Kepala BNPT, Suhardi Alius. (Bnpt.go.id)

Solopos.com, SOLO – Kepala BNPT, Komjen Suhardi Alius, mengatakan pakaian tidak bisa diasosiasikan dengan ideologi seseorang. Jadi, menurutnya sangat tidak tepat mengaitkan tampilan celana cingkrang, jenggot, dan cadar dengan radikalisme.

Suhardi Alius menilai radikalisme merupakan pandangan ideologis. Bukan soal tampilan seseorang berdasarkan pakaian saja.

“Tidak bisa kami lihat dengan tata busana, kemudian berjenggot, celana cingkrang, tapi itu masalah ideologi. Bisa saja orang berpakaian rapi seperti orang banyak tapi pikirannya sudah keras. Nah ini harus kami rumuskan dengan baik. Tidak boleh kita menjustifikasi seperti itu,” kata Suhardi Alius seperti dikutip dari Suara.com, Sabtu (2/11/2019).

Suhardi Alius kemudian membandingkan aturan tersebut dengan yang berlaku di kepolisian yang melarang anggota memelihara jenggot.

“Tapi kan yang disampaikan Menag kan bagaimana itu berlaku di lingkungan lembaga negara, tentu ada aturannya. Ya sama dengan kita. Kayak macam di TNI-Polri, berseragam, kan tidak boleh jenggot atau hanya berkumis contohnya kan. Itu kan aturan," ucapnya.

Pernyataan Suhardi Alius disampaikan sebagai respons wacana pelarangan pemakaian celana cingkrang dan cadar bagi aparatur sipil negara (ASN) oleh Menteri Agama, Fachrul Razi. Suhardi Alius selaku Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sependapat dengan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Hak Asasi Manusia (Menkopolhukam), Mahfud MD, yang menilai radikalisme tidak bisa langsung terlihat dari penampilan.

Sumber: Suara.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten