Tutup Iklan
Bikin Terharu, Ketegaran Nenek Rehan ABK Asal Wonogiri Luar Biasa
Rehan bersama Neneknya, Sadiyem, di rumahnya, Dusun Sidorejo, Desa Setrorejo, Kecamatan Baturetno, Wonogiri, Sabtu (11/7/2020). (Solopos/M. Aris Munandar)

Solopos.com, WONOGIRI -- Nenek Rehan anak berkebutuhan khusus (ABK) asal Wonogiri, Sadiyen, 70, sungguh luar biasa. Di usia senja, Sadiyem harus merawat Rehan yang butuh perhatian ekstra.

Sebelumnya, dia kehilangan tiga anaknya dalam waktu yang tidak bersamaan. Sadiyem dan sang suami pun harus merawat dua cucu. Beruntung satu cucu mereka sudah bisa mencari nafkah sendiri.

Walau didera berbagai masalah hidup, nenek Rehan ini tetap bersemangat. Wanita berumur 70 tahun yang tinggal di Dusun SidorejoDesa Setrorejo, Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri, itu laksana buku bijak yang memberi teladan kehidupan.

Kisah Rehan, ABK Asal Wonogiri yang Bergerak dengan Badan Tengkurap

"Sekarang saya mencoba membebaskan diri dengan tidak terbebani. Apa yang sekarang terjadi diterima dan disyukuri," ujar dia saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (11/7/2020),

Sadiyem sudah kehilangan tiga anaknya. Anak pertamanya, seorang laki-laki, meninggal dunia dua tahun lalu. Anak keduanya perempuan meninggal 25 tahun lalu. Sedangkan anak ketiga perempuan, yang merupakan ibu Rehan, juga telah meninggal dunia lima tahun lalu.

Dua anaknya meninggal karena terserang penyakit, namun jenisnya berbeda. Meski demikian, nenek Rehan itu tetap bersyukur karena saat ini ia masih bisa tinggal bersama kedua cucunya dan sang suami.

Rusak Parah, Jalur Evakuasi Merapi di Klaten Dibenahi Pakai Dana Ini

Bekerja Sebagai Petani

Cucu pertama, seorang laki-laki yang sudak menginjak dewasa. Ia merupakan cucu dari anak keduanya. Anak keduanya meninggal ketika sang cucu tersebut baru umur dua tahun. Kini cucunya itu bekerja sebagai buruh dan petani.

Cucu kedua yakni Rehan,14. Rehan merupakan ABK yang hanya bisa tengkurap. Ia tidak bisa duduk, terlebih berjalan. Jika ingin bergerak atau berpindah tempat, ia mengesotkan badannya sambil tengkurap.

Nenek Rehan dan suaminya sehari-hari bekerja sebagai petani. Namun, dirinya tidak bisa maksimal mengerjakan sawah karena harus bergantian dengan cucu pertamanya untuk mengawasi Rehan.

10 Perguruan Pencak Silat di Sragen Kembali Dikumpulkan, Ada Perusakan Tugu Lagi?

"Kadang sawahnya tidak bisa ditanami. Karena dekat dengan perairan sehingga kerap terkena banjir," kisah dia.

Dia mengaku menerima dan menikmati kehidupannya saat ini. Jika terlalu dipikir dan merasa terbebani Sadiyem khawatir malah mengganggu kesehatannya.

Saat anak keduanya meninggal dunia, ia sempat meratapi kepergiannya sampai sakit selama satu tahun. Dengan ikhlas dan melepaskan diri dari beban hidup, nenek Rehan itu kini bisa menikmati hidupnya dan selalu bersyukur.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom

Pasang Baliho