Kerabat mengusung keranda jenazah Muhammad Ahsan Arrosyid, 8, warga Dukuh Karangkidul, Desa Jurug, Kecamatan Mojosongo, Boyolali, menuju permakaman setempat, Rabu (13/2/2019). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)

Solopos.com, BOYOLALI — Muhammad Ahsan Arrosyid, 8, warga Dukuh Karangkidul, Desa Jurug, Kecamatan Mojosongo, Boyolali, meninggal dunia satu jam setelah menjalani operasi amandel di Rumah Sakit Hidayah, -biasa-pria-ini-keliling-bawa-brangkal-untuk-tutup-lubang-jalan-di-boyolali-” title=”Luar Biasa, Pria Ini Keliling Bawa Brangkal Untuk Tutup Lubang Jalan di Boyolali”>Boyolali, Selasa (12/3/2019).

Pihak rumah sakit menyatakan proses operasi sudah dilakukan sesuai prosedur, namun tetap akan melakukan audit medis. Ahsan yang merupakan siswa kelas I SDIT Ibnu Umar Mojosongo ini langsung dimakamkan keluarganya pada Rabu (13/3/2019) di permakaman dekat rumahnya.

Ayah Ahsan, Wakidi, mengatakan anaknya memang menderita amandel dan oleh dokter Telinga Hidung Tenggorokan (THT) dinyatakan harus dioperasi. Kemudian Ahsan dirujuk ke RS Hidayah di Kragilan, Mojosongo, untuk dioperasi.

“Seharusnya operasinya Selasa [5/3/2019] pekan lalu. Tapi saat itu kondisi Ahsan sedang tidak fit, sedang masuk angin, sehingga operasinya ditunda sepekan [Selasa, 12/3/2019]. Selain itu, saat itu Ahsan juga masih UTS [ujian tengeh semester] sehingga biar selesai dulu ujiannya, setelah itu baru operasi,” ujarnya saat ditemui seusai pemakaman anaknya.

Pada hari-H operasi, Ahsan datang ke rumah sakit sejak pagi dan langsung diminta puasa sebelum menjalani -tak-ada-kbm-sd-di-simo-boyolali-akan-ditutup” title=”Setahun Tak Ada KBM, SD di Simo Boyolali akan Ditutup”>operasi. “Pukul 10.00 WIB dia sudah tidak makan dan minum apa-apa, karena operasinya katanya sore,” imbuhnya.

Selama menunggu, Ahsan berada di ruang IGD sampai pada akhirnya mendapat giliran operasi sekitar pukul 17.00 WIB. Operasi berjalan sekitar satu jam dan selanjutnya dibawa ke ruang pemulihan.

Tetapi, setelah siuman kondisi Ahsan kian menurun dan terlihat pucat. Bahkan pada bagian mata mengalami pembengkakan hingga kemudian kondisinya terus menurun dan dibawa perawat ke ruang intensive care unit (ICU).

“Di ICU pun kondisinya belum membaik. Anak saya sempat dipacu dengan alat pemacu jantung tetapi sepertinya sudah tidak tertolong. Sampai pada akhirnya kami diberi tahu Ahsan sudah meninggal,” ujar Wakidi seraya menundukkan kepalanya.

Sukidi sempat menanyakan perihal kondisi yang dialami anaknya sehingga meninggal dunia. “Rumah sakit mengatakan sudah berusaha sebaik-baiknya,” kenang Wakidi.

Paman Wakidi, Muhyidin, 51, yang saat itu juga ikut menunggui Ahsan mengatakan hal serupa. “Setelah operasi kondisinya memburuk. Kami tidak tahu kenapa bisa begitu. Sampai akhirnya dia [Ahsan] meninggal,” ujarnya.

Kakak Ahsan, Fajar Saefudin, menambahkan adiknya pernah mengalami flek di paru-paru. Namun itu terjadi saat Ahsan berusia sekitar satu tahun dan pengobatannya sudah selesai.

“Waktu kecil memang dia flek paru-paru, tapi sudah diobati. Apakah ini menjadi penyebab [kematian], kami tidak tahu,” ujarnya.

Di sisi lain, ketiganya menyatakan ikhlas atas kepergian Ahsan dan tidak akan menuntut rumah sakit. Ditemui terpisah, Direktur RS Hidayah -boyolali-ganjar-minta-perangkat-desa-jangan-suka-nglangkahi-kades” title=”Di Boyolali, Ganjar Minta Perangkat Desa Jangan Suka Nglangkahi Kades”>Boyolali, Ida Wulandari, mengakui Ahsan dioperasi di rumah sakitnya.

Menurut dia, prosedur medis dalam operasi Ahsan sudah dijalankan. Selain itu, operasi amandel yang tergolong operasi ringan itu juga berjalan lancar sekitar 30 menit tanpa masalah.

“Masuk ruang operasi pukul 17.30 WIB dan pukul 18.00 WIB sudah selesai. Karena dia dibius total, dia tidak sadar dan setelahnya dilakukan diobservasi di recovery room. Pukul 18.30 WIB sudah sadar dan sudah ada respons. Tanda vital sudah bagus. Lalu layak pindah ke ruangan,” ujarnya saat ditemui di rumah sakit.

Setelah itu, terjadi situasi tak terduga hingga akhirnya Ahsan meninggal dunia. “Kami garisbawahi, prosedur medis sudah kami jalankan. Tapi ini di luar prediksi tapi karena kasus seperti ini harus ada audit medis. Kami akan kumpulkan semua yang terlibat penanganan pasien ini untuk mengetahui penyebabnya,” ujarnya.

Audit medis ini belum dapat dilakukan karena sebagian anggota tim yang menangani Ahsan, termasuk dokter THT, dokter anaestesi, dan perawat sedang ada kegiatan lain di luar kota.

“Dokter spesialis THT yang menangani hari ini sedang ada dinas di Semarang. Tapi sudah kami rencanakan segera audit medis kalau sudah ada semua,” kata dia.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten