Kategori: Jateng

BMKG Ungkap Ada 7 Sesar Aktif Melintang di Daratan Jateng


Solopos.com/Newswire

Solopos.com, SEMARANG -- Gempa-gempa signifikan dengan kekuatan di atas magnitudo (M) 7.0 pernah terjadi di masa lalu khususnya di selatan Pulau Jawa dan zona megathrust.

Hal itu diungkapkan Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Banjarnegara, Setyoajie Prayoedhie, Selasa (26/1/2021). Menurut dia, perlu kajian untuk memprakirakan terjadinya pengulangan gempa.

"Gempa besar dengan magnitudo antara 7,0 dan 7,9 yang bersumber di zona megathrust selatan Jawa sudah terjadi sebanyak 8 kali, yaitu tahun 1903 (M7,9), 1921 (M7,5), 1937 (M7,2), 1981 (M7,0), 1994 (M7,6), 2006 (M7,8) dan 2009 (M7,3)," kata dia.

Baca juga: Beragam Motif di Balik Penyebaran Hoaks Vaksin Covid

Sementara itu, lanjut Setyoajie, gempa dahsyat dengan magnitudo 8,0 atau lebih besar yang bersumber di zona megathrust selatan Jawa sudah terjadi 3 kali, yaitu tahun 1780 (M8,5), 1859 (M8,5), dan 1943 (M8,1).

Lebih lanjut, Setyoajie menegaskan belum ada teknologi dan alat yang bisa mendeteksi gempa tektonik secara akurat di belahan bumi manapun.

"Namun demikian perlu kajian lebih lanjut terkait periode ulang gempa," tandasnya.

Baca juga: Sejarah Hari Ini: 27 Januari 1888 National Geographic Didirikan

Dia menerangkan di daratan Jawa Tengah saat ini ada 7 sesar aktif. Sesar tersebut yaitu Sesar Baribis-Kendeng, Ungaran 1, Ungaran 2, Pati/Lasem, Muria, Ajibarang, Merapi-Merbabu.

"Secara seismotektonik daerah Jawa Tengah itu daerah aktif gempa walaupun karakteristiknya agak berbeda dibanding daerah lain. Bila kita berpatokan kepada peta BMKG ada 7 sesar aktif teridentifikasi melintang di daratan Jawa Tengah," ujarnya.

Ia juga menjelaskan pada bulan Januari 2021 ini sudah terjadi 22 kali gempa bumi dan yang bisa dirasakan getarannya ada 2 kali. Sedangkan sebelumnya, Desember 2020 ternyata ada 54 gempa bumi dan 4 di antaranya dirasakan.

"14 Januari kemarin di Purwokerto dirasakan gempa, dipicunya karena apa masih kajian. Kalau lokasi episentrum ada di tenggara sesar Ajibarang," katanya.

Hoaks Seputar Gempa

Setyoajie mengimbau agar tidak termakan hoaks soal informasi gempa karena seperti yang dikatakannya, saat ini belum ada pendeteksi gempa tektonik yang akurat.

"Jangan mudah mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya, check dan re-check info tersebut, kalau perlu tanyakan langsung ke BMKG, sebagai institusi resmi yang bertanggungjawab terkait informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami di Indonesia," jelasnya dilansir detik.com.

Baca juga: Adu Banteng Xenia VS Honda Beat Di Nguter Sukoharjo, Motor Masuk Parit

Maka saat ini yang perlu dilakukan masyarakat yaitu memahami konsep evakuasi mandiri ketika gempa bumi terjadi. Termasuk memahami informasi yang disampaikan oleh BMKG atau pemerintah ketika terjadi bencana.

"Yang perlu dilakukan masyarakat dalam rangka memitigasi dampak akibat dari gempa bumi adalah dengan memahami konsep evakuasi mandiri serta bagaimana menelaah informasi yang disampaikan oleh BMKG ataupun institusi terkait atau Pemda," ujarnya.

Share
Dipublikasikan oleh
Rohmah Ermawati