Bisa Bikin Agresif, Ini Dampak Buruk Film Horor Bagi Anak
Film horor memiliki dampak buruk bagi anak-anak (ilustrasi/freepik)

Solopos.com, SOLO—Belum lama ini kabar menghebohkan datang dari Sawah Besar, Jakarta Pusat tentang ABG perempuan NF, 15, yang tega menghabisi bocah tetangganya karena terpengaruh film fiksi horor.  Pembunuhan itu dilakukan di rumah pelaku, ketika korban sedang bermain dengan adik pelaku. Seketika itu, pelaku punya keinginan untuk membunuh korban.

Korban lalu diajak ke kamar mandi dengan alasan akan mengambil mainan. Pelaku kemudian menenggelamkan korban ke dalam bak mandi. Pembunuhan itu terjadi pada Kamis (5/3/2020) sore. Saat itu, di rumah pelaku tidak ada orang tua pelaku, karena sedang menjual gorengan bersama ibu korban.

Pada saat itulah pelaku membunuh korban. Setelah korban meninggal, pelaku lalu membungkusnya dengan kain seprai dan menyimpannya di dalam lemari. Keesokannya, Jumat (6/3/2020) pagi, pelaku berangkat ke sekolah. Namun, di tengah jalan dia mengganti seragamnya lalu pergi ke Polsek Tamansari.

Dorongan untuk Membunuh

Di kantor Polsek Tamansari, dia membuat pengakuan telah membunuh korban. Polsek Tamansari kemudian berkoordinasi dengan Polsek Sawah Besar dan langsung melakukan olah TKP. "Dia [pelaku] sering menonton film horor Chuky, dia senang menonton film horor itu memang hobinya," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus kepada wartawan di Polres Jakpus, Kemayoran, Jakarta Puat, Sabtu (7/3/2020) seperti dilansir Liputan6.com

Film 'Chucky' adalah film ber-genre horor. Film tersebut menggambarkan karakter boneka mainan anak 'Chucky' yang hidup dan membunuh. Yusri mengatakan, pelaku tidak memiliki motif untuk membunuh korban. Namun, pelaku mengaku memiliki dorongan kuat untuk membunuh korban saat itu. "Pengakuan yang bersangkutan dia yang membunuh karena ada dorongan dalam hati," kata Yusri.

 

Slender Man

Selain Chucky, remaja yang bunuh bocah itu begitu menggemari film The Slender Man. Slender Man sendiri merupakan karakter fiksi yang digambarkan seperti pria tipis tinggi dengan tanpa wajah, mempunyai tentakel dan mengenakan baju hitam dengan dasi merah.

Slender Man umumnya dikatakan suka menculik atau melukai orang, terutama anak-anak. "Dia menyukai Slender Man sampai dibuatkan gambarnya," kata Yusri. Yusri pun menunjuk gambar Slender Man buah karya sang pelaku. Gambar yang digores di kertas putih itu menunjukkan Slender Man dengan corak hitam putih beserta tentakelnya.

Yusri pun menunjukkan secarik kertas yang berisikan tulisan "Mau Siksa Baby? Dengan senang hati (atau) Gak Tega". Tulisan tersebut didesain seperti sebuah kuesioner yang entah diajukan kepada siapa. "Dia nulis kayak tes psikologi, 'Mau Bunuh Baby? Dengan Senang Hati; Gak Tega,'," jelas Yusri soal remaja yang bunuh bocah di Jakpus itu.

Selain itu, Yusri melanjutkan pihaknya menemukan beberapa gambar lain, termasuk gambar wanita menangis. "Anak ini cukup pintar menggambar," ucapnya.

Yang lebih mencengangkan, dalam salah satu gambar pelaku menunjukkan seorang perempuan diikat. Dan gambar ini cocok dengan apa yang dilakukan NF terhadap korbannya. Polisi masih mendalami apakah ia merencanakan pembunuhannya sebagaimana yang telah ia gambar.

Menuangkan Emosi

Menurut Yusri, pelaku juga menuangkan luapan emosinya di kertas dalam sebuah catatan. "Selain itu pula ada rasa kekecewaan kepada keluarga dan sebagiannya dituliskan dalam papan tulis 'Papan Curhat'," ujarnya.

Ada juga gambar yang menurut polisi cukup unik, yakni sebuah gambar yang menunjukkan sepasang mata seakan tengah mengintip dari sebuah celah yang berbentuk persegi empat. "Ini kami kumpulkan guna nanti menjadi bahan pertimbangan yang mungkin akan membuat terang perkara ini," ujarnya.

Yang lebih miris lagi, pelaku merasa tak menyesal melakukan perbuatan kejinya ini. "Dia jawab merasa puas," kata Yusri.
Menurut dia, kala diperiksa, NF tidak menunjukkan gelagat yang aneh. Dia justru terlihat tenang menjawab beragam pertanyaan yang dilayangkan oleh penyidik.

Pasien Meninggal Di Solo Positif Corona, Ini Perintah Jokowi

Imajinasi

Psikolog Kasandra Putranto menduga pelaku memiliki imajinasi dan terobsesi dengan pembunuhan. Indikasi itu dilihat dari temuan buku catatan milik remaja yang bunuh bocah itu. Buku catatannya berisi ujaran aktivitas seksual 'bondage' dan hingga pernyataan tentang niatan membunuh. Menurut dia, dari catatan tersebut juga terlihat bahwa pelaku sudah merencanakan pembunuhan.

"Catatan dan gambar menunjukkan bahwa pelaku sudah memiliki imajinasi sebelumnya, sehingga patut diduga bahwa yang bersangkutan memiliki obsesi terhadap aktivitas membunuh dan merencanakan pembunuhan itu," ujar Kasandra, Jakarta, Sabtu seperti dilansir Liputan6.com.

Kasandra enggan mengomentari lebih jauh terkait faktor psikologis pelaku. Namun, kata dia, perilaku tersebut sangat erat kaitannya sebagai faktor pemicu. "Karena saya belum memeriksa jadi saya tidak bisa memberikan komentar banyak tentang kasus ini, hanya sebatas bahwa umumnya kasus pembunuhan sangat erat kaitannya dengan faktor psikologis pelaku, kompleksitas situasi yang menyertai serta dipengaruhi oleh faktor pemicu," ujar Kasandra.

Gangguan Kejiwaan

Sementara itu, Psikolog Anak, Seto Mulyadi atau Kak Seto memandang lemahnya peran lingkungan di tempat tinggal pelaku pembunuh anak di wilayah Jakarta Pusat. Menurut dia, tak ada peran aktif lingkungan sosial tempatnya tumbuh dan berkembang.

"Saya kira anak ini mengalami gangguan kejiwaan di mana tak ada lagi perhatian dan dukungan dari lingkungannya, jadi pelariannya ke gawai menonton tayangannya yang berpengaruh kekerasan itu," kata Kak Seto seperti dilansir Liputan6.com, Minggu (8/3/2020).

Kak Seto mengingatkan kepada orang tua agar kerap mengawasi pertumbuhan psikologis sang anak di tengah dunia yang serba terkoneksi. Melalui gawai anak dapat tumbuh positif, namun sebaliknya hal itu dapat berpengaruh buruk dan sangat berbahaya. "Ini menjadi peringatan keras kepada kita semua, karena dampaknya bisa seperti ini, kita harus instropeksi," Kak Seto menandasi.

Pengaruh Film Horor

NF yang tega menghabisi nyawa tetangga senang dengan tokoh-tokoh film horor fiksi yang tega menyakiti.  Memang film horor akan memberi dampak tersendiri disbanding genre-genre film pada umumnya. Yang jelas film horor akan membuat penontonnya ketakutan, apalagi bagi anak-anak.

Melansir Livestrong, anak kecil dan remaja juga bisa terkena efek negatif akibat menonton film horror. Meski mereka mungkin belum mengerti suatu adegan dalam film, tapi akibatnya bisa berjangka panjang. Berikut sejumlah dampak film horor bagi anak-anak dan remaja, seperti dilansir dari berbagai sumber.

Gangguan tidur

Tidak jarang sehabis menonton film horror, baik dewasa maupun anak-anak akan merasa ketakutan. Seringkali mereka membayangkan hal menyeramkan seperti hantu, bayang-bayang ketika menutup mata, bahkan mimpi buruk. Ini bukanlah masalah ringan, sebab bisa saja mereka menderita berpekan-pekan, berbulan-bulan, bahkan menahun.

Fobia dan sering cemas

Menurut teori perkembangan Swiss, Jean Piaget, perkembangan kognitif didasarkan pada skema atau cara memahami sesuatu. Ketika tumbuh dan belajar, skema mereka berubah. Banyak anak dan remaja belum siap untuk menempatkan film horor dalam perspektif, yang menyebabkan mereka gelisah atau menderita fobia. Mereka juga belum bisa membedakan antara fantasi dan kenyataan.

Kata BIN, Masa Puncak Corona Di Indonesia Hingga Bulan Ramadan

Katarsis simbolik

Meskipun tersisa risiko efek negatifnya, film horor juga memiliki peran penting dalam proses perkembangan anak. Efek jangka panjang menonton film horor bagi anak bisa berdampak pada pola pikirnya. Sebab, anak-anak masih ingin terus mengeksplorasi diri mereka terhadap apa yang ditonton.

Mereka juga terus terdorong akan rasa takutnya ke tingkatan yang lebih parah. Meskipun secara usia mereka belum mengerti, tapi berbagai adegan yang muncul bisa memengaruhinya.

Agresi dan kekerasan

Selain musik, video game, film dapat menampilkan perilaku kekerasan. Anak kecil umumnya meniru kelakuan dari yang dilihatnya. Kekerasan grafik bercampur dengan adegan dewasa juga bisa mengganggu pikiran anak. Menurut WebMD, film-film sadis berpotensi merusak kepekaan anak terhadap kekerasan di kehidupan nyata. Kelompok pengawas Common Sense Media menyarankan untuk menghindari tontonan yang sifatnya demikian sampai berusia 16 tahun.

Untuk itu, cobalah minimalkan tontonan horor pada anak dan berikan kegiatan-kegiatan yang positif. Masih banyak tontonan yang lebih bermanfaat bagi anak-anak selain film horor. Namun jika memang sudah terlanjur dan menyadari anak-anak telah terpengaruh pada film horor, sebaiknya segera hubungi terapis ahli agar masalah cepat teratasi.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom