Pegawai BPBD Kabupaten Temanggung mendistribusikan bantuan air bersih di daerah kekeringan. (Antara-BPBD Kabupaten Temanggung)

Solopos.com, TEMANGGUNG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung menyatakan daerah setempat masih berstatus darurat bencana kekeringan. Padahal, Pemprov Jateng beberapa waktu lalu sempat menyangkal ada wilayah di Jawa Tengah yang -sangkal-ada-krisis-air-bersih-di-jateng">krisis air bersih.

"Status darurat kekeringan sudah dikeluarkan sejak Mei 2019 dan bakal berakhir Agustus 2019. Namun demikian, jika kondisi masih kemarau dan belum ada tanda-tanda hujan maka status darurat akan diperpanjang," kata Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Temanggung, Gito Walngadi, Selasa (20/8/2019).

Ia mengatakan berdasarkan informasi yang didapatkan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) puncak kemarau 2019 diprediksi terjadi antara akhir Agustus sampai awal September. "Saat ini status kekeringan di Temanggung masih darurat. Status belum kami cabut sejak ditetapkan bulan Mei," katanya.

Menurut dia, kondisi kekeringan saat ini semakin meluas menjadi 12 kecamatan, karena semakin banyak sumber air di lingkungan rumah penduduk kering. Sejumlah wilayah yang jauh dari sumber air bahkan terpaksa harus menunggu bantuan air bersih yang didistribusikan BPBD Temanggung dengan menggandeng sejumlah lembaga, instansi maupun kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian.

Ia mengajak kepada seluruh masyarakat agar lebih hemat menggunakan air bersih. Begitu juga upaya-upaya penghijauan lingkungan terus digelorakan, agar lingkungan yang ditinggali masyarakat tetap asri dan dapat menyimpan air. "Upaya ajakan agar masyarakat menggelorakan menanam tanaman, tentu kami juga lakukan, selain upaya droping air bersih," katanya.

Ia menuturkan untuk upaya jangka panjang, pihaknya telah mengusulkan program pipanisasi untuk lima kecamatan terdampak kekeringan di wilayah Kabupaten Temanggung. Meskipun tahun ini merupakan usulan ketiga kalinya kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia, pihaknya tetap berupaya agar program pipanisasi dapat terealisasi.

"Kami ajukan total sebesar Rp3,9 miliar," tuturnya.

Bencana kekeringan di Temanggung terus meluas dari enam kecamatan menjadi 12 kecamatan, 40 desa dan 129 dusun atau titik yang memiliki potensi besar kekeringan pada puncak musim kemarau ini. Sebanyak 12 kecamatan yang wilayahnya terjadi kekeringan, yakni Kecamatan Kandangan, Pringsurat, Kaloran, Kranggan, Jumo, Candiroto, Selopampang, Gemawang, Kledung, Bulu, Tembarak dan Kecamatan Tlogomulyo.

Ia menyebutkan tahun ini BPBD Temanggung siapkan bantuan air bersih sebanyak 350 tangki atau senilai Rp85 juta. "Bantuan air bersih kami lakukan setiap hari, rata-rata ada empat tangki. Selain menggunakan anggaran dari APBD, bantuan air bersih juga dari berbagai lembaga, seperti Bank Jateng, Baznas, Polres, komunitas dan lainnya," katanya.

">KLIK dan ">LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten