Ilustrasi digital printing (Burhan Aris Nugraha/JIBI/Solopos)

Bisnis fashion semakin kental teknologi, termasuk digital printing yang belakangan menjadi tren. Tren itu diprediksi tampak dalam Apparel Production Expo 2015, Maret mendatang.

Solopos.com, SOLO — Teknik penyablonan di bisnis fashion terus berkembang. Beberapa tahun terakhir, digital printing for textile berkembang pesat seiring dengan tuntutan dan perkembangan industri tekstil.

Chef Executive Officer More Media Kreasi, Aulia Sunhandhyka, menuturkan teknik digital printing biasanya digunakan pada media kertas. Namun saat ini digital printing telah bergeser juga ke produk tekstil. Seperti halnya di Cina dan Amerika Serikat, digital printing for textile ini telah menjadi tren.

Tren digital printing diusung pada pameran Indonesia Apparel Production Expo 2015 yang gelar 5-7 Maret 2015 mendatang di Solo. Berbagai principal produsen digital printing for textile dari berbagai negara berpartisipasi dalam pameran itu.

Dia menjelaskan ada tiga kategori digital printing untuk produk tekstil, yakni sublimasi, direct to textile, dan direct to garment. Ketiga jenis digital printing for textile itu diproyeksikan tampil dalam Apparel Production Expo 2015.

“Akan ada sekitar 23 principal dari berbagai negara yang ikut dengan bermacam produk yang ditawarkan, tidak hanya digital printing for textile tapi juga mesin jahit dan mesin bordir yang tidak hanya untuk industri besar tapi juga home industry,” jelasnya saat ditemui wartawan seusai technical meeting pelaksanaan pameran Apparel Production Expo 2015 itu di Solo Bistro, Solo, Rabu (18/2/2015).

3 Kota Saja
Dia menyampaikan pelaksanaan pameran menurut rencana diadakan di tiga kota besar di Indonesia, yakni Solo, Surabaya, dan Bandung. Solo dipilih sebagai kota pertama karena potensi industri garmennya yang besar. Peluang industri ini di Kota Bengawan juga cukup menggairahkan karena jumlah tenaga keja yang banyak dan upah minimum kota (UMK) yang murah.

Selain itu, jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta juga menjadi peluang karena selama ini industri tekstil dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Menghadapi persaingan menuju pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Aulia menuturkan desain yang dimiliki Indonesia lebih baik. Namun diakuinya kebijakan di Tanah Air belum ramah bagi pengusaha.

Oleh karena itu, melihat potensi yang ada pihaknya optimistis pameran Apparel Production Expo kali ini mampu mendatangkan lebih banyak pengunjung. Dia menuturkan pameran yang dilaksanakan tahun lalu berhasil menyedot 5.000 pengunjung. Tahun ini jumlah pengunjung ditarget mencapai 10.000 orang.

Dia menambahkan target besar Apparel Production Expo 2015 itu sejalan dengan terus berkembangnya industri tekstil di Solo. Beberapa perusahaan besar bahkan sedang berancang-ancang melakukan peningkatan kapasitas produksi. “Tidak ada target transaksi pada pameran kali ini, karena berjualan bukan satu-satunya tujuan utama tapi juga ada edukasi. Hal tersebut terutama untuk mesin-mesin baru yang sebelumnya belum diketahui oleh masyarakat. Biasanya transaksi akan ada setelah pameran,” ujarnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten