Tutup Iklan

Solopos.com, JOGJA -- Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas dengan tinggi kolom 3.000 meter pada Senin (14/10/2019). Letusan ini jauh lebih tinggi dibandingkan Minggu (22/9/2019) di mana kolom asap letusan saat itu setinggi kurang lebih 800 meter.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja Hanik Humaida mengatakan letusan Gunung Merapi yang terekam di seismogram pada Senin pukul 16.13 WIB memiliki durasi 270 detik dengan amplitudo 75 mm. Kolom awan panas terekam setinggi kurang lebih 3.000 meter dari puncak.

"Karakter awan panas letusan sama dengan tanggal 22 September 2019 lalu. Hanya untuk awan panas letusan kali ini lebih besar. Penyebabnya karena akumulasi gas," kata Hanik di kantornya, Senin.

Letusan awan panas tersebut, kata Hanik, menunjukkan Gunung Merapi kondisinya masih hidup atau berproses. Artinya, letusan yang sama dimungkinkan kembali terjadi akibat akumulasi gas.

"Sewaktu-waktu bisa terjadi kembali awan panas letusan. Oleh karenanya masyarakat tetap harus waspada. Status Merapi masih belum berubah [level II, waspada]," urainya.

Baca juga: Awan Panas Merapi, Selo Boyolali Diguyur Hujan Abu 1 Jam.

Disinggung soal hujan abu, Hanik mengatakan hujan abu lebih banyak terjadi di wilayah Magelang. Hal ini dipengaruhi oleh arah mata angin yang ke arah barat daya. Untuk mengantisipasi gangguan abu vulkanik terhadap penerbangan, katanya, BPPTKG mengeluarkan VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan kode warna Orange.

"Masyarakat tetap harus waspada. Gunakan masker [kalau ada hujan abu vulkanik]. Status masih sama, rekomendasi masih sama," katanya.

BPPTKG merekomendasikan radius bahaya adalah 3 km dari puncak Gunung Merapi. Di luar radius tersebut masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa. Masyarakat juga diimbau untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik.

Baca juga: Merapi Kembali Luncurkan Awan Panas.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten