Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS), Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Rabu (10/7/2019). (Solopos/Iskandar)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Sudah sekitar empat bulan https://soloraya.solopos.com/read/20190311/490/977304/rsis-sukoharjo-beroperasi-igd-ditangani-10-dokter" title="RSIS Sukoharjo Beroperasi, IGD Ditangani 10 Dokter">Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS) di Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, dibuka kembali setelah sekitar satu tahun vakum akibat konflik internal manajemen.

Kini pengurus Yayasan https://soloraya.solopos.com/read/20190303/490/975611/awali-operasional-rsis-sukoharjo-segera-buka-igd" title="Awali Operasional, RSIS Sukoharjo Segera Buka IGD">Rumah Sakit Islam Surakarta (Yarsis) selaku pengelola RSIS tengah mengurus izin praktik rumah sakit ke instansi terkait. Ketua Pengawas Yayasan Rummah Sakit Islam Surakarta (Yarsis), Muhammad As’ad, optimistis izin praktik itu akan turun pada Juli ini.

Dia mengatakan telah memenuhi berbagai persyaratan yang dibutuhkan untuk mendapatkan izin tersebut.

“Mudah-mudahan izin praktik akan turun bulan ini. Izin itu dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo atas rekomendasi Dinas Kesehatan Provinsi Jateng,” ujar dia ketika ditemui wartawan di ruang kerjanya, Rabu (10/7/2019).

Menurut dia, izin yang kini tengah diperjuangkan adalah untuk rumah sakit (RS) tipe C meski sebelum konflik dan vakum, RS di Jl. A. Yani Pabelan ini mengantongi izin tipe B.

Dia menjelaskan salah satu syarat RS tipe C harus mempunyai empat dokter spesialis. https://soloraya.solopos.com/read/20190302/490/975251/kenangan-indah-warganet-tentang-rsis-pabelan" title="Kenangan Indah Warganet tentang RSIS Pabelan">RSIS mengaku telah bekerja sama dengan lebih dari empat dokter spesialis yang dulu juga berpraktik di rumah sakit itu.

As'ad pun yakni RSIS sudah 98 persen siap beroperasi kembali dengan menerima pasien rawat inap dan membuka poliklinik seperti dulu. As’ad mengungkapkan guna persiapan operasional RS tipe C, pengelola saat ini rutin menghidupkan seluruh AC di ruang computed tomography (CT) scan, ruang radiologi, laboratorium, dan sebagainya.

AC laboratorium harus selalu hidup karena saat ini RSIS masih bekerja sama dengan rumah sakit lain di bidang patologi anatomi seperti pengecekan jaringan. Selain itu juga ada kerja sama patologi klinik untuk menangani pengecekan darah, air seni, dan sebagainya.

“Ada beberapa puluh rumah sakit kecil yang tidak punya laboratorium representatif bekerja sama dengan kami,” papar dia.

Sedangkan untuk instalasi gawat darurat (IGD) sejak dulu masih beroperasi. Namun untuk pengoperasian poliklinik dan rawat inap masih menunggu izin.

Karyawan juga sudah masuk rutin dengan upah berkisar Rp1 juta per orang per bulan. Pasien masuk IGD, imbuh As’ad, dalam satu hari rata-rata ada 10 orang.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten