Wahyu Susilo/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (19/6/2019). Esai ini karya Wahyu Susilo, Direktur Eksekutif Migrant Care dan sedang meneliri radikalisme dan ekstremisme dalam migrasi tenaga kerja. Alamat e-mail penulis adalah wahyu@migrantcare.net.

Solopos.com, SOLO -- Menjelang pemungutan suara pemilihan umum 2019 pada 17 April lalu, kita dikejutkan serangkaian penangkapan orang-orang yang diduga akan melakukan aksi terorisme untuk mengganggu pesta demokrasi dan memperkeruh tahun politik.

Kontestasi sengit dalam pemilihan presiden antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto memang belum mereda hingga hari ini. Penangkapan para terduga teroris terus berlanjut hingga seusai pemungutan suara.

Memanasnya tahun politik akibat hoaks yang berkelindan dengan politisasi agama ternyata memang berlanjut setelah penetapan hasil rekapitulasi pemilihan umum oleh Komisi Pemilihan Umum pada 21 Mei lalu.

Demonstrasi dan ujaran-ujaran kebencian terus berdengung menggunakan ayat-ayat agama yang ditafsirkan sesuai kepentingan politik. Dari serangkaian penangkapan para terduga teroris, beberapa di antara mereka ditangkap di kawasan Soloraya, tepatnya di Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Klaten.

Teror dengan eskalasi tinggi adalah aksi bom bunuh diri yang dilakukan menjelang Lebaran di Kartasura, Sukoharjo. Aksi konyol yang dilakukan pemuda asal Kabupaten Sukoharjo ini dapat digagalkan dan polisi bisa mengorek keterangan keterlibatan orang lain yang juga berasal dari Kota Solo dan Kabupaten Sukoharjo.

Situasi terakhir ini memperlihatkan bahwa kawasan Soloraya memang termasuk kawasan yang rentan memunculkan para pelaku kekerasan ekstrem (violent extremism) atas nama agama. Dalam geografi politik radikalisme, kawasan Solo rya memang dikenal memiliki akar historis perlawanan.

Di sisi kiri ada Haji Misbach dan gerakan buruh radikal seperti yang digambarkan Takashi Siraishi dalam buku An Age in Motion (Zaman Bergerak). Di sisi kanan akar historisnya juga paralel dengan sisi kiri. Sarekat Islam pada zaman bergerak pernah memunculkan gerakan pembela Islam.

Figur Sentral Radikalisme Ekstrem

Committee Tentara Kandjeng Nabi Moehamad itu dibentuk Sarekat Islem ketika ada artikel yang dianggap menghina Nabi Muhammad SAW di salah satu koran berbahasa Jawa yang terbit Solo.

Pada masa Orde Baru, seperti yang ditulis Sholahuddin dalam buku NII Sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia, Abubakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar dalah figur sentral dari gerakan Islam radikal hingga saat ini.

Aktivisme mereka juga bermula di Solo. Realitas tersebut mau tidak mau telah memberi stigma kawasan Soloraya adalah kawasan yang terus-menerus harus diawasi karena potensi menjadi tembah tumbuh dam berkembangnya gerakan radikalisme yang mengarah pada ekstremisme kekerasan.

Dalam satu dekade ini, mungkin sudah terjadi ratusan penangkapan, baik dalam bentuk baku serang, penyergapan, atau penggerebekan para teroris dan terduga teroris, namun tetap saja di kawasan ini terus bermunculan para pelaku ektremisme kekerasan.

Sosok anak muda Indonesia yang menjadi eksponen Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang sangat aktif merekrut kombatan, Bahrum Naim, adalah warga Solo yang namanya bertengger sebagai salah satu orang yang paling dicari dan dianggap bertanggung jawab dalam serangkaian aksi teror di Indonesia.

Mengapa hal tersebut terjadi? Sudah saatnya dipikirkan bahwa pendekatan keamanan (security approach) bukanlah satu-satunya cara yang tepat untuk untuk mengatasi hal tersebut. Harus ada upaya pendekatan nonkeamanan (nonsecurity approach) dalam langkah-langkah deradikalisasi di kawasan ini.

Sebenarnya Kota Solo (khususnya) serta kawasan Soloraya lainnya memiliki modal sosial yang memadai untuk terselenggaranya pendekatan nonkeamanan yang diperlukan bagi langkah-langkah deradikalisasi di kawasan ini.

Spirit Kebinekaan

Keragaman/pluralitas yang dimiliki kawasan ini serta nilai-nilai tradisi yang tercermin dalam aktivitas seni dan budaya harus terus-menerus dimanfaatkan untuk memupuk spirit kebinekaan masyarakat.

Harus diakui hingga saat ini spirit kebinekaan adalah serum yang ampuh untuk melumpuhkan upaya-upaya hegemoni nilai tunggal atas nama kebenaran agama yang ditafsirkan secara sepihak.

Dalam lima tahun terakhir ada banyak acara kebudayaan berlangsung di Solo seperti International Dance Festival, International Gamelan Festival, Solo International Performance Art, dan acara-acara tahunan seperti Grebek Sudiro, luludan, ataupun malem selikuran.

Hendaknya acara-acara tersebut tak hanya menjadi atraksi pariwisata, tetapi dibumikan kembali untuk merevitalisasi sekaligus memperkuat keberagaman/pluralitas dan kreativitas warga Soloraya. Syaratnya adalah pelibatan warga secara partisipatif dalam penyelenggaraan acara-acara tersebut.

Partisipasi warga akan memunculkan rasa memiliki (ownership) warga atas acara-acara tersebut agar tidak ada kesan bahwa acara-acara tersebut adalah milik sepihak Dinas Pariwisata Kota Solo, Pemerintah Kota Solo, atau event organizer.

Pada masa liburan Lebaran yang baru saja berlalu, saya sangat terkesan atas penyelenggaraan sendratari Sinta Obong yang digelar secara beruntun pada 7-9 Juni 2019 di Benteng Vastenburg, Solo, dan sendratari Anoman Obong di Taman Balekambang, Solo, pada 14 Juni 2019.

Ribuan penonton, mayoritas kaum muda, memenuhi pertunjukan tersebut. Ini tentu kabar gembira di antara berita-berita bahwa pengunjung pertunjukan Wayang Wong Sriwedari tiap malam hanya berjumlah puluhan orang penonton.

Inisiatifi-inisiatif Seni dan Budaya

Ini juga memunculkan optimisme bahwa masih banyak generasi muda yang menaruh perhatian pada seni tradisi dan budaya lokal. Pemerintah lokal di kawasan Soloraya bisa menghidupkan kembali inisiatif-inisiatif seni dan budaya.

Inisiatif-inisiatif seni dan budaya itu diberdayakan sebagai muatan lokal pendidikan atau aktivitas komunitas guna membendung gagasan radikalisme dan ekstremisme yang mulai aktif menyusup dalam dunia pendidikan maupun sosial kemasyarakatan.

Kita tahu seluruh pelaku aksi teror mayoritas adalah kaum muda dan sekarang mulai melibatkan kaum perempuan. Mereka terpengaruh melalui interaksi, sebagian besar, di media sosial. Informasi-informasi instan ditelan mentah-mentah.

Mereka juga sangat potensial menjadi pelanjut informasi-informasi hoaks dan ujaran kebencian. Di sinilah pentingnya melibatkan kaum muda secara aktif dalam segala aktivitas memupuk nilai-nilai keragaman dan menyebarkan spirit kebinekaan.

Acap kali seremoni mengatasnamakan kerukunan umat beragama hanya diwakili oleh petinggi-petinggi agama yang kurang mencerminkan wajah kaum muda dan perempuan.

Sudah saatnya kaum muda dan kaum perempuan menjadi subjek aktif dalam inisiatif mencegah penguatan nilai-nilai radikalisme dan ekstremisme atas nama agama yang ditafsirkan secara sepihak.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten