kali buka. Warung Sambal Tumpang Bu Wardi dibuka tepat pukul 00.00 WIB.

Agar dilayani duluan, sejumlah pelanggan sengaja datang lebih awal ke warung sambal tumpang Bu Wardi di Kampung Pecing RT 03/RW 014, Sragen Tengah, Sragen. Tak heran, antrean pembeli langsung membeludak begitu warung itu buka.

Baca Juga: Rasanya Maknyuss! Rumah Makan Padang di Sragen Ini Kerap Didatangi Bupati dan Wabup

Kebanyakan pembeli warung sambal tumpang di Pecing, Sragen, itu merupakan driver ojek online. Pesanan dari driver ojek online itu bervariasi mulai dari 1 bungkus hingga 10 bungkus.

Hingga menjelang pukul 03.00 WIB, pembeli terus berdatangan. Rombongan terakhir cukup banyak. Mereka datang setelah menyaksikan pertandingan voli antarkampung di Gesi.

warung sambal tumpang sragen
Nasi sambal tumpang di warung Bu Wardi di Pecing, Sragen. (Solopos/Moh Khodiq Duhri)

“Saya termasuk penggemar sambal tumpang. Menurut saya, Sambal Tumpang Bu Wardi itu mantap. Rasanya gurih dan sedikit pedas. Pokoknya pas dengan lidah saya,” ujar Giyanto, 45, warga Kroyo, Karangmalang, Sragen, saat berbincang dengan Solopos.com di lokasi, Kamis (8/4/2021) dini hari.

Baca Juga: Ular Piton 3 Meter Tertangkap Di Masaran Sragen Sudah Sebulan Menghantui Warga

32 Tahun Berjualan

Pemilik warung sambal tumbang Bu Wardi di Pecing, Sragen, Rochati, 59, istri dari Suwardi, mengaku sudah 32 tahun berjualan sambal tumpang. Usaha yang menjadi jalan rezekinya itu ia rintis saat masih berusia 27 tahun pada 1989.

Kepada Solopos.com, perempuan dengan empat anak dan enam cucu itu bercerita latar belakang ia membuka warung makan pada tengah malam, saat sebagian besar orang masih terlelap. Sebelum membuka warung makan sambal tumpang di rumah, Rochati awalnya menjajakkan dagangannya berkeliling Pasar Bunder.

Pasar induk itu memang dikenal tak pernah tidur. Aktivitas jual beli tetap berlangsung selama 24 jam. Saat masih muda, ia membungkus satu per satu nasi sambal tumpang lalu menjualnya keliling Pasar Bunder pada pukul 03.00 WIB.

Baca Juga: Cerita Kakak-Adik Asal Sragen Sukses Bikin Rumah Makan Padang, Awalnya Cuma Jadi Tukang Cuci Piring

Merasa tenaganya sudah berkurang, Rochati kemudian memutuskan membuka warung makan sambal tumpang di rumahnya di Pecing, Sragen. Tidak disangka, para penggemar berat nasi sambal tumpang racikannya itu rela datang ke rumahnya. “Dulu pukul 03.00 WIB, nasi sambal tumpang sudah siap jual secara keliling. Setelah buka di rumah, semua menu sudah siap pukul 00.00 WIB,” terang Rochati.

Rochati biasa membeli tempe sebagai bahan baku utama sambal tumpang di Pasar Bunder. Tempe dengan bungkus daun jati itu kemudian didiamkan selama lima hari.

Hampir Busuk

Tempe yang sudah “semangit” atau hampir busuk itu kemudian diolah menjadi sambal tumpang. Usia lima hari tempe dianggap pas untuk menyajikan sambal tumpang yang nikmat. “Kalau baru dua hari rasanya kecut. Kalau enam hari sudah membusuk. Yang pas itu ya usia lima hari,” jelas Rochati.

Baca Juga: Cerita Kakak-Adik Asal Sragen Sukses Bikin Rumah Makan Padang, Awalnya Cuma Jadi Tukang Cuci Piring

Rochati biasa menghabiskan 20 kg beras tiap malam untuk menemani menu sambal tumpang di warungnya di Pecing, Sragen, itu. Dari 20 kg beras itu, ia bisa menjual sekitar 250 porsi nasi sambal tumpang.

Kebanyakan nasi sambal tumpang itu habis sebelum pukul 03.00 WIB. Bila masih tersisa, ia akan membuka lagi warungnya pada pagi hari mulai pukul 06.00 WIB. Biasanya para tetangga datang untuk membeli sambal tumpang sebagai menu sarapan.

“Rata-rata ada sekitar 30-40 [driver] ojek online tiap malam. Kalau malam Minggu atau jelang hari libur, jumlah [driver] ojek online bisa mencapai 50 pesanan. Kadang karena semua ingin cepat dilayani, mereka sampai membantu menggoreng tempe atau telur di dapur. Alhamdulillah, saya merasa banyak terbantu dengan ojek online karena mereka telah memasarkan dagangan saya,” papar Rochati.



Berita Terkini Lainnya








Kolom