Harga menu di Kedai Bakso Kejujuran Solo. (Istimewa)

Solopos.com, SOLO – Waktu menunjukan pukul 12.00 WIB saat Artanto, 48, bergegas menuju sebuah rumah kontrakan yang disulap menjadi warung bakso di Jl. Kahuripan No.81, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Senin (2/12/2019). Sudah sepekan terakhir mantan pebisnis mebel itu membuka warung bakso bersama rekan semasa kuliahnya di Malang, Jawa Timur, Widodo.

Dengan cekatan Artanto bersama seorang pegawainya menata bakso, tahu, dan mi di sebuah gerobak yang berada di bagian depan warung. Tak perlu waktu lama, seluruh keperluan berdagangnya sudah selesai. Ia tampak sibuk dengan handphone-nya mengurusi bisnis peternakan kucingnya.

Selang beberapa saat kemudian dua orang perempuan datang ke warung berukuran sekitar 50 meter persegi itu. Melihat dua pengunjung warungnya tampak sedikit kebingungan, Artanto bergegas menghampiri dan mempersilakan pengunjung mengambil sendiri bakso, tahu, dengan lauknya.

Sekitar lima menit kemudian, seseorang kembali masuk ke dalam warung dengan membawa sebuah wadah. Ia langsung mengambil beberapa bakso dan menyerahkan uang Rp20.000 pada Artanto yang membalas dengan ucapan terima kasih.

Kedai Bakso Kejujuran di Banjarsari Solo: Ambil, Hitung, dan Bayar Sendiri Makananmu

Tak jauh berbeda dengan warung bakso lainnya, warung milik Artanto diisi meja dan ruangan kecil untuk lesehan. Di setiap meja terdapat berbagai pelengkap bakso seperti saus dan kecap. Hanya saja, di setiap tembok warung terdapat berbagai gambar MMT berupa daftar harga.

Di sudut lainnya terdapat tulisan penjelasan menu pelengkap bakso seperti mi kuning Rp1.000, tahu putih Rp1.000, dan pangsit Rp1.000. Sedangkan semua minuman harganya sama, yakni Rp3.000. Tulisan daftar menu itu berjajar dengan foto anak-anak yang sedang berwisata bertuliskan Moglenx Community.

Artanto dan Widodo merupakan anggota dari Moglenx Community, komunitas yang bergerak di bidang sosial. Kegiatannya mengajak anak-anak panti asuhan di Soloraya berwisata. Mengajak wisata puluhan anak-anak jelas memerlukan biaya yang cukup besar.

Iuran rutin para anggota dirasa kurang memungkinkan. Berbekal pengalaman Widodo berjualan bakso di Jakarta pada 2008 lalu, dua sejoli itu sepakat merintis usaha warung bakso untuk membiayai kegiatan di Moglenx Community. Meskipun Widodo hanya berjualan selama satu tahun, keduanya optimistis usahanya akan berhasil.

Berita Terpopuler: Ada Kedai Bakso Kejujuran di Banjarsari Solo

Berbekal cerita pahit, Artanto, yang pernah ditipu rekan-rekannya hingga miliaran rupiah, ia memilih mengonsep warung baksonya sebagai Bakso Kejujuran. Dengan slogan ambil sendiri, hitung sendiri, dan bayar sendiri, Artanto mengonsep warung layakanya warung makan prasmanan.

Hanya saja pemilik warung tidak akan menghitung makanan para pengunjung. Kasir warung hanya bertugas menerima uang dari pelanggan. Apabila ada uang kembalian, kasir akan memberikan sesuai yang diminta pelanggan.

“Kalau berjualan tidak mengambil keuntungan itu bohong. Saya tetap mengambil untung dari berjualan di Bakso Kejujuran. Hanya saja lebih dari setengah keuntungan saya salurkan untuk anak-anak panti asuhan,” ujar Artanto saat berbincang dengan Solopos.com, Senin siang.

Artanto mengaku sempat ada keraguan membuka warung bakso dengan konsep kejujuran. Namun, keyakinan Artanto bahwa di Kota Solo masih banyak orang jujur jadi pedoman. Hasilnya selama tujuh hari berjualan, pendapatan warungnya selalu sama dengan bakso yang terjual.

Sementara itu, Widodo, memprediksi di awal berjualan hanya laku sekitar 15 mangkok. Ternyata, hasilnya jauh dari prediksi awal, dalam sehari 60 mangkok habis terjual. Bahkan, baru sepekan berjualan sudah ada tawaran franchise senilai puluhan juta untuk Bakso Kejujuran, namun ditolak.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten