Tutup Iklan
Bachtiar Effendi menunjukan bluder cinta di rumah produksi Jl. Pulang Geni No. 13, Kelurahan Josenan, Taman, Kota Madiun, Selasa (21/5/2019). (Madiunpos.com-Abdul Jalil)

Solopos.com, MADIUN -- Siapa yang tidak kenal roti bluder dan pecel? Kedua makanan itu selama ini diidentikkan sebagai makanan khas Madiun. Tapi bagaimana kalau kedua makanan itu dijadikan satu sajian unik bernama bluder pecel. Bagaimana ya rasanya?

Salah satu warga di Kota Madiun mengkreasikan dua makanan khas itu menjadi satu. Ia adalah Bachtiar Effendi, 45. Bachtiar memberikan brand untuk produk bludernya dengan nama Bluder Cinta.

Awalnya, Bachtiar tidak memiliki basic masak memasak atau bergelut di dunia kuliner. Pria asal Banyuwangi ini semula bekerja sebagai kolektor leasing. Namun, karena berbagai hal akhirnya ia resign dari tempat kerjanya.

Hingga akhirnya Bachtiar memiliki ide untuk membuat roti bluder. Ia melihat bisnis roti bluder masih berpeluang lebar. Itu terlihat dari salah satu toko roti bluder terkenal di Madiun yang terus menerus kebanjiran order.

Berbekal dari jiwa nekatnya, Bachtiar pun mulai uji coba membuat roti bluder. Beberapa kali mencoba selalu gagal. Terkadang adonannya salah, kadang juga rotinya tidak mengembang, dan kesalahan teknis lainnya. Hingga akhirnya ia berhasil membuat adonan yang pas dan roti bluder buatannya siap konsumsi.

"Saat coba-coba itu saya belum punya oven. Jadi oven pun saya pinjem," kata dia saat ditemui Madiunpos.com di rumah produksinya di Jl. Pulang Geni No. 13, Kelurahan Josenan, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Selasa (21/5/2019).

Setelah berhasil membuat roti, Bachtiar tak langsung menjualnya. Ia justru membagikannya kepada tetangga dan teman untuk merasakan buah kreasinya. Respons teman terhadap roti bluder buatannya positif dan membuat semangatnya semakin menjadi-jadi.

Dia pun mulai membuka order melalui laman pribadi sosial medianya. Ternyata responsnya pun positif. Order demi order pun dilayani. Dari mulai hanya puluhan buah per hari, kini menjadi 250 buah per hari.

Menurutnya itu menjadi respons positif dari masyarakat terhadap produknya. Ia mengaku baru berani menjual bluder pecel ini pada Februari 2019 dan saat ini produksi per hari sudah mencapai 250 buah.

"Untuk produksi saya hanya dibantu istri dan anak. Salah satu bagian paling sulit yaitu pada saat membungkus bluder. Untuk proses olahan sudah lancar," katanya.

Bachtiar menceritakan keinginannya untuk membuat bluder dengan isian sambal pecel karena ingin mengangkat kuliner asli Madiun. Untuk sambal pecelnya, ia bekerjasama dengan pelaku UMKM pecel yang banyak di Madiun.

Tidak hanya rasa pecel saja. Ada beragam isian rasa di bluder produknya seperti stroberi, cokelat, kismis, keju, markisa, dan lemon.

Soal harga, kata dia, jauh lebih murah dibandingkan dengan harga roti bluder yang ada. Ia hanya menjual satu roti bluder Rp5.000.

Menurtnya sosial media sangat membantunya dalam mempromosikan produk roti bludernya. Untuk pasar yang disasar yaitu kalangan menengah ke bawah. Roti bluder ini cocok untuk dijadikan oleh-oleh.

"Sekarang saya juga banyak pesanan untuk suvenir pernikahan dan takjil berbuka puasa. Saya menyediakan kemasan isi satu. Jadi lebih praktis," ujarnya.

Menjelang Lebaran, Bachtiar mengaku pesanan roti bludernya sangat banyak. Ia bersyukur atas respon positif masyarakat yang menerima produknya. 

Silakan http://madiun.solopos.com/">KLIK dan https://www.facebook.com/madiunpos/">LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya 

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten