Buka 6 Cabang, Burjo Ambucuy Raih Omzet Puluhan Juta Rupiah Per Bulan

Warung makan yang buka 24 jam ini juga sering menjadi tempat mahasiswa atau pelajar untuk mengerjakan tugas. Oleh karena itu, burjo sering ditemui di kawasan sekitar sekolah dan kampus.

Shilvia Ajeng Meidita - Solopos.com
Rabu, 26 Januari 2022 - 19:48 WIB

SOLOPOS.COM - Warung burjo biasanya juga menyajkan masakan olahan mi.( ilustrasi/Freepik)

Solopos.com, SOLO – Warung Bubur Kacang Ijo (hijau) atau yang kerap disebut dengan Burjo merupakan salah satu tempat makan yang paling diminati masyarakat, khususnya bagi mereka yang menginginkan makanan dengan porsi banyak dan harga terjangkau.

Meskipun terkenal dengan nama bubur kacang ijo, warung makan ini menyediakan berbagai menu lainnya mulai dari olahan nasi, mi, serta makanan ringan lain yang dijual dengan harga murah.

Warung makan yang buka 24 jam ini juga sering menjadi tempat mahasiswa atau pelajar untuk mengerjakan tugas. Oleh karena itu, burjo sering ditemui di kawasan sekitar sekolah dan kampus.

Salah satu burjo yang terkenal di Solo adalah Burjo Ambucuy. Burjo Ambucuy berdiri sejak 2012 dan sampai saat ini memiliki 6 cabang yang bertempat di daerah sekitar Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan daerah Ngemplak, Banjarsari, Solo.

Pemilik Burjo Ambucuy ini berasal dari daerah Jawa Barat dan kebanyakan karyawan yang bekerja di tempat ini berasal dari daerah yang sama. Namun, untuk pengelolaan yang lebih intens setiap cabang dipimpin oleh ketua pengelola yang dipilih langsung oleh pemilik.

Jika dilihat dari maraknya warung burjo yang ada di Solo, usaha ini tampaknya cukup menjanjikan. Pemilik dapat memperoleh omzet besar dari penjualannya.  Penghasilan bisnis ini juga dinilai cukup stabil, meskipun pernah mengalami penurunan pendapatan yang signifikan pada awal Pandemi Covid-19.

Salah satu pengelola burjo Ambucuy cabang ke-3 yang berlokasi di daerah kampus UMS, Yunus, mengatakan burjo yang dia kelola saat ini berdiri sejak 2016 dan memiliki total 4 karyawan yang bekerja paruh waktu. Semua modal, pemilihan tempat, serta biaya operasional lainnya berasal dari pemilik.

“Untuk modal awal kurang lebih Rp100 juta itu sudah sama kontrakan, uangnya semua dari bos. Untuk omzetnya sendiri sehari bisa Rp2,5 jutaan sekarang perh hari. Beda banget sama dulu waktu awal pandemi, sampai nangis sehari cuma dapet sekitar Rp500 ribuan aja,” terang kepada Solopos.com, Rabu (26/1/2022).

Meskipun mengalami penurunan pendapatan di awal pandemi. Saat ini, omzet warung burjo yang dikelolanya cukup stabil. Jika diakumulasikan, omzet tiap bulannya dapat mencapai Rp75 jutaan.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif